Berita

Rektor Universitas Paramadina Prof Didik J. Rachbini. (Foto: Okezone.com)

Politik

Prof Didik Rachbini Usul Pilkada DPRD Model Campuran

SELASA, 23 DESEMBER 2025 | 12:25 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Rektor Universitas Paramadina Prof Didik J. Rachbini mengusulkan inovasi sistem campuran atas polemik mahalnya Pilkada langsung dan risiko pembajakan demokrasi oleh elit jika kembali dipilih DPRD. Menurutnya, sistem campuran menjadi jalan tengah. 

"Sebagai akademisi dalam ranah ekonomi politik, saya mengajukan inovasi mixed method atau campuran. Pilkada tidak dilakukan secara langsung tetapi dipilih oleh DPRD. Namun calon gubernur, bupati, dan wali kota tidak ditetapkan oleh elit partai tetapi berasal dari unsur pilihan masyarakat, yakni tiga anggota DPRD terpilih dengan suara terbanyak dari provinsi atau kabupaten/kota," katanya dalam keterangan yang diterima , Selasa, 23 Desember 2025.

Menurut Didik, mekanisme ini merupakan jalan tengah antara demokrasi liberal yang dinilainya telah rusak dengan sistem pemilihan DPRD ala Orde Baru yang sarat pembajakan elit. Ia mengingatkan, meskipun pemilihan langsung dinilai sangat mahal, pemilihan tidak langsung juga tidak otomatis bebas masalah karena berpotensi hanya melibatkan elit.


Ia juga menyoroti komplikasi serius pemilihan langsung di era teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI). Dalam dua dekade terakhir, pilkada dan pilpres ditandai oleh keterlibatan buzzer, bot, AI, hingga “alien-alien” politik yang merusak sendi-sendi demokrasi.

"Pemilihan langsung yang bersifat one man one vote justru terbuka menjadi alat eksploitasi elit yang menguasai uang dan teknologi. Dialog demokrasi digantikan suara mesin, provokasi buzzer, bot, dan AI," tegasnya.

Bahkan Didik menilai lahirnya pemimpin berbasis pencitraan merupakan produk dari sistem pemilihan langsung yang sarat manipulasi teknologi. Demokrasi, menurutnya, dijajah secara brutal oleh mesin-mesin asing yang tidak memiliki fondasi moralitas kemanusiaan.

Ia menambahkan, mengurangi pemilihan langsung di tingkat pilkada dapat mempersempit ruang masuknya manipulasi AI dan buzzer. Namun ia mengingatkan, kembali sepenuhnya ke sistem lama seperti era Presiden Soeharto justru berisiko melahirkan pembajakan demokrasi oleh elit oligarki.

"Ini seperti keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Karena itu, mesin AI, buzzer, dan alien-alien tersebut harus diatur negara," ujarnya, sembari menyinggung kegagapan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam mengelola relasi kebebasan berbicara dan demokrasi sejati di era AI.

Menurut Didik, demokrasi sejatinya berakar pada free will manusia untuk berbicara dan memilih pemimpinnya, sebagaimana dijamin UUD 1945. Namun AI, bot, dan buzzer tidak memiliki hak bicara karena yang dilakukan adalah manipulasi, bukan dialog.

Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan demokrasi saat ini sering tidak disadari publik. Karena itu, kata Didik, Presiden Prabowo Subianto bahkan disebut mulai lelah dengan demokrasi liberal yang berjalan di tengah rendahnya literasi informasi, pendidikan dan pengetahuan masyarakat.

"Bias tujuan demokrasi yang luhur terpental jauh ke jurang karena kebebasan berbicara dan manipulasi informasi dikuasai AI dan alien. Keadaan ini tidak ada 3-4 dekade yang lalu, tetapi perubahan drastis terjadi dengan cepat sehingga sulit untuk meneruskan dan tidak pantas kembali lagi ke dalam demokrasi pemilihan tidak langsung, yang dengan mudah menjadi demokrasi elit oligarkhi tertutup," tukasnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya