Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Saatnya Gen Z Ikut Benahi Negara

SABTU, 03 JANUARI 2026 | 03:51 WIB

GENERASI muda saat ini yang didominasi oleh Gen Z merupakan generasi yang hidup berdampingan dengan teknologi dan media sosial. Akses informasi yang tak terbatas membuat mereka melek politik lebih dini. Keberanian Gen Z mengkritisi sesuatu yang tidak sepatutnya merupakan potensi besar dalam perubahan dimasa depan. Termasuk juga keberanian Gen Z dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang kurang tepat atau salah sasaran. Meskipun teror dan ancaman mereka dapatkan, namun mereka tetap lantang menyuarakan kebenaran.
 
Fenomena sadar dan melek politik ini adalah amunisi kuat dalam membentuk generasi yang memiliki visi berpikir yang benar. Dan ini juga menjadi preseden buruk sekaligus kekalahan bagi kekuasaan rezim karena rakyat tidak lagi mudah dibodohi dengan narasi narasi pro kebijakan kapitalis sekuler. Narasi yang dilontarkan pemerintah dapat dengan mudah dipatahkan oleh mereka, sebab data dan informasi sangat mudah untuk diakses.
 
Keterbukaan informasi serta kemudahan akses data digital, mengajarkan mereka berbagi pendapat secara terbuka, sehingga hal ini mengurangi ketakutan mereka dalam berpendapat. Selain itu fakta kesenjangan ekonomi dan sosial di masyarakat membutuhkan tindakan nyata untuk merubah kebijakan pemerintah. Gelombang protes yang dilakukan Gen Z di berbagai negara sudah terbukti mampu merubah keadaan hingga menumbangkan rezim.
 

 
Namun semangat perubahan yang menggelora ini akan menguap sia-sia jika kesadaran politik Gen Z ini tidak diarahkan dengan benar. Kesadaran politik ini harus diarahkan pada kesadaran politik yang benar, yaitu Islam. Islam bukan hanya agama ritual yang mengurusi urusan ibadah semata. Dalam Islam seluruh aspek kehidupan memiliki aturan tersendiri, dan itu tersistem dalam satu kepemimpinan sebuah negara. Oleh sebab itu Islam sebagai sebuah sistem kehidupan merupakan alternatif pengganti sistem sekuler yang saat ini diterapkan.
 
Kita jangan lagi terjebak dengan demokrasi yang melahirkan sistem pemerintahan korup dan transaksional. Data dan fakta telah menunjukkan bobroknya sistem ini. Jika perubahan yang diinginkan tetap memakai sistem yang sama, hanya mengganti pemain saja, maka ibarat keluar dari mulut buaya masuk ke mulut singa. Dan ini telah kita rasakan berulang kali, apakah kita akan mengulangnya kembali, tentu tidak!
 
Bumi Indonesia terlalu berharga untuk dirusak oleh ideologi kapitalisme sekuler yang dilegitimasi dengan kebijakan penguasa pro kapitalis. Jamrud khatulistiwa yang dulu kita miliki tak lagi bisa kita banggakan. Ego kapitalis lebih besar dan kuat mencengkram bumi Pertiwi, sehingga mengubur dalam-dalam mimpi kesejahteraan masyarakat. Berbagai kritik tajam yang datang dari Gen Z mengundang teror para influencer tersebut, ini menunjukkan bahwa negara "kalah" argumen. Masyarakat sudah melek politik, tidak ada salahnya jika pemerintah dengan legowo mendengarkan aspirasi rakyat. Jika memang salah mari kita perbaiki bersama, sudah saatnya negara berbenah.
 
Sudah saatnya kita mengambil langkah tegas untuk membenahi tata kelola negeri kita, mengingat potensi yang luar biasa dari kekayaan sumber daya alam yang kita miliki. Sistem yang benar dalam mengelola negara tidak hanya berfokus pada pemanfaatan sumber daya alam secara optimal, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan, keadilan, distribusi, manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup agar tidak terkorupsi atau dimanfaatkan secara sembarangan oleh pihak tertentu.
 
Isna Yuli
Anggota Komunitas Peduli Generasi 


Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya