Berita

Kondisi Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang usai dilanda banjir bandang. (Foto: dok. kiriman warga)

Publika

Jeritan Korban Malapetaka Banjir Aceh

KAMIS, 04 DESEMBER 2025 | 21:29 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DARI Leiden, Belanda pejuang kemanusiaan, Sandyawan Sumardi  meneruskan pesan WhatsApp  dari Azhari Aiyub alias Si Ujud alias O Men, sastrawan terkemuka yang bermukim di Aceh, pendiri komunitas budaya Tikar Pandan, dan penulis novel Kura-Kura Berjanggut. 

Saya copas WhatsApp Azhari di sini, agar kita mmperoleh sedikit gambaran tentang apa yang terjadi di Aceh:

“Mulai dari Peureulak sampai Panton Labu sinyal telepon hilang. Listrik padam. Elpiji sudah mulai habis. Warung-warung di depan Masjid Julok sejauh kemarin sudah tidak jualan nasi lagi. Masjid Julok yang menampung banyak musafir sejak kemarin sudah kehabisan air untuk MCK. Tumpukan kendaraan terjadi di tiap titik banjir. Tidak ada alat berat untuk sekadar menyingkirkan pohon tumbang di jalan. Pemerintah lokal lumpuh dan kebingungan.


Tapi warga saling bantu. Pengurus Masjid Kubra sangat pemurah dan membantu banyak musafir dengan memberikan beberapa stok air bersih yang mereka punya. Bersamaku juga ada beberapa orang Tionghoa yang singgah di masjid dan menggunakan air untuk MCK. Walaupun kondisi darurat, pedagang Keude Kuta Binjai Julok masih tidak menaikkan harga barang, masih normal, harga Aqua besar masih Rp 6.000, walaupun mereka tahu besok elpiji sudah habis dan barang-barang di toko sudah kosong.

Di beberapa ruas jalan, penduduk, pemuda, dan remaja membuat pagar betis ketika ada truk atau bus melewati genangan air agar jangan jatuh tergelincir ke luar jalur. Mereka kesulitan, karena untuk bergerak dari satu titik ke titik lain, misalnya mau kembali ke rumah, yang tidak lebih 500 meter jaraknya, hampir tidak mungkin karena telah dihadang air. Jadi ada banyak orang yang terjebak di titik seperti itu, yang kemudian mereka tidak bisa menghubungi keluarganya lagi atau kehilangan kontak karena telekomunikasi mati total.

Pantai timur Aceh itu sepanjang 300 kilometer. Di sepanjang titik itulah banjir terjadi, belum lagi di atas, yang kebanyakan orang tidak tahu jalan keluar ketika banjir bandang datang.

Jalan Aceh-Medan itu sebenarnya sangat rentan. Hampir satu juta orang tergantung pada jalan itu. Karena situasi banjir, kata Azhari, truk dalam sehari hanya mampu bergerak sejauh lima kilometer. Semoga korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat segera memperoleh bantuan.

Pemerintah harus menghentikan pembalakan hutan, tambang ilegal, dan perluasan perusahaan perkebunan yang memakan lahan hutan. Di berbagai tempat, kayu-kayu gelondongan atau kayu-kayu log dari penebangan hutan liar itu menimpa rumah-rumah warga dan menutupi jalur evakuasi. Jangan sampai Sumatera kita tenggelam. Bagi orang Aceh, bencana banjir ini adalah tsunami kedua, tetapi dibuat oleh manusia".


Demikian pesan Azhari Aiyub dari Aceh. Mujur tak teraih nahas tak tertolak, Kepala BNPB sebagai lembaga resmi Pemerintah dalam penanggulangan Bencana Alam, enggan memaklumatkan  malapetaka banjir bandang di Aceh sebagai Bencana Nasional dengan dalih ‘’belum memenuhi kriteria”.

Tanpa paham apa sebenarnya yang dianggap memenuhi syarat untuk disebut Bencana Nasional, saya pribadi mendambakan Insya Allah Presiden Prabowo sebagai Panglima Tertinggi Republik Indonesia -tanpa peduli kriteria BNPB- berkenan menugaskan laskar TNI untuk berangkat ke Aceh demi membantu para korban yang sementara ini masih bertahan hidup sebagai pengejawantahan sila kedua Pancasila yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab bukan sekedar slogan belaka namun benar-benar menjadi tindakan nyata. MERDEKA! 





Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya