Berita

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PKS, Mulyanto (Dokumen PKS)

Politik

PKS Minta Program MBG Dikelola Transparan dan Diaudit BPK

SABTU, 03 JANUARI 2026 | 14:11 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikelola secara transparan dan akuntabel. PKS juga mendorong Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit terhadap program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PKS, Mulyanto, menilai program MBG memiliki tujuan yang sangat baik dan strategis bagi masa depan anak-anak Indonesia. Karena itu, pelaksanaannya harus disertai sistem pengawasan yang memadai, terutama terkait penggunaan anggaran yang nilainya sangat besar.

Selain aspek keamanan dan kesehatan makanan yang dibagikan, menurut Mulyanto, pemerintah juga perlu memberi perhatian serius pada pengelolaan dan penggunaan anggaran dalam program nasional tersebut.


“MBG adalah kebijakan strategis negara yang menyangkut masa depan anak-anak Indonesia. Program ini harus dikelola secara baik, tidak boleh dibiarkan muncul ruang abu-abu antara kebijakan publik dan kepentingan politik,” kata Mulyanto kepada wartawan, Sabtu, 3 Januari 2026.

Anggota DPR RI periode 2019?"2024 itu menyoroti berbagai laporan dan temuan masyarakat sipil dalam beberapa pekan terakhir yang mengindikasikan adanya keterkaitan antara pelaksana program MBG dengan tokoh politik, oknum partai, atau pihak yang memiliki afiliasi politik.

“Fakta ini membuat kita miris. Karena itu, hal tersebut patut dicermati secara serius dan tidak boleh dianggap sepele,” tegasnya.

Mulyanto menambahkan, asas kehati-hatian harus menjadi prinsip utama pemerintah dalam pelaksanaan MBG. Setiap program berskala nasional yang dibiayai APBN, menurutnya, wajib steril dari konflik kepentingan, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung.

Ia menilai keterlibatan legislator, pengurus partai, atau pihak yang memiliki pengaruh politik sebagai pelaksana, pengelola, maupun penerima manfaat langsung program MBG merupakan praktik yang tidak etis karena mencampuradukkan fungsi eksekutif, fungsi pengawasan, dan fungsi politik.

“Jika situasi ini dibiarkan, MBG berisiko kehilangan legitimasi publik dan dipersepsikan sebagai alat konsolidasi kekuasaan atau distribusi rente, bukan sebagai instrumen keadilan sosial. Ini tentu menjadi bahaya serius bagi demokrasi dan tata kelola pemerintahan kita,” jelasnya.

Atas dasar itu, Mulyanto menegaskan pemerintah wajib membuka secara transparan seluruh rantai pelaksanaan MBG, mulai dari penunjukan mitra, pengelola, hingga mekanisme pengawasan dan audit yang dijalankan.

Ia juga meminta partai politik beserta para tokohnya menunjukkan kedewasaan dan keteladanan dengan menjaga jarak secara tegas dari proyek negara tersebut.

“MBG adalah kebijakan sosial strategis dengan itikad luhur. Jika program strategis ini tercemar konflik kepentingan, maka yang dirugikan bukan hanya keuangan negara, tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap negara dan demokrasi itu sendiri,” ujarnya.

Mulyanto menegaskan, demi menjaga marwah negara dan demokrasi yang bermartabat, pelaksanaan program MBG harus dikawal secara ketat, diaudit secara independen, serta dijauhkan sepenuhnya dari praktik politik praktis.

“Kepentingan anak-anak Indonesia harus dijauhkan dari hiruk-pikuk kepentingan kekuasaan,” tandasnya.

Populer

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Miliki Segudang Prestasi, Banu Laksmana Kini Jabat Kajari Cimahi

Jumat, 26 Desember 2025 | 05:22

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

UPDATE

Lima Penyidik Dipromosikan Jadi Kapolres, Ini Kata KPK

Senin, 05 Januari 2026 | 12:14

RI Hadapi Tantangan Ekonomi, Energi, dan Ekologis

Senin, 05 Januari 2026 | 12:07

Pendiri Synergy Policies: AS Langgar Kedaulatan Venezuela Tanpa Dasar Hukum

Senin, 05 Januari 2026 | 12:04

Pandji Pragiwaksono Pecah

Senin, 05 Januari 2026 | 12:00

Tokoh Publik Ikut Hadiri Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:58

Tak Berani Sebut AS, Dino Patti Djalal Kritik Sikap Kemlu dan Sugiono soal Venezuela

Senin, 05 Januari 2026 | 11:56

Asosiasi Ojol Tuntut Penerbitan Perpres Skema Tarif 90 Persen untuk Pengemudi

Senin, 05 Januari 2026 | 11:48

Hakim Soroti Peralihan KUHAP Baru di Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:44

Akhir Petrodolar

Senin, 05 Januari 2026 | 11:32

Kuba Siap Berjuang untuk Venezuela, Menolak Tunduk Pada AS

Senin, 05 Januari 2026 | 11:28

Selengkapnya