Berita

Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi. (Foto: Istimewa)

Publika

Nasib Budi Arie Setiadi: Dihajar PSI, Ditolak Gerindra, Dicuekin Prabowo

RABU, 12 NOVEMBER 2025 | 14:11 WIB

DIHAJAR pendukung Joko Widodo alias Jokowi, ditolak kader Gerindra di berbagai daerah, itulah nasib Budi Arie Setiadi kini.

Bahkan Ade Armando, pendukung Jokowi sekaligus kader PSI, menganggap pernyataan Budi Arie tentang arti Projo tak terkait Jokowi, penghapusan foto Jokowi di logo Projo, adalah pernyataan perang terhadap Jokowi.

Budi Arie masuk Gerindra silakan saja, tapi upaya menghapus jejak Jokowi di Projo, jelas kurang ajar.


Pendukung Jokowi yang lain, Sudarsono kira-kira begitu juga. Tak masalah dikatakan relawan Jokowi pecah. "Pecah di antara pendukung yang setia dan yang hanya membawa misi pribadi," tegasnya.

Kalau dilihat yang menghajar Budi Arie atau Projo atas manuvernya berasal dari pendukung Jokowi yang berada di PSI

Ade Armando jelas PSI dan Sudarsono, pendukung Jokowi dari Pemalang, Jawa Tengah, yang sebelumnya adalah kader PDIP, agaknya juga akan beralih ke PSI.

PSI memang terlihat dirugikan dengan manuver Budi Arie dan Projo ini. Maunya PSI tentu saja semua organ relawan Jokowi mendukung PSI, karena Jokowi hanya akan membesarkan PSI.

Tapi kalau dilihat Projo mendatangi kediaman Jokowi sebelum Kongres Projo ke-3, bisa jadi manuver Projo ini sepengetahuan Jokowi. Sutradaranya masih satu orang, bukan dua orang.

Memang tak lucu juga, kalau tak ada dari pendukung Jokowi yang menyerang Budi Arie atau Projo. Makin ketahuan dan mudah ditebak bahwa manuver Projo atau Budi Arie memang strateginya Jokowi.

Apalagi Jokowi adalah politisi paling canggih saat ini. Sen kiri belok kanan, sudah tapi belum, iya berarti tidak! Ini memang ada kalanya dilecehkan, dicap pembohong, tapi hakikat seorang politisi sebetulnya memang begitu.

Sejauh ini Jokowi selalu berhasil dan belum terkalahkan. Terlepas, bagaimana pun penilaian orang soal caranya. Termasuk, manuver Budi Arie atau Projo ini. Semua kini membicarakan Budi Arie atau Projo, dan ujung-ujungnya, siapa lagi kalau bukan tentang Jokowi.

Pengalaman Pilpres lalu, Jokowi terkesan memberi pesan yang berbeda-beda kepada siapapun orang yang bertanya kepadanya soal dukungan Capres. Ia tak pernah menyebut nama, tapi ciri-ciri. Itupun juga disesuaikan dengan kecenderungan yang bertanya.

Intinya, Jokowi jago mengolah dan ujung-ujungnya, menguntungkan politiknya. Konon, PPP salah satu korban yang keasyikan, akhirnya malah terlempar dari Senayan.

Bisa jadi juga pesan yang diberikan ke Budi Arie atau Projo, berbeda dengan pesan yang diberikan ke Ade Armando dan Sudarsono. Mereka bentrok, tapi sama-sama demi Jokowi. Satu, karena demi kesetiaan, dan kedua, karena sudah dikhianati.

Dalam situasi politik seperti saat ini, di mana posisi Jokowi relatif terjepit, mustahil Jokowi membiarkan Budi Arie atau Projo hengkang begitu ssaja Dan lebih mustahil lagi, sengaja membuangnya tanpa alasan yang kuat.

Budi Arie atau Projo adalah peluru yang tak bisa sembarangan ditembakkan. Dia mustahil juga meninggalkan, apalagi berkhianat kepada Jokowi.

Ingat, Projo atau Budi Arie adalah lokomotif organ relawan yang dipakai Jokowi untuk merealisasikan semua agenda politiknya. Bukan Sudarsono atau Ade Armando, yang kerap juga membuat blunder politik sendiri yang tak perlu. Anak emas versus anak lele.

Alasan Budi Arie atau Projo tak lagi mengartikan Projo sebagai Pro-Jokowi, menghapus foto Jokowi di logo Projo, karena Presiden kita saat ini Prabowo bukan lagi Jokowi, karena itu Budi Arie harus masuk Gerindra, dan lain sebagainya. Semua alasan itu terlalu kuat untuk dibantah.

Dan karena alasan itu pula, justru jejak Jokowi jadi terlihat jelas di situ. Kiranya hanya Jokowi yang sanggup berpikir sejauh itu. Budi Arie atau Projo belum sampai ke situ. Kalaupun sudah sampai, Budi Arie atau Projo tak akan berani juga menjalankannya.

Budi Arie atau Projo bisa jadi adalah eksperimen politik Jokowi untuk melihat reaksi publik, termasuk reaksi dari internal Gerindra dan Presiden Prabowo itu sendiri.

Serangan dari pendukung Jokowi terhadap Budi Arie atau Projo relatif terlambat dan tidak besar juga. Sudarsono tampil justru setelah bertemu Jokowi di rumahnya.

Kalau Ade Armando, insting intelektualnya dan gaya berpolitiknya memang seperti itu. Justru aneh kalau Ade Armando diam, tak bereaksi, melihat manuver Budi Arie atau Projo yang di luar pakem.

Hantaman dari Ade Armando langsung pakai diksi Budi Arie atau Projo mau ngajak perang Jokowi. Perang yang sama-sama tak pegang senjata buat apa pula?

Jokowi sudah putuskan PSI menjadi partai yang akan dibesarkannya, lalu kerja Projo apa lagi, kalau tidak merangsek lebih dalam ke dalam kekuasaan melalui Gerindra? Begitulah kira-kira.

Penolakan kader Gerindra dari berbagai daerah atas rencana bergabungnya Budi Arie atau Projo, sinyal juga bagi Jokowi bahwa tak mudah mendapatkan dukungan dari internal GGerindra

Penolakan itu bisa juga terjadi secara natural, tapi bisa juga sengaja digerakkan dari elite di atas. Elite mustahil menolak, tapi kalau atas nama kader sah-sah saja.

Padahal Budi Arie atau Projo sudah terang-terangan hendak mencopot foto Jokowi di logo. Dan nama Gibran pun tak disebut akan diusung lagi bersama Prabowo. Usulan Prabowo-Gibran dua periode nyaris mustahil.

Agaknya memang bukan eranya Budi Arie atau Projo atau bahkan Jokowi lagi. Sebab, apa pun langkah politik yang diambil seperti terkunci, bahkan di dalam dan di luar.

Menariknya, Presiden Prabowo tak berkomentar apa-apa soal Budi Arie. Apakah ini tanda eksperimen politik bersandi Budi Arie Projo ini gagal? Bisa jadi demikian. Tapi permainan politik belum berakhir.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Penyegelan Tiffany & Co jadi Pesan Tegas ke Pelaku Usaha yang Curang

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:57

Istri Mantan Kapolres Bima Kota Turut Diperiksa soal Kepemilikan Narkoba

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:36

Dokter Diaspora Kenang Kisah Bersama PDIP saat Bencana Sumatera

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:19

Kepala BGN Hingga Puluhan Perwira Polri Peroleh Bintang Jasa dari Prabowo

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:57

Sekjen PDIP: Bencana adalah Teguran Akibat Kebijakan yang Salah

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:32

Garda Satu Papua Barat Tempuh Jalur Hukum Atasi Aksi Premanisme

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:10

Kerry Riza Chalid Dituntut Bayar Uang Pengganti Rp13,4 Triliun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:01

Legislator Demokrat Jakarta Pimpin Kader Ziarahi Makam Misan Syamsuri

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:54

Polisi Tangkap Warga Malaysia Pengedar Narkoba Senilai Rp39,8 Miliar

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:28

BPKH Dorong Peningkatan Diplomasi Ekonomi ke Arab Saudi

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:07

Selengkapnya