Berita

Bantuan Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) untuk korban banjir di Medan. (Foto: Dokumentasi Pemkot Medan)

Publika

Pemkot Medan Rela Kembalikan Bantuan UEA

JUMAT, 19 DESEMBER 2025 | 06:15 WIB

TEPUK tangan dong buat Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. 

Bisa dikatakan, walikota paling patuh pada pusat, inilah orangnya. Sumbangan dari Uni Emirat Arab (UEA) sudah diterima. Lalu ada instruksi pusat, kembalikan, saat itu juga ia kembalikan. Luar biasa. 

Medan sore itu panasnya bukan main, seperti durian Ucok yang baru dibelah, menyengat, mengundang kerumunan, tapi meninggalkan rasa berat di kepala. 


Di kota yang terbiasa dengan suara klakson dan debat warung kopi, sebuah keputusan administratif berubah menjadi drama nasional. 

Pemerintah Kota Medan, demi satu kata sakral bernama “patuh”, rela mengembalikan bantuan kemanusiaan dari UEA berupa sekitar 30 ton beras, lengkap dengan paket sembako, perlengkapan bayi, dan perlengkapan ibadah, yang sejatinya diperuntukkan bagi warga terdampak banjir.

Bantuan itu sempat diterima dengan ucapan terima kasih. Pak Wali bahkan menyampaikan apresiasi atas solidaritas UEA. Namun, seperti bika ambon yang mengembang lalu kempis, apresiasi itu tak bertahan lama. 

Setelah koordinasi dengan pemerintah pusat dan lembaga terkait, diputuskanlah bahwa Indonesia belum membuka penerimaan bantuan asing secara langsung dalam penanganan bencana. 

Maka, beras yang sudah menempuh perjalanan jauh itu harus kembali, seolah Medan berkata, “Maaf, niat baik syech benar, tapi jalurnya salah.”

Adegan ini terasa absurd. Di satu sisi, warga terdampak banjir masih berkutat dengan lumpur dan logistik terbatas. 

Di sisi lain, negara sibuk memastikan prosedur berdiri tegak seperti Menara Air Tirtanadi. Kokoh, bersejarah, dan dingin. 

Patuh pada pusat menjadi alasan paling sahih, bahkan ketika konsekuensinya adalah mengantar pulang bantuan yang secara faktual bisa langsung dikonsumsi masyarakat.

Belum selesai publik mencerna soal beras UEA, muncul episode lain yang tak kalah menggelitik dan memalukan. 

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut, bantuan dari Malaysia nilainya tidak besar, sekitar Rp1 miliar, jika dibandingkan dengan kemampuan anggaran pemerintah Indonesia. 

Kalimat ini, yang mungkin dimaksudkan sebagai penegasan kemandirian negara, justru terdengar seperti menakar empati dengan timbangan Pasar Petisah yang sudah tua.

Reaksi pun meledak. Warganet Malaysia tersinggung, warganet Indonesia ikut geleng-geleng kepala, dan media luar negeri, termasuk South China Morning Post, menurunkan berita dengan nada satire tajam. 

Pesannya sederhana tapi menghantam, dalam urusan kemanusiaan, ukuran bukan soal besar kecil angka, melainkan sikap. “Just say thank you,” begitu kira-kira teriakan dari seberang Selat Malaka, yang gaungnya sampai ke Medan.

Publik di dalam negeri tak kalah gaduh. Ada yang bertanya mengapa bantuan harus dipulangkan sementara korban masih membutuhkan. 

Ada yang mempertanyakan logika negara yang cepat menolak, tapi lambat mendistribusikan. Namun semua pertanyaan itu mentok di tembok tebal bernama koordinasi. 

Di kota yang biasa menyelesaikan masalah dengan kopi kental dan bicara blak-blakan, jawaban resmi justru berputar-putar seperti macet di Jalan Gatot Subroto.

Akhirnya, Medan menjadi metafora besar Indonesia hari itu. Kota yang ramah di brosur, patuh di laporan, tapi kikuk saat berhadapan dengan empati. 

Bantuan UEA pulang, perasaan Malaysia tersinggung, publik kecewa berat, dan negara berdiri tegak sambil berkata, semuanya sudah sesuai aturan. 

Di tengah banjir dan lumpur, kita belajar satu hal pahit, di negeri ini, prosedur sering kali lebih cepat diselamatkan daripada manusia.

Sudah diambil, lalu dikembalikan, kesal ndak. Pastilah, itu manusiawi. Untungnya, Timnas voli putra kita menang lawan Vietnam 3-2 lewat duel sangat menegangkan, dan lolos ke final. Hiburan di tengah semakin merosotnya moral para petinggi negeri ini.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Kopilot Malaysia Ngaku Diupah Rp220 Juta Selundupkan 26 Kg Ekstasi ke Jakarta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:20

Merdeka dalam Keserakahan: Ilusi Kemerdekaan di Usia 81 Tahun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:02

Polda Metro Masih Selidiki Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pendeta

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:52

Loyalis Anies Dicecar KPK soal Jual Beli Properti di Kasus TPPU Rita Widyasari

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:25

Begini Respons Deddy Sitorus Usai Dilaporkan KWP ke MKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:02

Warga Tuban Terdampak Debu Pabrik, Semen Indonesia Mangkir Dipanggil DPRD

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:11

Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI Buka Jalan Akses Finansial Pulau Seram

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:02

Bea Cukai Ciduk Kopilot Kurir Narkoba, Duit Negara Rp207,9 Miliar Selamat

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:41

Transformasi Danantara Dongkrak Pendapatan Telkom hingga Tembus Rp75,9 Triliun

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:22

Polda Metro Jaya Cokok 728 Tersangka Curanmor

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:06

Selengkapnya