Berita

Bendera Indonesia.(Foto: Istimewa)

Publika

Apakah Indonesia Bisa Jadi Negara Maju?

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 14:13 WIB

SEBELUMNYA saya sudah membahas teori  Challenge and Response dari Arnold Toynbee. 

Di akhir tulisan itu, saya menyelipkan pertanyaan, apakah Indonesia bisa memimpin peradaban dunia suatu saat nanti? Widih respons netizen, macam kerasukan makan tahu Sumedang, gurih, renyah, pedas. Sekarang saya mau melanjutkan teori itu.

Negara maju itu ibarat masakan besar. Bukan satu menu, tapi satu meja penuh hidangan yang saling melengkapi. 


Ekonomi, pendidikan, politik, teknologi, lingkungan, semuanya harus matang bareng. Tidak bisa cuma satu panci yang harum, sementara dapur lain gosong.

Coba kita lihat dapur negara maju. Secara ekonomi, mereka masak bahan berkualitas. Pendapatan per kapitanya di atas 12 ribu dolar AS per tahun. 

Artinya, rakyatnya tidak lagi sibuk cari beras, tapi mikir variasi lauk. Pertumbuhan ekonominya stabil, seperti api kecil yang konsisten, bukan kompor meledak-ledak lalu mati. 

Industri dan jasa jadi menu utama, bukan cuma bahan mentah yang dijual mentah-mentah seperti singkong tanpa diolah.

Pengangguran dijaga rendah. Semua kebagian kerja, seperti dapur profesional. Ada yang motong, ada yang masak, ada yang nyaji. Tidak ada yang cuma mondar-mandir sambil pegang HP nunggu viral.

Dari sisi sosial, negara maju itu masakannya menyehatkan. Harapan hidup di atas 75 tahun. Orang tidak takut ke rumah sakit seperti mau undian maut. 

Pendidikan pun bukan sekadar hafalan resep lama, tapi belajar mencipta menu baru. IPM di atas 0,8 itu tanda dapur berjalan baik, gizinya masuk, otaknya jalan.

Politiknya ibarat kepala dapur. Tidak harus suci, tapi tahu rasa. Korupsi mungkin masih ada, tapi tidak bikin masakan basi. 

Aturan jelas, tanggung jawab ada, dan dapur tidak ribut sendiri sampai lupa melayani tamu.

Teknologi? Ini pisau tajamnya. Negara maju tidak cuma beli alat dapur dari luar, tapi bisa menempa sendiri. 

Mereka ekspor resep, bukan cuma jadi pembeli. Lingkungan juga dijaga. Karena dapur yang kotor akan meracuni semua masakan, cepat atau lambat.

Sekarang kita tengok dapur Indonesia.

Bahan kita melimpah. Rempahnya lengkap. Pasarnya besar. Bonus demografi sudah siap seperti beras di karung. 

Tapi masalah kita klasik. Tukang masaknya sering ribut, kepala dapurnya sibuk bagi jatah, dan apinya suka tidak stabil.

Bonus demografi bisa jadi rendang empuk, bisa juga jadi nasi basi. Tergantung dimasak atau dibiarkan. 

Sumber daya alam bisa jadi hidangan bernilai tinggi, atau cuma dijual mentah seperti ikan segar yang tidak pernah jadi gulai. 

Toynbee akan bilang, di sinilah peradaban diuji. Apakah minoritas kreatif kita benar-benar memasak, atau cuma sibuk mencicipi sambil lupa mengaduk?

Pertumbuhan ekonomi lima persen itu seperti api sedang. Cukup, tapi rawan padam kalau angin global datang. 

Ketergantungan pada komoditas masih tinggi. Industrialisasi setengah matang. Lingkungan sering dikorbankan demi cepat kenyang, bukan makan sehat.

So, apakah Indonesia bisa menjadi negara maju?

Bisa. Sangat bisa. Resepnya ada. Bahannya lengkap. Tapi syaratnya satu, berhenti masak asal-asalan. 

Harus sabar, disiplin, dan konsisten. Tidak bisa tiap ganti koki, ganti resep. Tidak bisa berharap masakan matang kalau apinya cuma dinyalakan pas ada tamu.

Toynbee sudah mengingatkan, peradaban tidak mati karena kelaparan bahan, tapi karena salah mengolah. 

Kalau kita gagal, Indonesia tidak akan jatuh karena diserang bangsa lain. Kita akan jatuh karena dapurnya kacau, masakannya basi, dan kita tetap maksa menyajikannya dengan bangga.

Dalam sejarah, tidak ada yang lebih menyedihkan dari negeri kaya rempah, tapi gagal memasak masa depannya sendiri.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya