Berita

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. (Foto: Tangkapan layar BI)

Politik

BI Beberkan Utang Pemerintah Dunia Tembus Rp1,846 Kuadriliun

SABTU, 29 NOVEMBER 2025 | 18:49 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Utang publik dunia dilaporkan mencapai 110,9 triliun Dolar AS atau senilai Rp1,846 kuadriliun. Angka tersebut semakin membebani negara maju hingga negara Emerging Economies.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyoroti total utang tersebut setara 94,6 persen dari PDB global, di mana dua pertiganya atau sebesar 74,8 triliun Dolar AS berada di negara-negara maju.

"Total utang pemerintah dunia kini telah menembus 110,9 triliun Dolar AS (94,6 persen PDB), dengan dua pertiganya di negara maju. Angka fantastis ini menunjukkan bagaimana kebijakan fiskal ekspansif dan stimulus ekonomi selama dekade terakhir mengakibatkan beban berat di banyak negara," kata Perry dalam Pertemuan Tahunan BI (PTBI) di Jakarta pada Jumat, 28 November 2025.


Ia menyebut Amerika Serikat dan China tercatat sebagai dua negara dengan utang terbesar, yang jika digabungkan jumlahnya mencapai lebih dari separuh utang global.

“Total utang Pemerintah AS mencapai 38,3 triliun Dolar AS atau 125 persen dari PDB, sementara Tiongkok menempati urutan kedua dengan utang 18,7 triliun dolar AS atau 96 persen dari PDB,” papar Perry.

Jepang berada di posisi ketiga dengan utang 9,8 triliun dolar AS (230 persen PDB), diikuti Inggris sebesar 4,1 triliun Dolar AS (103 persen PDB) dan Perancis 3,9 triliun Dolar AS (117 persen PDB). 

Menurut Perry, tingginya utang tersebut terkait pembiayaan sosial jangka panjang, belanja pertahanan, serta biaya demografi menua.

"Masalahnya, membengkaknya utang Pemerintah tersebut telah mengakibatkan tingginya suku
bunga global dan menjadi beban tidak saja bagi negara maju tetapi juga bagi Emerging Market dan negara berkembang," jelasnya.

Perry menjelaskan, yield obligasi tenor 10 tahun dari empat negara maju (AS, Inggris, Uni Eropa, dan Jepang) naik dari sekitar 0 persen saat pandemi Covid-19 menjadi sekitar 4 persen saat ini, disertai kenaikan spread tenor 30 tahun hingga hampir 80 bps. Kondisi ini juga berimbas pada pasar berkembang. 

“Yield obligasi Pemerintah EMEs naik dari sekitar 5 persen pada tahun 2020 menjadi sekitar 8 persen dewasa ini. Artinya, negara-negara tersebut harus mampu mencapai pertumbuhan ekonomi nominal sebesar 8 persen agar dapat membayar kembali beban utangnya,” tegasnya.

Dampak lebih berat, kata Perry akan dirasakan negara miskin, terutama di Afrika, di mana beban utang pemerintah kini lebih besar daripada alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan, yang dapat memperburuk situasi kemiskinan struktural.

Populer

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Mudik Gratis 2026 Pemprov Jabar, Berikut Rute dan Cara Daftarnya

Sabtu, 21 Februari 2026 | 14:13

DPR Komitmen Kawal Pelaksanaan MBG Selama Ramadan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 13:32

Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi Enam Bulan, Dibayangi Ketegangan AS-Iran

Sabtu, 21 Februari 2026 | 13:21

DPR Soroti Impor Pickup Kopdes Merah Putih

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:58

Prabowo Temui 12 Raksasa Investasi Global: “Indonesia Tak Lagi Tidur”

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:49

DPR Tegaskan LPDP Harus Tegakkan Kontrak di Tengah Polemik “Cukup Saya WNI, Anak Jangan”

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:26

Pemerintah Inggris Siap Hapus Andrew dari Daftar Pewaris Takhta

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:14

Kemenag: Tidak Ada Kebijakan Zakat untuk MBG

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:04

Korban Banjir Lebak Gedong Masih di Huntara, DPR Desak Aksi Nyata Pemerintah

Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25

Norwegia Masih Kuat di Posisi Puncak Olimpiade, Amerika Salip Tuan Rumah

Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya