Berita

Presiden ke-2 RI Soeharto saat menjabat Pangkostrad tahun 1965. (Foto: Facebook Gabriel GML)

Politik

Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bikin Indonesia Makin Dewasa

MINGGU, 09 NOVEMBER 2025 | 06:55 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Direktur Eksekutif Veritas Institut, Aldi Tahir menegaskan bahwa pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto seharusnya dilihat dari fakta sejarah dan kontribusi nyata, bukan sekadar perasaan atau luka masa lalu elite politik.

Pernyataan itu muncul menanggapi pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang menolak wacana pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto karena luka sejarah yang dirasakannya dari era Orde Baru.

Aldi menekankan bahwa pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto bisa menjadi simbol kedewasaan bangsa, bahwa Indonesia mampu mengakui jasa siapapun tanpa terjebak dalam dendam sejarah.


“Ini bukan soal menyucikan sejarah atau menghapus kritik. Ini soal menghormati fakta, mengakui jasa, dan menegaskan bahwa bangsa ini dewasa untuk memisahkan emosi dari penilaian historis,” kata Aldi dalam pesan elektronik kepada RMOL di Jakarta, Sabtu malam, 8 November 2025.

“Gelar pahlawan nasional bukan soal suka atau tidak. Ini soal menilai jasa seseorang secara objektif. Kalau setiap luka pribadi dijadikan alasan, maka bangsa ini akan kehilangan kemampuan untuk mengakui jasa tokohnya,” 

Menurut dia, bangsa besar tidak boleh membiarkan sejarah ditutupi oleh dendam politik atau persepsi subjektif. Ia menegaskan bahwa Soeharto memiliki kontribusi signifikan, termasuk stabilitas nasional, pembangunan infrastruktur dasar, ketahanan pangan, dan penguatan ekonomi rakyat.

“Tentu saja sejarah tidak bisa dilepaskan dari kritik. Tapi mengabaikan jasa besar Soeharto hanya karena kontroversi politik masa lalu adalah pendekatan yang tidak adil,” tambahnya.

Aldi yang juga Kader GMD ini menyinggung risiko politik dendam yang dapat muncul jika pertimbangan subjektif mendominasi keputusan kenegaraan. 

“Jika alasan pribadi atau pengalaman keluarga Soekarno menjadi faktor utama penolakan, ini bisa menimbulkan politik dendam yang menghambat rekonsiliasi nasional. Kita sudah melihat contoh pemimpin seperti Gus Dur, Taufiq Kiemas, dan Presiden Prabowo yang mampu menghormati tokoh masa lalu sekaligus kritis terhadap sejarah. Itu contoh keteladanan,” pungkasnya.


Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

DPR Minta TVRI Maksimalkan Siaran Piala Dunia hingga Pelosok Negeri

Jumat, 30 Januari 2026 | 12:12

Budisatrio Dinilai Tepat Gantikan Sugiono di Kementerian Luar Negeri

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:53

KPK Kembali Periksa Lima Pejabat Pemkab Bekasi Terkait Kasus Suap Ijon Bupati Ade Kuswara

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:47

Trump: Putin Setuju Tahan Serangan ke Ukraina Selama Musim Dingin Ekstrem

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:29

Lonjakan Harga Emas Diprediksi Tembus Rp4,2 Juta Akhir Tahun

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:16

Pasar Minyak Masih Bergejolak Tanggapi Rencana AS Serang Iran

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:08

Bawang Putih Impor Bakal Masuk Pasar, Kemendag Targetkan Harga Jinak Sebelum Ramadan

Jumat, 30 Januari 2026 | 10:50

Saham Nokia Anjlok, Ketua Dewan Komisaris Mengundurkan Diri

Jumat, 30 Januari 2026 | 10:20

Buntut Kasus Hogi Minaya, Kapolresta Sleman Dinonaktifkan

Jumat, 30 Januari 2026 | 10:01

Rapat Pleno Tetapkan Gus Yahya Kembali Pimpin NU

Jumat, 30 Januari 2026 | 10:01

Selengkapnya