Berita

Publika

Bukan AI Tapi Non-Human

SABTU, 20 DESEMBER 2025 | 15:43 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

AI atau Artificial Intelligence menjadi polemik serius berkepanjangan di muka bumi karena kehadiran AI mengguncang tatanan moral-intelektual-sosial, bahkan di negara asalnya, AS dan negara-negara maju di Eropa, Jepang, Korea Selatan dan China.

Di Indonesia ketika AI diterjemahkan menjadi “kecerdasan buatan” menimbulkan kontroversi lebih tajam, myerempet ke ranah teologis. Bangsa ini memang sangat religius. Kehadiran AI yang “kecerdasan buatan” (mesin) dirasakan mereduksi bahkan mengganggu eksistensi manusia, yang notabene ciptaan Tuhan paling sempurna. Bagaimana mungkin manusia dikalahkan oleh ciptaan selain Tuhan?

Persoalan AI menjadi problem masyarakat modern memang dimulai dari pemahaman terhadap kata “intelligence” yang salah kaprah, dipahami sebagai “kemampuan berpikir dan belajar secara cepat dan fleksibel”. Padahal “intelligence” dalam konteks AI adalah “kemampuan arsitektur komputasi mengolah algoritma untuk memetakan, memprediksi dan menentukan pola.


Basis utama AI adalah pengembangan algoritma, dan algoritma yang diperkenalkan pertama kali oleh Abu Ja'far Muhammad bin Musa al-Khwrizm, filsuf, ahli polimatik (matematika, astronomi, geografi). Ia pemikir Muslim kelahiran Kufah, Irak, yang hidup pada era Khalifah Bani Abbasiyah Ma'mun Ar-Rasyid (813-833 M).

Jadi kata “intelligence” pada AI tidak tepat dipadankan dengan “kecerdasan” dalam bahasa Indonesia. Karena kecerdasan melekat pada -kesadaran-kehendak-tanggungjawab moral dan dimensi makna. Sementara sistem yang disebut AI -tidak memiliki kesadaran-tidak memiliki kehendak-tidak memikul tangungjawab-tidak mengalami makna.

Publik terlanjur memahami: respon cepat AI ? dianggap cerdas, akurat ? dianggap unggul dan konsisten ? dianggap lebih “rasional”. Akibatnya terjadi pergeseran persepsi: kecerdasan manusia (anugerah Tuhan) dikalahkan oleh performa mesin.

AI Itu Non-Human

Saya menolak mengatakan AI sebagai “kecerdasan buatan” melainkan sebagai non-Human, tepatnya Non-Human Technical System bukan karena persoalan teknis apalagi anti-teknologi. Saya pro-teknologi, tapi juga pro-manusia, jadi non-Human adalah soal antropologis dan teologis.

Saya menggunakan istilah Non-Human karena tiga hal.
1. Teknologi adalah alat, bukan subjek kecerdasan.
2. Istilah Non-Human untuk menjaga perbedaan antara kecerdasan sebagai anugerah dan kalkulasi sebagai rekayasa.
3. mesin boleh lebih cepat dan lebih akurat, tetapi tidak pernah lebih berkehendak atau bertanggung jawab daripada manusia.

Definisi Non-Human

Sebelum menjelaskan definisi Non-Human, untuk menyamakan perspektif, saya terangkan “konsep peradaban” hasil kontemplasi saya dengan semesta alam.

Peradaban tidak dimulai dari teknik, kekuasaan, atau ekonomi, melainkan dari kesadaran manusia setelah “menemukan dan berkomunikasi” dengan Dzat yang lebih tinggi dari dirinya. Bentuknya bisa primitif (matahari, dewa ilusi), bisa mitologis dan bisa teologis yang lebih rasional.

Semakin rasional, semakin konseptual, dan semakin dapat dipertanggungjawabkan pemahaman tentang Sang Pencipta, semakin tinggi kualitas peradaban yang dilahirkan.

Peradaban melahirkan kebudayaan. Kebudayaan adalah seluruh kegiatan manusia yang berfungsi untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan dan menghormati seluruh ciptaanNya (alam semesta).

Sebelum mengenal Sang Pencipta, kegiatan manusia tidak dilandasi etika dan moralitas dan semangat meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan, melainkan kegiatan untuk survival sebagaimana mahluk lain di muka bumi.

Non-Human adalah produk peradaban yang berfungsi sebagai mekanisme kebudayaan, tidak memiliki kesadaran, kehendak, dan tanggung jawab moral, serta bernilai sejauh ia digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan. Instrumen teknis di dalamnya bersifat netral; arah dan dampaknya ditentukan oleh manusia sebagai subjek peradaban.

Nilai, arah, dan dampak Non-Human sepenuhnya ditentukan oleh manusia sebagai pemilik kehendak dan tanggung jawab, serta harus dikawal oleh etika, moral, dan hukum agar tetap berfungsi untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan.

Penjelasan Operasional

1. Non-Human bukan subjek peradaban
Ia tidak memiliki relasi dengan Sang Pencipta, tidak berkehendak, dan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban moral.

2. Non-Human adalah kebudayaan produk peradaban
Seperti mobil, gadget atau teknologi lainnya, ia netral secara moral; baik?"buruknya ditentukan oleh pemakai.

3. Non-Human tunduk pada etika manusia
Ketika meningkatkan martabat manusia, ia berfungsi sebagai produk kebudayaan. Ketika merendahkan manusia, ia menjadi produk kebudayaan yang disimpangkan. Maka tanggungjawab moral ada pada pengguna, pemanfaat.

Dalam tulisan ini, istilah Non-Human digunakan untuk menegaskan bahwa teknologi -termasuk yang disebut AI- adalah alat kebudayaan, bukan subjek kecerdasan atau pemilik kehendak.

Hal ini penting dijelaskan agar (a) algoritma tidak dipakai untuk mengalahkan kebijaksanaan, (b) opini dipakai untuk mengalahkan argumentasi, dan (c) viralitas dipakai untuk menggantikan kebenaran.

Kesimpulan Akhir


Non-Human Technical System tidak menggantikan manusia berpikir, melainkan membebaskan manusia dari kerja repetitif dan teknis agar dapat menjalankan fungsi kemanusiaan yang lebih tinggi: menilai makna, mengambil tanggung jawab moral, dan menentukan arah peradaban. Dalam relasi ini, teknologi adalah alat refleksi, bukan otoritas kebenaran; dan manusia tetap menjadi subjek etis tunggal dalam sejarah.

*) Penulis adalah pelaku kolaborasi manusia dan non-manusia.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Iran Ancam Gunakan Segala Cara untuk Hadapi Agresi AS

Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:01

Serangan Israel Luluhlantakkan Gudang Obat Rumah Sakit Gaza

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:25

GP Al-Washliyah Dukung Kapolri Jadikan Semangat Hoegeng Budaya Kerja Polri

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:12

Kemensos Terbitkan Kartu Penyandang Disabilitas Virtual

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:04

PM Thailand Dijadwalkan Kunjungi Indonesia pada 3-4 Agustus

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:45

Bea Cukai Bongkar Dua Kontainer Berisi 7,8 Juta Batang Rokok Ilegal di Sulsel

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:43

BRI Peduli Bantu Peternak Sapi Perah Malang Naik Kelas Lewat Klaster Unggulan

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:33

AS Terapkan Deposit Visa untuk 50 Negara hingga Rp360 Juta

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:22

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Berawal dari Keresahan, Rabundo Tembus Pasar Nasional Berkat Pendampingan BRI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:03

Selengkapnya