Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Keonaran Dunia: Demokrasi, Riba, dan Energi

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 06:25 WIB

KEONARAN dunia akibat Invasi AS ke Venezuela atas nama demokrasi dan penangkapan Maduro atas tuduhan narkoba mengungkap beberapa hal. Pertama, seperti sinyalemen Bloom dan Chomsky, demokrasi memang ekspor AS yang paling mematikan, sekaligus operasi bendera palsu yang paling mengelabui terutama bagi bangsa yang lama dijajah seperti Indonesia yang rakyatnya merindukan kebebasan. 

Demokrasi adalah operasi bendera palsu untuk menutupi proses perampokan yang tidak berhenti sejak proklamasi kemerdekaan hingga hari ini. Riba sebagai korupsi sistemik yang paling merusak dan memperbudak adalah uang kertas yang dicetak out of thin air tanpa pijakan emas. Bukan bunga pinjaman. Sekarang uang elektronik. 

James Wharram suatu ketika mengatakan bahwa korupsi orang Indonesia tergolong amatiran dibanding perampokan kekayaan Indonesia melalui sistem keuangan global ribawi ini. Dedolarisasi perdagangan migas oleh Maduro adalah alasan tersembunyi invasi AS yang sesungguhnya


Sejak Kissinger bersepakat dengan Raja Faisal pada paruh pertama dekade 1970-an untuk memperdagangkan minyak dalam US Dollar, kekuatan AS sebagai superpower bertumpu pada US Dollar. Apapun di bawah matahari, terutama migas, bisa dibeli AS dengan harga semurah kertas dan tinta percetakan The Fed. Kita harus mengeruk laut, menebang hutan, menambang nikel dan emas hanya untuk dibayar dengan kertas. Kissinger tahu bahwa kekayaan datang dari trade and commerce, termasuk perdagangan senjata.  Keadikuasaan AS dibangun di atas tipu daya yang sopan dan elegan ini. 

Kedua, seperti kata Gandhi, dunia cukup untuk semua, tapi tidak cukup untuk satu manusia yang serakah. Saat ini konsumsi energi perkapita AS sudah mencapai 10 kilo liter setara minyak per tahun. Gaya hidup  AS yang energy-obese ini hampir 5 kali lipat kita, sekitar 2 kali lipat Eropa dan Jepang. PLTN mereka tidak juga cukup. Untuk meniru gaya hidup tinggi-energi ini, umat manusia membutuhkan 4 bumi. Begitulah gaya hidup tinggi-energi AS itu meniscayakan riba melalui US Dolar dalam trade and commerce of oil and gas, serta invasi militer jika terpaksa seperti yang pernah terjadi di Irak dan Libya. Itulah yang terjadi atas Venezuela melalui invasi presisi sekitar 5 jam berbasis kecanggihan teknologi beberapa hari lalu. 

Ketiga, itulah geopolitik global yang kini dihadapi Presiden Prabowo. Musuh bangsa ini adalah demokrasi ala AS yang dipuja kaum sekuler radikal berkedok reformasi mbelgedhes. Hiruk pikuk pesta demokrasi pilpres dan pilkada langsung, keterbelahan warga menjadi cebong dan kampret, serta ijazah palsu adalah buah UUD 10/8/2002. Kita melupakan riba sebagai instrumen perampokan kekayaan bangsa ini secara terstruktur, sistemik dan masif sejak kedaulatan keuangan kita dibegal IMF melalui KMB 1949 di Den Haag. 

Keempat, perampokan TSM ala serakahnomics global ini berbahaya karena menyebabkan ketidakmampuan bangsa ini mewujudkan amanah UUD 18/8/1945: melindungi segenap bangsa dan tanah air Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut serta membangun ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan abadi dan keadilan sosial. Hal ini menyebabkan kita tidak bisa berbuat banyak menghentikan keonaran dunia akibat ulah AS ini. Para ulama dan cendekiawan lurus negarawan pendiri bangsa telah menyusun UUD 18/8/1945 sebagai pernyataan perang melawan nekolim, sekaligus strategi untuk memenangkan perang tersebut. Apakah kita masih kesengsem demokrasi mbelgedhes ala Barat, yang hanya menghasilkan korporatokrasi dan duitokrasi ini?

Prof. Daniel Mohammad Rosyid
Guru Besar Teknik Kelautan ITS

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya