Berita

Mantan Presiden Joko Widodo. (Foto: Istimewa)

Publika

Politik Pembelahan Jokowi

MINGGU, 23 NOVEMBER 2025 | 05:24 WIB

ADA yang bertanya kepada saya: "Kenapa dukung Roy Suryo cs, bukan Jokowi? Bukankah dulu dukung Prabowo-Gibran, bukan Anies-Muhaimin, apalagi Ganjar-Mahfud?" Pendukung fanatik pula, katanya.

Saya jawab begini: "Yang butuh didukung itu Roy Suryo cs, bukan Jokowi. Jokowi sudah didukung Polisi. Jokowi sejak awal berniat memenjarakan orang, bukan menjawab keraguan atas ijazahnya.

Yang menuduh adalah yang membuktikan. Ini betul. Teorinya memang begitu. Tapi ijazah Jokowi sudah pernah memenjarakan dua orang, masak masih mau memenjarakan delapan orang lagi? Harusnya dibuka saja.


Meski terlambat, Hakim Konstitusi Arsul Sani sudah mencontohkan. Ia dituduh memiliki ijazah palsu, ia membukanya di hadapan publik. Ia tak melaporkan balik orang yang menuduhnya. Begitulah seharusnya, tak seperti Jokowi.

Apalagi yang dilakukan Arsul Sani baru-baru ini membantah semua dalih Jokowi dan pendukungnya sejak dulu. "Jangan-jangan, Jokowi tak bersedia membuka ijazahnya karena memang ijazahnya palsu?" Orang boleh berspekulasi.

Orang mulai curiga, kalau asli kenapa takut dibuka? Kalau asli dan takut dibuka, berarti benar dugaan orang bahwa ini murni politiknya Jokowi. Jokowi menjadikan kasus ijazahnya untuk kepentingan politiknya.

Ini juga alasan saya, kenapa mendukung Roy Suryo cs, bukan Jokowi? Politik saya sudah berbeda dengan Jokowi-Gibran, tapi dengan Prabowo masih. Politik Jokowi sudah tidak asyik lagi dan sudah kedaluwarsa.

Politik Jokowi itu hidup dalam pembelahan, konflik politik. Selama ada pembelahan, selama itu Jokowi relevan. Sementara itu politik Prabowo merangkul dan dirangkul. Sebetulnya, bertolak-belakang sekali dengan politiknya Jokowi.

Politiknya Jokowi merangkul dan dirangkul pun dalam rangka untuk kepentingan politiknya. Bukan dalam rangka merangkul dan dirangkul itu sendiri. Merangkul Prabowo pun dulunya untuk kepentingan politiknya. Beda sekali dengan Prabowo.

Kasus ijazah ini bukti nyata karakteristik politik Jokowi itu sendiri. Asli atau palsu, sebetulnya sudah tak relevan lagi. Kalau terbukti palsu memang akan lebih tragis akhir politik Jokowi. Tapi kalau asli pun memperbaiki citra politik Jokowi yang baik, sudah tak tertolong. Prabowo jauh sekali dengan cara berpolitik seperti itu.

Saya kira, seperti halnya kasus Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong, termasuk Bambang Tri dan Gus Nur, politik Prabowo sudah menunggu di ujung. Kalau nanti Roy Suryo cs bernasib malang, Prabowo mustahil membiarkan begitu saja. Kasus ijazah ini kasus yang remeh-temeh. Tak ada target politik Prabowo di situ.

Tapi setidaknya Roy Suryo cs berhasil membongkar dan mengakibatkan Gibran tak bisa lagi mencalonkan diri pada Pilpres 2029. PKPU No 19 tahun 2023 Pasal 18 ayat 3 berhasil dibongkar Roy Suryo cs. PKPU ini PKPU paling masuk angin dan harus segera dihapus.

Mana ada orang yang tak punya ijazah SMA, lalu punya ijazah sarjana, dan diperbolehkan pula mendaftar sebagai capres-cawapres? Dulu publik tidak ngeh, tapi berkat Roy Suryo cs semua jadi nggeh permainan politik kotor seperti itu.

Bisa jadi karena itu target politik Jokowi pun sudah beralih dari Gibran ke Kaesang. PSI sudah membuat kebijakan bahwa setiap spanduk dan alat peraga yang dibuat harus ada foto Jokowi dan Kaesang.

Wajar saja, Jokowi benar-benar akan bekerja keras untuk membesarkan PSI. PSI pertaruhan politik Jokowi. Berhasil atau tidak, kita lihat saja nanti. Sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali akan jatuh juga. Begitulah.


Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya