Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Kebenaran Tidak Bisa Dipenjara

SELASA, 11 NOVEMBER 2025 | 06:48 WIB

KASUS kriminalisasi kritik menguji apakah Indonesia masih menjunjung asas negara hukum atau telah bergeser menjadi negara kekuasaan. Ketegangan antara peran Polri sebagai penegak hukum dan tekanan politik dalam penanganan kritik terhadap pejabat negara kembali menjadi perhatian publik. 

Dalam konteks demokrasi modern dan hukum konstitusional, penanganan kasus kritik terhadap pejabat publik seperti yang terjadi pada Roy Suryo bukan hanya persoalan pidana, melainkan ujian apakah negara tunduk pada rule of law atau pada rule by power.

Dalam sistem hukum demokrasi, sebagaimana dipraktikkan di negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris, maupun Jepang, prinsip dasarnya sangat jelas bahwa kebenaran harus diuji, bukan dibungkam.


Jika seorang warga negara mengkritik atau menuduh pejabat publik melakukan kecurangan dan mengajukan bukti ilmiah yang dapat diuji, maka negara tidak boleh langsung memenjarakan penuduh, namun wajib membuka mekanisme pembuktian independen dan transparan.

Kedudukan Kritik dalam Hukum Modern

Dalam teori demokrasi konstitusional (John Locke, Montesquieu, Habermas), pejabat publik memegang mandat rakyat, bukan kekuasaan pribadi. Konsekuensinya: (1) tindakan pejabat wajib transparan. (2) Informasi terkait integritas pejabat termasuk ijazah, rekam karier, dan kompetensi merupakan informasi publik. Dan (3) Mengkritik pejabat publik dilindungi hukum, selama kritik memiliki dasar faktual atau bertujuan menguji kebenaran.

Menutup ruang kritik berarti menempatkan kekuasaan di atas kebenaran, dan itu merupakan bentuk penyimpangan kekuasaan. Landasan hukum yang melindungi rakyat dalam menyampaikan kritik, di antaranya: UUD 1945 Pasal 28E ayat (3): “Setiap orang berhak atas kebebasan menyatakan pendapat” dan UUD 1945 Pasal 28F: “Hak untuk memperoleh dan menyampaikan informasi merupakan bagian dari hak asasi warga negara”.

Kemudian UU No. 39/1999 tentang HAM, Pasal 23 dan 25 -- jaminan kebebasan berpendapat, UU No. 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik -- ijazah pejabat publik termasuk informasi publik yang wajib dibuka, UU No. 30/2014 tentang Administrasi Pemerintahan -- pejabat negara wajib tunduk pada asas akuntabilitas dan keterbukaan.

Selanjutnya hukum Internasional (yang mengikat Indonesia): ICCPR Pasal 19 (Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik) -- hak menyampaikan pendapat dilindungi PBB. ICCPR telah diratifikasi Indonesia melalui UU 12/2005, sehingga mengikat di dalam negeri.

Dengan demikian, mengkritik pejabat publik bukan tindak pidana, selama berada dalam koridor kepentingan publik.

Prosedur Hukum Modern yang Seharusnya Dilakukan Negara

Jika ada tuduhan bahwa pejabat publik menggunakan ijazah palsu, maka negara wajib: (1) Membentuk tim verifikasi independen (kampus, pakar forensik dokumen), (2) Menguji bukti secara terbuka di ruang publik, (3) Jika tuduhan terbukti bohong -- penuduh dapat dipidana dengan syarat terdapat niat jahat (mens rea), dan (4) Jika tuduhan benar, maka negara wajib mengambil tindakan hukum terhadap pejabat yang bersangkutan.

Penghukuman tidak boleh mendahului pembuktian. Membalik prosedur ini berarti melanggar asas due process of law dan prinsip fair trial.

Posisi Polri: Penegak Hukum atau Alat Kekuasaan?

Dalam negara hukum, Polri harus tunduk pada Konstitusi dan asas keadilan publik. Namun, ketika kritik terhadap pejabat justru dikriminalisasi tanpa pembuktian terlebih dahulu, hal itu mengarah pada: (1) Penyelewengan kewenangan (abuse of power), (2) Pembungkaman demokrasi, dan (3) Kriminalisasi perbedaan pendapat (political prosecution).

Pertanyaannya kini sederhana namun fundamental: Apakah hukum di Indonesia melindungi kebenaran atau melindungi kekuasaan?

Jika bukti yang diajukan warga negara terkait dugaan pelanggaran pejabat tidak diuji, tetapi justru pengkritiknya yang dipenjara, maka yang melanggar hukum bukan rakyat, tetapi negara yang menutup pintu kebenaran. Kritik bukan kejahatan. Pembungkaman kritik adalah ancaman bagi republik.

Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.
 
Purnawirawan TNI AL, pemerhati kebangsaan

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya