Berita

Presiden RI, Prabowo Subianto. (Foto: Setneg)

Politik

Swasembada Beras Harus Sejahterakan Petani

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 15:06 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Apresiasi  tinggi diberikan Anggota Komisi IV dari Fraksi PKB DPR RI Usman Husin terhadap capaian swasembada beras pemerintahan Prabowo Subianto. 

“Ini adalah hasil dari kerja keras banyak pihak berkat dukungan Presiden Prabowo Subianto. Namun, keberhasilan ini tidak boleh berhenti pada angka produksi semata. Negara wajib memastikan petani hidup sejahtera,” ujar Usman Husin di Jakarta, Selasa, 6 Januari 2026.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia resmi mencapai swasembada beras. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam ketahanan pangan nasional. Swasembada beras ini salah satunya ditandai dengan tidak adanya impor beras sepanjang tahun 2025 lalu. 


Usman menjelaskan, swasembada beras secara konsep menandakan bahwa kebutuhan beras domestik telah terpenuhi tanpa ketergantungan pada impor. 

Dengan demikian, Indonesia seharusnya lebih terlindungi dari gejolak harga pangan global, krisis geopolitik, maupun gangguan rantai pasok internasional. 

“Selain itu, swasembada juga membuka peluang penguatan sektor pertanian nasional melalui perbaikan infrastruktur irigasi, distribusi pupuk, hingga pemanfaatan teknologi pertanian modern,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian swasembada tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Berdasarkan berbagai data, sebagian besar petani Indonesia masih berada pada kelompok pendapatan rendah, dengan kepemilikan lahan sempit dan biaya produksi yang terus meningkat. 

Harga gabah di tingkat petani kerap tidak stabil dan sering kali tidak mencerminkan biaya produksi yang mereka keluarkan.

“Jika negara sudah swasembada, tetapi petaninya tetap miskin, maka ada yang keliru dalam tata kelola pangan kita. Swasembada harus dimaknai sebagai jaminan bahwa hasil panen petani terserap secara maksimal dengan harga yang adil, bukan justru menekan petani di hulu,” tegasnya.

Legislator asal Nusa tenggara Timur (NTT) ini menilai, tantangan utama pasca-swasembada adalah memastikan keberpihakan kebijakan pada petani, mulai dari penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) yang realistis, penguatan peran Bulog dalam menyerap gabah, hingga perlindungan petani dari praktik tengkulak dan permainan pasar. Tanpa intervensi negara yang kuat, surplus produksi justru berpotensi menurunkan harga di tingkat petani.

Usman juga meminta pemerintah memastikan tidak ada impor beras, baik langsung maupun terselubung, atas nama apa pun selama stok dalam negeri mencukupi. Ia menekankan bahwa lemahnya pengawasan impor dapat merusak harga pasar dan memukul petani lokal dan menciderai target swasembada yang telah tercapai.  

“Ke depan, pemerintah harus menjadikan kesejahteraan petani sebagai salah satu indikator keberhasilan swasembada pangan. Bukan hanya soal cukup atau tidaknya beras, tetapi apakah petani bisa hidup layak, menyekolahkan anaknya, dan berproduksi secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya