Berita

Para petugas Komisi Pemilihan Umum bersiap menjelang pemilihan umum, di Distrik Thingangyun, Yangon, Myanmar (Foto: DVB)

Dunia

Pemilu Myanmar Dimulai, Partai Pro-Junta Diprediksi Menang

MINGGU, 28 DESEMBER 2025 | 11:39 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemilihan umum Myanmar resmi dimulai pada Minggu, 28 Desember 2025, menandai pemilihan nasional pertama sejak militer menggulingkan pemerintahan terpilih pimpinan peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi melalui kudeta pada 2021. 

Namun, pemilu tersebut digelar secara terbatas dan menuai kritik luas dari PBB kelompok HAM, serta partai oposisi yang menilai prosesnya tidak bebas, adil, maupun kredibel.

Pemilu hanya berlangsung di sekitar sepertiga dari total 330 wilayah administratif Myanmar, sementara sebagian besar daerah lain tidak dapat menggelar pemungutan suara akibat konflik bersenjata yang masih berkecamuk. 


Selain itu, pemungutan suara juga dibatalkan sepenuhnya di 65 wilayah. 

“Ini berarti setidaknya 20 persen negara ini kehilangan hak pilih pada tahap ini,” kata koresponden Al Jazeera, Tony Cheng, dari Yangon.

Di Yangon, tempat pemungutan suara dibuka sejak pukul 06.00 waktu setempat, arus pemilih dilaporkan berjalan relatif normal. Namun, Cheng mencatat minimnya partisipasi generasi muda.

“Pemilih umumnya berusia paruh baya, dan kami tidak melihat banyak anak muda. Ketika melihat surat suara, pilihannya sangat terbatas. Mayoritas adalah partai-partai yang berafiliasi dengan militer,” ujarnya.

Panglima junta Myanmar, Senior Jenderal Min Aung Hlaing, turut memberikan suara di Naypyidaw tak lama setelah tempat pemungutan suara dibuka. 

Pihak militer menyebut pemilu sebagai peluang awal baru bagi stabilitas politik dan pemulihan ekonomi.

Pemilu berlangsung tanpa keikutsertaan partai-partai anti-militer. Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi telah dibubarkan, sementara Suu Kyi sendiri masih ditahan. 

Kondisi tersebut membuat Partai Persatuan, Solidaritas, dan Pembangunan (USDP) yang didukung junta militer diprediksi kuat akan keluar sebagai pemenang. 

Analis International Crisis Group, Richard Horsey menilai kemenangan USDP hampir tak terelakkan.

“Hasilnya hampir tidak diragukan: kemenangan telak USDP dan kelanjutan kekuasaan militer dengan lapisan sipil yang tipis,” tulisnya.

Menurutnya, pemilu ini tidak akan meredakan krisis politik Myanmar, justru berpotensi memperdalam perpecahan dan memperpanjang kegagalan negara tersebut.

Sementara itu, Kepala HAM PBB Volker Turk menegaskan pemilu berlangsung dalam situasi represif dan penuh kekerasan. 

“Tidak ada kondisi yang memungkinkan pelaksanaan kebebasan berekspresi, berserikat, atau berkumpul secara damai untuk menjamin partisipasi rakyat yang bebas dan bermakna,” ujarnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya