Berita

Wakil Ketua Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN-LMND), Agung Trianto. (Foto: Dokumentasi LMND)

Politik

LMND Kecam Praktik Serakahnomics Pemicu Bencana Sumatera

KAMIS, 04 DESEMBER 2025 | 17:24 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Dugaan eksploitasi hutan di wilayah Sumatera Utara (Sumut) karena bencana banjir bandang dan tanah longsor dicurigai ada andil kelompok elite yang bermain.

Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN-LMND) menilai, bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merupakan konsekuensi langsung dari praktik pembangunan “Serakahnomics”.

Wakil Ketua Umum Dalam Negeri EN-LMND, Agung Trianto menjelaskan, kelompok elite yang diduga terlibat dalam eksploitasi hutan Sumatera tidak hanya berasal dari korporasi besar, tetapi juga pejabat yang memfasilitasi perizinan.


"Banjir ini lahir dari kerakusan yang dilegalkan melalui praktik Serakahnomics yaitu imperialisme, oligarki, dan birokrat korup yang menghancurkan lingkungan," ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 4 Desember 2025. 

Menurut Agung, Serakahnomics bekerja melalui ekspansi industri ekstraktif tak terkendali yang mengutamakan keuntungan kelompok elite, dari korporasi besar hingga pejabat yang memfasilitasi perizinan, sambil mengabaikan keselamatan ekologis dan ruang hidup rakyat. 

Dia menyebut, bencana alam pada 3 provinsi di Sumatera itu disebabkan praktik pembukaan lahan sawit, operasi tambang, dan berbagai eksploitasi lain di kawasan hulu yang merusak penyangga lingkungan, menghilangkan resapan air, serta memperparah sedimentasi sungai.

Terlebih, dia mencatat dampak bencana tersebut terbilang sangat besar berdasarkan data terakhir badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Di mana lebih dari 750 warga meninggal, 650 orang masih hilang, dan 3,3 juta penduduk terdampak. Tim SAR juga mengevakuasi lebih dari 33 ribu warga, angka yang masih berpotensi meningkat seiring terbukanya akses ke daerah terisolasi," urainya.

Oleh karena itu, Agung memandang curah hujan ekstrem hanyalah pemicu teknis, di luar dari penyebab utamanya yang dia anggap adalah kombinasi kekuatan imperialisme yang mendorong ekstraksi sumber daya, oligarki yang menguasai lahan dan investasi, serta birokrasi korup yang memberi izin tanpa pengawasan ketat.

“Selama model pembangunan ini dipertahankan, rakyat akan terus menjadi korban. Negara tidak boleh terus menjadi penonton ketika ruang hidup rakyat dirampas oleh kaum Serakahnomics," tuturnya.

"EN-LMND mendesak pemerintah mengambil langkah struktural jangka panjang, bukan hanya merespons darurat. Memang solidaritas kemanusiaan penting, tetapi akar masalah sistemik tidak boleh diabaikan," demikian Agung menambahkan.

EN-LMND turut mengeluarkan 8 poin tuntutan yang di antaranya meliputi:

1. Moratorium total izin baru industri ekstraktif dan perkebunan sawit skala besar di kawasan hulu dan wilayah rawan bencana.
2. Audit lingkungan menyeluruh dan penindakan tegas terhadap perusahaan pelanggar.
3. Restorasi ekologis segera pada DAS kritis dan pemulihan kawasan lindung.
4. Penataan ulang tata ruang berbasis kerentanan iklim.
5. Percepatan reforma agraria untuk mengurangi ketimpangan penguasaan lahan yang menjadi lahan basah oligarki.
6. Transparansi penuh atas izin, AMDAL, dan kepatuhan perusahaan.
7. Penegakan hukum tanpa kompromi terhadap korporasi perusak lingkungan.
8. Seruan bangun persatuan nasional lawan kaum Serakahnomics dan menangkan Pancasila.


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya