Berita

Ilustrasi. (Foto: soflbi.com)

Bisnis

Bank Dibanjiri Likuiditas Rp800 Triliun, Mengapa Belum "Nyata"?

RABU, 19 NOVEMBER 2025 | 19:58 WIB | OLEH: PERDANA WAHYU SANTOSA*

BANK Indonesia (BI) dan pemerintah secara agresif mengalirkan likuiditas ke sektor perbankan sepanjang 2025. Menurut Gubernur BI, total injeksi likuiditas telah mencapai sekitar Rp 800 triliun. Komposisinya terdiri dari tiga kanal utama yaitu pengurangan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pembelian Surat Berharga Negara (SBN), serta insentif Kredit Likuiditas Makroprudensial (KLM).

• Dari sisi instrumen moneter, BI telah menurunkan outstanding SRBI senilai lebih dari Rp 200 triliun.

• Sementara itu, pembelian SBN oleh BI diperkirakan sekitar Rp 217 triliun, untuk menyerap sebagian likuiditas dan sekaligus mendukung harmonisasi kebijakan moneter-fiskal.


• Tambahan likuiditas juga berasal dari insentif KLM senilai sekitar Rp 383,6 triliun yang diperuntukkan bagi bank BUMN, bank asing, dan cabang bank tertentu agar menyalurkan kredit ke sektor riil.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kemenkeu juga menyuntikkan dana segar ke perbankan: sekitar Rp 200 triliun dari saldo kas negara dipindahkan dari BI ke bank-bank komersial, terutama bank BUMN (lihat Tabel 1). Langkah ini digambarkan sebagai bagian dari strategi pro-growth yang dirancang untuk memastikan likuiditas tidak hanya mengendap di bank, tetapi benar-benar mengalir ke sektor usaha melalui kredit.



Melalui kebijakan ini, BI juga telah menurunkan secondary reserve requirement dan memperlonggar aturan cadangan agar bank memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam memanfaatkan likuiditas jangka pendek. Kombinasi kebijakan moneter dan fiskal tersebut mencerminkan upaya terkoordinasi antara BI, Kementerian Keuangan, dan OJK untuk menjaga aliran dana tetap produktif.
Kenapa Likuiditas Besar Belum "Nyata"?

Meskipun suntikan likuiditas sangat besar, kenyataannya belum semua dana itu berhasil mengalir secara optimal ke kredit produktif. Gubernur BI, Perry Warjiyo, telah menyoroti hal ini. Ia menyatakan bahwa meskipun likuiditas "cukup berlimpah", perbankan belum menurunkan suku bunga kredit secara agresif. Padahal, BI Rate telah dipangkas total 125 bps menjadi 4,75 %, dan suku bunga deposito juga telah turun.

Ada beberapa faktor yang menjelaskan kenapa transmisi likuiditas ke kredit belum maksimal:

• Permintaan Kredit yang Masih Lemah/Tertahan. BI mencatat adanya undisbursed loan (plafon pinjaman yang belum dicairkan) sangat besar yang mencapai sekitar Rp 2.372 triliun, atau sekitar 22?"23% dari total plafon kredit. Ini menunjukkan bahwa meskipun bank "ingin" menyalurkan, namun debitur belum mengajukan pencairan atau menahan permintaan karena sikap wait and see diduga karena kondisi ekonomi dan bisnis belum kondusif.

• Suku Bunga Spesial dan Special Rate. BI menyebut sebagian besar dana pihak ketiga (DPK) masih datang dari deposan besar yang mendapat “special rate” suku bunga di atas penjaminan LPS. Praktik ini membuat biaya dana bank tetap tinggi, sehingga bank kesulitan menurunkan suku bunga kredit lebih agresif.

• Risiko Moral Hazard dan Alokasi Tidak Efisien. Suntikan besar likuiditas dan dana negara ke bank menuntut agar penggunaan dana diawasi secara ketat. BI mengingatkan bahwa “uang Rp 800 triliun harus mengalir” -maksudnya bukan hanya menguatkan neraca bank, tetapi benar-benar disalurkan ke kredit produktif. Jika tidak, ada risiko dana besar hanya menjadi “alat likuiditas” internal belaka tanpa dampak nyata ke perekonomian.

Penutup

Situasi likuiditas perbankan Indonesia saat ini bisa dibilang “over-abundant” di atas kertas, dengan BI dan pemerintah telah menyuntikkan likuiditas hingga ± Rp 800 triliun. Namun, tantangan sebenarnya terletak pada efektivitas aliran dana ini menuju sektor riil melalui kredit: apakah bank mampu menurunkan suku bunga dan menyalurkan kredit; dan apakah debitur -terutama usaha kecil menengah dan pelaku usaha produktif- memiliki keberanian dan kebutuhan untuk meminjam.

Dari sudut tata kelola (GCG) dan manajemen risiko, pengawasan atas penggunaan likuiditas menjadi semakin penting. BI dan OJK perlu memastikan bahwa suntikan likuiditas tidak sekadar memperkuat neraca, tetapi benar-benar menjadi modal bagi ekspansi kredit produktif. Selain itu, mekanisme transparansi dan akuntabilitas dalam penyaluran dana -baik yang berasal dari BI maupun pemerintah- harus diperkuat agar tidak menimbulkan moral hazard.

Jika aliran likuiditas besar ini berhasil diarahkan dengan baik, potensi dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi bisa signifikan. Sebaliknya, bila dana mengendap atau disalurkan ke instrumen keuangan semata, maka tekanan likuiditas akan menjadi “bom waktu” yang mengancam efektivitas kebijakan pro-pertumbuhan. Pemerintah, regulator, dan perbankan harus bersinergi agar likuiditas besar ini benar-benar mengalir dan berdampak pada pembangunan ekonomi jangka panjang.

*Penulis adalah Guru Besar Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI,  Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Gibran Tanpa Ijazah

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:26

Prabowo dan Presiden FIFA Bakal Saksikan Laga Indonesia Versus Thailand

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:07

GPNN: Listyo Berhasil Ubah Kultur Kerja Polri

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:47

Wantimpres Bukan Sekadar Membenarkan Keputusan Kekuasaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:20

Indonesia Akhiri Asian Games 2026 dengan 5 Emas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:03

95 Persen Aspirasi Buruh Diklaim Masuk RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:45

DPR Yakin Merger BUMN Mampu Dongkrak Dividen

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:19

Putusan Sidang Etik Mantan Kasat Reskrim Jakpus Dipertanyakan Kuasa Hukum

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:56

Densus 88 Sikat 11 Tersangka Terorisme di Enam Provinsi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:35

Ketum PPP Targetkan Satu Fraksi di DPRD Surabaya pada Pemilu 2029

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:23

Selengkapnya