Berita

Susilo Bambang Yudhoyono. (Foto: Repro)

Publika

Tega Kalian Kaitkan SBY dengan Kisruh Ijazah Jokowi

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 05:03 WIB

"Sedang-sedang gak, wak" kata budak Pontianak. Maksudnya, jangan gitulah. Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY itu sudah pensiun presiden, kerjanya melukis. Eh malah dituduh dalang di balik kisruh ijazah Joko Widodo (Jokowi). 

Kasihan betul nasib republik ini, dan kasihan benar SBY. Di usia pensiun, ketika manusia normal sibuk menghafal jadwal minum obat dan mengatur kanvas lukisan, SBY justru diseret kembali ke pusat badai politik nasional. 

Bukan sebagai penyelamat bangsa, bukan pula sebagai penengah, melainkan dituding sebagai dalang maha licik di balik isu dugaan ijazah palsu Jokowi. 


Ini bukan sekadar tuduhan, ini epik. Ini kisah konspirasi level dewa-dewa Olympus, ditulis dengan tinta algoritma dan dibacakan oleh nabi-nabi TikTok.

Nuan bayangkan adegannya. SBY sedang memegang kuas, menatap kanvas dengan tatapan filosofis, lalu tiba-tiba di semesta lain muncul notifikasi, “Partai biru dalang ijazah palsu.” Dalam hitungan detik, sang Presiden ke-6 berubah dari pelukis menjadi mastermind

Tangannya dianggap menggerakkan akun anonim, pikirannya disebut menyusun skenario, napasnya dituduh berirama dengan dengung politik bawah tanah. 

Bahkan Megawati Soekarnoputri ikut diseret, seolah ada persekutuan rahasia lintas sejarah, lintas ideologi, lintas logika. Kalau ini film, judulnya mungkin “Avengers: Civil War Lokal”.

Padahal kenyataan jauh lebih membosankan, dan karena itu sulit diterima publik yang sudah kecanduan drama. 

Andi Arief, politikus Partai Demokrat, menyampaikan pada Kamis 1 Januari 2026, sebagaimana dipantau Kompas TV, bahwa SBY justru sangat terganggu dengan tudingan ini. 

Bukan terganggu ala netizen yang cuma ngedumel, tapi terganggu sebagai warga negara yang merasa difitnah. 

Bahkan terbuka kemungkinan SBY menempuh jalur hukum. Dimulai dari somasi, lalu bisa berlanjut ke proses hukum penuh, sebab ini soal keadilan. SBY tidak merasa melakukan apa pun, tapi namanya dipajang di etalase fitnah.

Andi Arief juga memastikan hubungan SBY dan Jokowi sampai hari ini baik-baik saja. Tidak ada perang senyap, tidak ada sandi rahasia, tidak ada peta konspirasi di ruang bawah tanah. 

Namun di jagat maya, fakta semacam itu kalah pamor dari teori liar. Apalagi jika dibumbui istilah “king maker”, “partai biru”, dan “dalang di balik layar”. Di era ini, siapa pun bisa menjadi antagonis, asal narasinya cukup emosional dan durasinya cukup pendek.

Partai Demokrat pun naik pitam. Edhie Baskoro Yudhoyono, atau Ibas, menyebut tuduhan tersebut sebagai fitnah keji dan menyesatkan publik. 

Badan Hukum Demokrat bergerak lebih jauh dengan melayangkan somasi resmi kepada akun-akun media sosial yang menyebarkan tuduhan itu. 

Isinya tegas, minta permintaan maaf terbuka dalam waktu 3x24 jam. Ini bukan konten, ini dokumen hukum. Tapi sekali lagi, surat somasi kalah viral dibanding potongan video dengan backsound dramatis.

Yang lebih ironis, semua ini berangkat dari isu lama soal ijazah Jokowi, yang kembali dihangatkan, dipelintir, lalu ditempeli nama SBY tanpa bukti. 

Tidak ada dokumen, tidak ada saksi, tidak ada fakta hukum yang mengaitkan SBY dengan isu tersebut. 

Yang ada hanya keriuhan, pengulangan, dan keyakinan palsu yang dipelihara bersama. Fitnah menjadi hiburan, konspirasi menjadi konsumsi.

Maka jadilah kisah ini tragedi komedi nasional. Seorang presiden pensiunan yang ingin hidup tenang malah dipaksa ikut episode baru drama politik. 

Republik pun kembali membuktikan satu hal, di negeri ini, kebenaran harus berjuang keras, sebab lawannya bukan kebohongan biasa, melainkan kebohongan yang seru.

"Tega benar budak tu, SBY itu mantan presiden, masa' ngurusin ijazah Jokowi yang juga mantan presiden."

"Budak tadak ade kerje tu, wak. Beda dengan pensiunan di Pontianak, tiap hari ngopi." Ups

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya