Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Sidang Ijazah Jokowi Ditunda Lagi, Bukti Penggugat Belum Valid

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 16:53 WIB

YANG bosan drama ijazah Joko Widodo alias Jokowi, diskip aja tulisan ini. 

Saya tulis karena ada cerita baru. Bukan debat urat leher Roy Suryo cs vs Termul. Ini sidang perdata yang harus ditunda lagi, karena bukti penggugat belum valid. 

Negeri ini memang tidak pernah kehabisan hiburan. Saat sinetron TV kalah rating, pengadilan naik kelas jadi panggung utama. 


Hari ini, Selasa 6 Januari 2026, episode terbaru serial panjang Citizen Lawsuit. "Ijazah yang Tak Pernah Lelah Dipertanyakan" kembali tayang. Agendanya serius, pembuktian. Hasilnya santai, ditunda lagi.

Penggugat datang membawa 33 bukti. Tiga puluh tiga, wak. Bukan angka sembarangan. Angka sakral. Tapi apa daya, langit keadilan rupanya masih adem. 

Bukti-bukti itu dinilai belum cukup matang. Ada yang disebut tidak valid. Ada yang diragukan. Mungkin karena formatnya kurang estetik, atau karena nomor ijazahnya terasa seperti password Wi-Fi tetangga, mirip, tapi salah satu hurufnya kapital.

Muhammad Taufiq, sang penggugat, tampil dengan aura mahasiswa tingkat akhir. Penuh keyakinan, penuh map, penuh harapan. 

Ia menyerahkan bukti-bukti itu seolah berkata, “Pak Hakim, ini semua saya kumpulkan dengan niat dan fotokopi.” 

Namun Ketua Majelis Hakim Achmad Satibi, tenang seperti wasit Liga Tarkam, memutuskan, sidang ditunda sampai 13 Januari 2026. 

Alasannya klasik, abadi, dan selalu relevan, bukti belum lengkap dan perlu diperbaiki. Kalimat sederhana yang membuat tukang fotokopi Solo senyum kecil.

Jokowi? Seperti biasa, tidak hadir. Memang tidak perlu hadir. Ini sidang perdata, bukan reuni akbar alumni Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Cukup kuasa hukum yang datang, membawa pasal-pasal, senyum tipis, dan keyakinan bahwa republik ini tidak runtuh hanya karena map plastik bening belum muncul.

Tim kuasa hukum Jokowi pun santai. Mereka tidak perlu teriak. Cukup bilang beberapa bukti tidak layak dipertimbangkan. 

Publik lalu kembali bertanya-tanya, ini pengadilan atau lomba cocok-cocokan nomor ijazah? Yang satu bilang A, yang lain bilang B, dan rakyat cuma kebagian notifikasi berita.

Pihak penggugat tentu tak mau kalah panggung. Penundaan ini disebut sebagai “ujian integritas pengadilan.” Kalimat tinggi, maknanya fleksibel. Bisa doa, bisa sindiran. 

Mereka berjanji akan memperbaiki bukti. Mungkin dengan konsultan arsip, mungkin dengan ziarah ke gudang dokumen tua, mungkin juga dengan harapan, kali ini jangan salah font.

Publik diajak mengawal. Karena di negeri +62, mengawal perkara lebih seru dari mengawal harga cabai. Apalagi kalau menyangkut ijazah Presiden. Benda tipis, tapi daya ledaknya panjang. Dari warung kopi sampai grup WA keluarga.

Tanggal 13 Januari nanti, episode baru tayang. Bisa jadi bukti diterima. Bisa jadi gugatan gugur. Bisa juga muncul plot twist, sidang kembali ditunda dengan alasan yang sama, hanya redaksinya diganti. Sementara itu, rakyat tetap setia menonton. Gratis. Tanpa tiket. Tanpa subtitle.

Satu pertanyaan masih menggantung di udara, akankah suatu hari Jokowi muncul membawa ijazah asli dalam map plastik bening, seperti legenda urban yang diceritakan turun-temurun? Atau semua ini berakhir dengan mantra pamungkas pengadilan, “Gugatan ditolak karena tidak cukup bukti”?

Kita tunggu saja, wak. Sambil ngopi, sambil nyengir. Sekali-sekali, cek ijazah sendiri. Di negeri ini, siapa tahu, besok giliran kita yang diuji.

Ke Solo pagi naik kereta,
Singgah sebentar beli serabi.
33 bukti dibawa ke meja,
Hakim berkata, ditunda lagi.

Map bening dicari ke pasar Klewer,
Ketemu batik, ijazah entah di mana.
Sidang berjalan pelan muter-muter,
Rakyat nonton sambil ngopi tertawa.


Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya