Berita

Rembuk Energi & Hilirisasi 2025 yang digelar Satgas Hilirisasi Nasional Kementerian ESDM. (Foto: Istimewa)

Politik

Rembuk Energi & Hilirisasi 2025

Hilirisasi Adalah Koreksi Atas Pola Ekspor Bahan Mentah

KAMIS, 11 DESEMBER 2025 | 18:38 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Hilirisasi adalah koreksi penting atas pola lama ketika Indonesia mengekspor bahan mentah dan membeli kembali produk bernilai tinggi dari luar negeri. 

Begitu dikatakan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman dalam Rembuk Energi & Hilirisasi 2025 yang digelar Satgas Hilirisasi Nasional Kementerian ESDM.

Forum ini menegaskan bahwa ketahanan energi tidak hanya bergantung pada teknologi dan kebijakan, tetapi juga menuntut pemahaman mendalam terhadap struktur energi primer Indonesia serta kesiapan talenta muda dalam mengisi kebutuhan industri energi masa depan.


Dijelaskan Laode, tantangan besar saat ini adalah konsumsi minyak nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berada pada kisaran 580-600 ribu barel, sehingga Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.

“Ketahanan energi tergantung pada kemampuan mengurangi impor dan memperkuat suplai domestik. Untuk itu, teknologi enhanced oil recovery dan pembukaan 75 WK Migas sangat krusial agar produksi dapat terus ditingkatkan,” ujar Laode dalam keterangan tertulis, Kamis 11 Desember 2025.

Laode juga menyoroti Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menargetkan penambahan 69,5 GW pembangkit, elektrifikasi 215 ribu rumah tangga pada 2025, serta percepatan adopsi EBT, biodiesel B40 menuju B50, dan pengembangan bioetanol.

Dari perspektif ekonomi energi, Senior Director of Oil, Gas & Petrochemical Danantara Asset Management, Wiko Migantoro, memaparkan kondisi struktur energi primer Indonesia yang masih bergantung pada impor. 

Ia menjelaskan konsumsi energi primer berbasis fosil mencapai 1,7 juta barel per hari, sementara kapasitas kilang nasional berada di angka 1,1 juta barel per hari.

"Sehingga Indonesia masih membutuhkan impor crude maupun produk BBM," ungkap Wiko.

Untuk LPG, katanya, konsumsi nasional mencapai 8 juta metrik ton. Sebagian besar juga masih diimpor. 

Menurut dia, hilirisasi energi primer dapat menjadi solusi struktural untuk mengurangi ketergantungan impor. Hal itu dapat dilakukan melalui optimalisasi solar oversupply akibat program B40, pengembangan ekosistem etanol sebagai pencampur gasoline, serta pemanfaatan DMA sebagai alternatif LPG.

“Rantai nilai energi masa depan menghadirkan peluang inovasi yang besar. Hilirisasi bukan hanya soal pabrik dan kilang, tetapi ekosistem teknologi dan ekonomi hijau yang bisa diisi talenta muda kita,” demikian Wiko.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Diburu Kolektor, BI Cetak Lagi Rupiah Tanda Tangan Purbaya

Jumat, 25 September 2026 | 00:17

DPRD DKI: Perkuat Fungsi Edukasi dan Kebudayaan di TIM

Jumat, 25 September 2026 | 00:04

Pelunasan BLBI Jadi Tonggak Penyelesaian Krisis 1997-1998

Kamis, 24 September 2026 | 23:37

Tim Hukum: Tak Ada Saksi Sebut Heri Susanto Terima Suap

Kamis, 24 September 2026 | 23:19

Sufmi Dasco akan Kukuhkan Pengurus APKLI Merah Putih

Kamis, 24 September 2026 | 23:00

Tagihan Cicilan Kopdes Merah Putih Rp37,7 Triliun Jatuh Tempo Besok

Kamis, 24 September 2026 | 22:59

Warisan Kwik Kian Gie untuk Indonesia

Kamis, 24 September 2026 | 22:48

DPR Minta Basarnas Lanjutkan Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 24 September 2026 | 22:26

Tokoh Adat Papua Kecam Penembakan Tiga Warga Sipil di Muliama

Kamis, 24 September 2026 | 22:23

Menko Yusril Pastikan Media Bebas Meliput di Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 22:11

Selengkapnya