Berita

Ilustrasi. (Foto: Reuters)

Global

Perdana dalam Tiga Dekade, China Pajaki Alat Kontrasepsi

SELASA, 02 DESEMBER 2025 | 21:50 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

China akan mulai mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 13 persen terhadap alat kontrasepsi, termasuk kondom. Hal ini untuk pertama kalinya dalam tiga dekade. 

Kebijakan ini menjadi langkah terbaru Beijing untuk mengatasi penurunan angka kelahiran yang dinilai mengancam stabilitas ekonomi negara tersebut.

Aturan baru itu merupakan bagian dari pembaruan UU PPN yang sebelumnya telah membebaskan barang-barang kontrasepsi dari pungutan sejak 1993, saat kebijakan satu anak masih diterapkan dan negara secara agresif membatasi kelahiran. Kini, arah kebijakan mulai berbalik.


Saat ini, pemerintah justru memberikan keringanan pajak bagi layanan yang mendukung keluarga, terutama calon orang tua. Mulai dari fasilitas penitipan bayi hingga taman kanak-kanak, layanan perawatan lansia, penyandang disabilitas, hingga layanan terkait pernikahan akan dibebaskan dari PPN. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada Januari mendatang.

“Pemerintah daerah juga menawarkan hadiah uang tunai untuk bayi baru lahir, cuti orang tua telah diperluas, dan pedoman kini melarang aborsi yang tidak dianggap diperlukan secara medis,” bunyi aturan tersebut, dikutip The Independent, Selasa, 2 Desember 2025.

China diketahui memang tengah mengubah pendekatan demografisnya secara drastis, setelah puluhan tahun membatasi jumlah anak. 

Angka kelahiran nasional negara Tirai Bambu itu terus merosot selama tiga tahun terakhir, dengan hanya 9,54 juta kelahiran pada 2024, setengah dari 18,8 juta kelahiran hampir satu dekade sebelumnya ketika kebijakan satu anak dicabut.

Meski demikian, upaya tersebut menghadapi tantangan besar yaitu karena tingginya biaya membesarkan anak. Menurut laporan YuWa Population Research Institute tahun 2024 yang berbasis di Beijing, China termasuk negara dengan biaya pengasuhan anak tertinggi di dunia.

“Membesarkan anak hingga usia 18 tahun menghabiskan biaya lebih dari 538.000 yuan (Rp1,2 miliar). Kaum muda yang berjuang dengan prospek pekerjaan yang lemah dan ekonomi yang lesu semakin enggan menanggung beban tersebut, dan banyak yang lebih memilih untuk memprioritaskan pengembangan diri dan keamanan karier daripada kehidupan keluarga,” bunyi laporan tersebut.

Selain itu, para ahli juga mengatakan pajak kontrasepsi kemungkinan tidak akan menghasilkan lonjakan kelahiran yang signifikan, melainkan berisiko meningkatkan angka infeksi HIV.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya