Berita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Bisnis

Impor Minyak Sedot Devisa Rp523 Triliun, jadi Penghambat Pertumbuhan Ekonomi

SELASA, 09 DESEMBER 2025 | 10:41 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan dampak krusial dari tingginya impor energi terhadap perekonomian nasional.

Bahlil menyebut, ketergantungan pada impor minyak (crude oil dan BBM) telah mengakibatkan hilangnya devisa negara sebesar Rp523 triliun per tahun.

Jika angka fantastis ini berhasil ditahan, Bahlil meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melonjak signifikan, yakni minimal 2 persen hingga 3 persen.


 "Kalau kita mampu tidak mengimpor BBM kita, maka saya pastikan devisa kita akan tinggal di dalam negeri dan itu bisa menjadi daya ungkit untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi," terang Bahlil di Jakarta, dikutip Selasa 9 Desember 2025.

Data 2024 menunjukkan jurang lebar antara kebutuhan dan produksi dalam negeri, di mana produksi minyak mencapai 221 juta barel, sedangkan impor minyak mencapai 313 juta barel, termasuk 201 juta barel dalam bentuk BBM.

Sedangkan konsumsi BBM Nasional 532 juta barel, yang terbanyak digunakan sektor transportasi, 52 persen

Selain minyak, Indonesia juga sangat bergantung pada impor gas, terutama LPG, untuk kebutuhan dalam negeri. Adapun, konsumsi LPG domestik mencapai 8,5 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri hanya mampu 1,3 juta ton.  

"Jadi kita impor 7,2 ton per tahun, dan LPG ini tidak bisa kita bangun di Indonesia semuanya karena bahan bakunya tidak ada," jelas Bahlil. 

Bahlil memastikan bahwa impor energi akan ditekan melalui strategi transisi. Pasokan Gas Alam Cair akan tetap dijamin oleh produksi nasional dan tidak ada rencana impor, kemudian implementasi B50 tahun depan akan mengurangi impor solar, dan kebijakan campuran etanol 10 persen dengan BBM dijadwalkan mulai 2027.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

MTI: Saatnya Pilih Pemimpin karena Kualitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:29

Korupsi Kredit Perbankan Rp629,8 Miliar Proyek Apartemen Bekasi Diusut

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:18

Ketika Hukum Konstitusi Berhadapan dengan Realitas Pertahanan Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:01

Kesaktian Nusron Terbukti Lagi, KPK Dibuat Tak Bergigi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:48

Masjid Apung An-Nur di Ancol jadi Landmark Baru di Pesisir Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:20

Prabowo Pimpin Rapat Kabinet di Istana Bogor

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:07

KPK Jangan Gertak Sambal: Segera Jemput Paksa Nusron!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:35

Melampaui Efisiensi, Menemukan Peluang Baru

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:20

5 Jurnalis Hilang di Krakatau Dianugerahi Penghargaan Kemanusiaan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:02

Investor Jangan Gampang Panik soal Ancaman MSCI

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya