Berita

Ekonom muda Dipo Satria Ramli. (Foto: Tangkapan Layar YouTube)

Politik

Dipo Satria Ramli Ingatkan Purbaya Masalah Lebih Besar dari Restitusi Tambang Rp25 Triliun

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 22:38 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Ekonom muda Dipo Satria Ramli menilai tepat sorotan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terhadap praktik restitusi pajak perusahaan tambang. Dipo menilai langkah Purbaya membuka tabir persoalan besar yang selama ini luput dari perhatian publik dan berpotensi merugikan negara dalam skala masif.

"Menurut saya bagus sekali Pak Purbaya menyentil isu ini. Jadi dia komplain kok ada restitusi pajak ke pengusaha tambang, totalnya mungkin sekitar Rp25 triliun di 2025, dan kebetulan (APBN) kita sedang bermasalah. Jadi dia benar-benar memantau setiap celah (pendapatan) yang bisa diperbaiki," kata dia dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Selasa, 6 Januari 2026.

Menurut Dipo, nilai restitusi pajak sektor tambang bukanlah angka kecil, terlebih di tengah kondisi fiskal negara yang tengah menghadapi tekanan defisit anggaran. Karena itu wajar jika Kementerian Keuangan bersikap sangat teliti dan kritis terhadap setiap celah kebocoran penerimaan negara.


"Tapi (restitusi) Rp25 triliun menurut saya hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya. Ada yang lebih besar," ujar Dipo, kandidat doktor ekonomi Universitas Indonesia.

Dipo menjelaskan akar persoalan restitusi pajak tambang bermula dari perubahan status batu bara dalam rezim pajak setelah terbitnya Undang-Undang Cipta Kerja. Sebelum 2020, batu bara termasuk barang non barang kena pajak (BKP). Namun setelah direvisi menjadi BKP, perusahaan tambang berhak mengajukan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Skema tersebut membuka ruang permainan. PPN masukan dari pembelian solar, alat berat, dan kebutuhan operasional lainnya kerap lebih besar dibanding PPN keluaran dari penjualan batu bara.

"PPN masukan ini bisa saja berasal dari transaksi antarkelompok usaha atau perusahaan afiliasi. Di situlah modusnya," ungkap Dipo.

Ia menilai kondisi tersebut menciptakan persoalan besar. Di satu sisi, perusahaan tambang membayar royalti, PPh, dan PPN, namun pada akhirnya negara justru menyetor kembali dana triliunan rupiah melalui restitusi.

Padahal, lanjut Dipo, Indonesia dalam beberapa tahun terakhir justru menjadi pengekspor batu bara terbesar di dunia, melampaui Australia, Rusia, dan Amerika Serikat. Meski kualitas batu bara Indonesia relatif lebih rendah, volume ekspor yang sangat besar seharusnya memberi keuntungan maksimal bagi negara.

"Seolah-olah negara mensubsidi orang-orang yang sudah sangat kaya," tegasnya.

Lebih jauh, Dipo menilai persoalan utama justru terletak pada desain Omnibus Law dan Undang-Undang Minerba yang menjadi “daging” dari UU Cipta Kerja. Ia menyoroti perpanjangan izin sejumlah perusahaan tambang besar yang kontraknya seharusnya berakhir pada periode 2020?"2025, namun justru diperpanjang secara kilat.

Bahkan, Dipo menyinggung satu perusahaan tambang yang izinnya habis pada 1 November 2020 dan langsung diperpanjang sehari setelah UU Cipta Kerja disahkan pada 2 November 2020.

“Menurut saya Indonesia sangat rugi. Jadi Pak Purbaya jangan hanya fokus di restitusi pajak tetapi lebih baik Undang Undang Cipta Kerja dibatalkan saja. Kenapa? Karena masih ada kontrak karya generasi selanjutnya. Diperpanjang lagi diperpanjang lagi. Sebelum diperpanjang kita harus koreksi saat ini," tukasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya