Berita

Banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Instagram Masinton)

Publika

Bencana dan Ceramah

SELASA, 09 DESEMBER 2025 | 06:16 WIB

SETIAP terjadi bencana, ada satu pola ucapan yang selalu muncul dari sebagian ustadz dan dai: “Inilah bukti bahwa apa yang kita sombongkan: rumah, kendaraan-semuanya bisa hilang dalam sekejap.”

Ucapan ini terdengar seperti nasihat, tetapi di hadapan korban bencana, itu bukan nasihat. Itu adalah serangan mental kepada orang yang baru saja kehilangan fondasi hidupnya. Ini bukan hanya tidak sensitif-ini keliru, tidak akurat, dan tidak pantas diucapkan dalam situasi darurat.

Masalahnya sederhana: mereka berbicara tanpa melihat realitas. Mereka menempelkan template ceramah tentang kemewahan kepada orang-orang yang tidak punya apa-apa selain kebutuhan dasar. Mereka mengira rumah itu simbol kesombongan. Padahal sebagian besar korban bahkan belum punya satu pun barang “mewah”. 


Rumah mereka sederhana, kadang belum selesai diplester, dibangun dengan tenaga sendiri, dan sedikit demi sedikit. Kendaraan mereka bukan barang hobi-itu alat kerja harian yang menentukan apakah keluarga mereka makan atau tidak. Menyebut semua itu sebagai “harta kesombongan” adalah bentuk kegagalan memahami siapa yang sedang mereka hadapi.

Lebih keras lagi: ucapan seperti itu lahir dari ketidakmampuan membaca medan sosial. Mereka datang membawa kalimat hafalan, bukan membaca tragedi di depan mata. Mereka masuk ke lokasi bencana tanpa melakukan penilaian kondisi, tanpa memahami psikologi korban, tanpa memahami struktur ekonomi masyarakat kelas bawah. Akhirnya, mereka salah bicara dan malah menginjak orang yang sudah terkapar. Apa gunanya berbicara atas nama agama kalau yang keluar justru kalimat yang menyakiti orang yang sedang kehilangan segalanya?

Korban bencana bukan orang yang sedang mempertahankan gengsi. Mereka bukan orang yang pamer properti. Mereka bukan yang mengoleksi mobil, emas, dan rumah bertingkat. Mereka adalah orang yang bekerja keras bertahun-tahun untuk membangun satu tempat tidur yang layak, satu dapur kecil, satu motor untuk narik ojek, satu rumah kecil agar anak mereka tidak tidur di lantai tanah. Semua itu bukan tanda kesombongan. Itu tanda perjuangan. Ketika semuanya hilang dalam bencana, yang dibutuhkan korban hanyalah suara yang menguatkan, bukan ceramah yang memojokkan.

Dan efek ucapan tidak tepat itu nyata. Ketika korban mendengar ceramah seperti itu, mereka bukan merasa tercerahkan, mereka merasa disalahkan. Mereka baru saja kehilangan rumah, tetapi mereka harus menerima kesan bahwa kehilangan itu terjadi karena mereka “sombong”. Ini bukan hanya salah konteks. Ini tindakan menyalahgunakan momen bencana untuk menempelkan narasi moral yang tidak relevan. Sama sekali tidak membantu. Sama sekali tidak diperlukan. Sama sekali tidak ada manfaatnya.

Dalam manajemen bencana, hal pertama yang harus dilakukan adalah menstabilkan mental korban. Komunikasi harus menenangkan, bukan menghukum. Harus mengembalikan harapan, bukan meruntuhkannya. Harus memberikan rasa aman, bukan menambah beban berpikir. Jika ada yang datang dan berbicara atas nama agama tetapi malah merusak stabilitas psikologis korban, itu bukan dakwah-itu kesalahan fatal yang merugikan masyarakat.

Di tahap ini kita harus bicara dengan jujur: Ucapan “rumah dan kendaraan itu kesombongan” yang disampaikan kepada korban bencana adalah bentuk kegagalan empati, kegagalan analisis, dan kegagalan memahami tugas kemanusiaan.

Ini bukan peringatan, ini bukan nasihat, ini bukan hikmah. Ini hanya kalimat yang keluar tanpa memikirkan kondisi orang yang mendengarnya. Korban butuh bantuan, bukan vonis moral.

Yang benar itu sederhana: saat bencana, fokus pada penyelamatan, pemulihan, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Validasi penderitaan korban. Bantu mereka bangkit lagi. Tahan semua jenis ceramah moral sampai struktur hidup dasar mereka kembali berdiri. Jangan pernah melemparkan kalimat yang membuat korban merasa bersalah atas apa yang mereka perjuangkan seumur hidup.

Bencana bukan panggung ceramah moral. Bencana adalah situasi darurat yang membutuhkan empati, kecermatan membaca kondisi sosial, dan kemampuan menjaga manusia tetap kuat menjalani hari berikutnya.

Siapa pun yang datang membawa kalimat yang salah konteks harus dihentikan. Masyarakat sudah terlalu berat bebannya. Jangan ditambah dengan omongan yang tidak perlu.

Muchamad Andi Sofiyan
Penggiat literasi dari Republikein StudieClub
 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya