Berita

Banjir di Sumatera Barat membawa material kayu. (Foto: Media Sosial)

Politik

Pemerintah Wajib Benahi Tata Kelola Hutan Pasca Banjir Bandang

MINGGU, 30 NOVEMBER 2025 | 12:06 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera mendapat sorotan dari Anggota DPR RI Komisi IV, Slamet.

Menurutnya, bencana tersebut tidak hanya dipicu oleh cuaca ekstrem, tetapi juga oleh lemahnya tata kelola hutan dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan.

Slamet menyampaikan keprihatinan mendalam atas korban jiwa dan kerusakan yang terjadi. Ia menilai pemerintah perlu segera melakukan pembenahan struktural dalam pengelolaan kawasan hutan dan perkebunan.


“Hujan ekstrem memang menjadi pemicu, tetapi akar masalahnya adalah kerusakan lingkungan dan penurunan kualitas tutupan hutan. Pemerintah harus serius memperbaiki tata kelola hutan dan memastikan setiap aktivitas perkebunan mengikuti prinsip keberlanjutan,”ujar Slamet, Minggu, 30 November 2025.

Banyak kawasan hulu di Sumatera yang telah mengalami degradasi akibat pembukaan hutan, ekspansi perkebunan, serta alih fungsi lahan tanpa kajian risiko bencana. Akibatnya, kemampuan ekosistem menyerap air hujan melemah dan membuat aliran air langsung menerjang permukiman.

Slamet menekankan perlunya pengawasan ketat terhadap izin usaha perkebunan, khususnya di daerah yang berdekatan dengan kawasan lindung maupun lereng rawan longsor. Ia juga meminta pemerintah memperkuat restorasi daerah aliran sungai (DAS) dan rehabilitasi hutan dengan spesies lokal.

“Daerah hulu adalah benteng ekologis. Tanpa perlindungan yang kuat, masyarakat di hilir akan selalu menjadi korban. Pemerintah pusat dan daerah harus mempercepat pemulihan kawasan yang rusak dan mengembalikan fungsi ekologis hutan,” tambahnya.

Selain aspek ekologis, Slamet mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam memulihkan dan menjaga ekosistem Sumatera. 

Ia mendorong penerapan standar keberlanjutan dalam perkebunan sawit, kopi, kakao, serta penguatan peran masyarakat lokal dalam pengawasan lingkungan. Slamet menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi momentum untuk membangun tata kelola hutan yang lebih responsif terhadap risiko bencana.

“Banjir bandang ini adalah peringatan keras. Pemerintah harus memperketat pengawasan, memperbaiki tata ruang berbasis risiko, dan memastikan bahwa kegiatan usaha tidak merusak daya dukung lingkungan. Kita tidak boleh terus mengulang kesalahan yang sama,” tegasnya.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya