Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Pemilu 2024 Akumulasi Kerusakan Demokrasi

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 01:57 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pemilu 2024 menjadi titik kulminasi dari akumulasi kerusakan demokrasi yang selama ini dibiarkan berlarut-larut. 

Hal itu disampaikan peneliti senior Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Prof. Siti Zuhro, dalam webinar bertajuk "Evaluasi Pemerintahan Prabowo Subianto 2025: Sosial, Politik, Ekonomi, dan Hukum" yang digelar secara daring, Senin, 5 Januari 2026.

Menurut Siti, salah satu persoalan paling mendasar adalah lemahnya pendidikan pemilih (voter education), yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama penyelenggara pemilu dan negara.


“Ini yang pekerjaan siapa, menjadi tugas siapa sebetulnya melakukan voter education itu? Lah ini yang juga masih pertanyaan besar,” tegas Siti.

Ia mengungkapkan, pada Pemilu Serentak 2024 lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengelola anggaran yang sangat besar. Namun, anggaran tersebut tidak dioptimalkan untuk melakukan pendidikan pemilih secara masif dan terstruktur dari pusat hingga daerah.

Situ menegaskan bahwa pihaknya sudah mendorong agar dilakukan sosialisasi dan voter education besar-besaran, tapi itu tidak terjadi. Akibatnya, pemilu kembali diwarnai vote buying secara masif, politisasi bansos, dan berbagai praktik menyimpang lainnya.

Siti menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi faktor pemicu (leverage factor) bagi negara untuk melakukan evaluasi kritis terhadap seluruh desain dan pelaksanaan pemilu.

“Distorsi dalam pemilu, distorsi dalam pilkada itu tidak diulang terus-menerus dan menurut saya 2024 itu sudah akumulasinya kan gitu. Maka ketika sudah sampai titik gitu ya, tertinggi ke kulminasi dari akumulasi distorsi penyimpangan, pelanggaran, semuanya, pokoknya menang dengan menghalalkan semua cara. Semua tahapan diikuti hanya prosedural, tidak substantif, tidak ada pertanggung jawaban yang kuat,” ujarnya.

Siti juga menyoroti persoalan serius pada penyelenggara pemilu dan penegakan hukum. Menurutnya, problem tersebut bukan lagi rahasia publik.

“Institusi penegak hukum yang partisan gitu ya, dan bahkan birokrasi dipolitisasi, sehingga birokrasinya juga ikut partisan kan seperti itu,” jelasnya.

Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, Siti memperingatkan Indonesia tidak akan memiliki sistem demokrasi yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan bangsa.

“Jadi kita ingin demokrasi itu dilakukan dengan sepenuh hati kita hayati, bukan sekedar kita ke TPS digiring-giring kayak bebek gitu kan, bukan, bukan. Tapi adalah kesadaran kita, mengapa saya memilih,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian besar masyarakat belum memiliki literasi politik yang memadai untuk mengenal rekam jejak dan kapasitas kandidat secara utuh. Karena itu, kebijakan pemilu tidak boleh disusun dengan asumsi bahwa semua pemilih memiliki tingkat pengetahuan politik yang sama.

“Ada yang belum dapat asupan literasi politik yang cukup. Nah ini juga belum dilakukan secara memadai. Tapi lalu kebijakan, keputusan, mekanisme, Pemilu, dan Pilkada yang kita pilih itu tanpa mempertimbangkan dampak-dampak yang sangat serius pada masyarakat. Nah ini yang tentunya menjadi satu keprihatinan kita ya. Jadi itu yang antara lain saya ingin soroti sebetulnya,” pungkas Siti.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya