Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Kopdes Mesti Contoh Saemaul Undong di Korsel

SELASA, 04 NOVEMBER 2025 | 17:45 WIB

PRESIDEN Prabowo Subianto baru saja mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Fisik Gerai, Pergudangan, dan Kelengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Inpres ini merupakan kelanjutan dari Inpres No. 9 Tahun 2025 mengenai percepatan pembentukan kelembagaan Koperasi Desa Merah Putih.

Dalam Inpres terbaru itu, PT Agrinas Pangan Nusantara, sebuah BUMN di bawah holding pangan negara, diberi mandat untuk melaksanakan proyek pembangunan fisik dan kelengkapan fasilitas koperasi di desa-desa. Pemerintah juga telah menyiapkan pendanaan besar dari Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp16 triliun untuk mendukung target pembangunan sekitar 5.000 koperasi hingga akhir tahun ini, dan menurut Menteri Koperasi akan terus ditingkatkan menjadi 80.000 koperasi di tahun-tahun mendatang.

Langkah ini tentu menunjukkan komitmen kuat pemerintah terhadap pembangunan ekonomi rakyat. Namun, dengan besarnya dana dan skala proyek, semestinya program ini tidak dijalankan dengan cara lama yang top-down, dan minim partisipasi rakyat.


Koperasi adalah lembaga ekonomi rakyat, dan karena itu rakyat desa harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar penerima proyek atau penonton di halaman sendiri. Pembangunan fisik koperasi di desa seharusnya menjadi momentum untuk menggerakkan energi kolektif masyarakat, bukan hanya untuk membangun gedung dan gudang, tetapi juga membangun jiwa gotong royong dan kesadaran kemandirian seperti yang dilakukan Korea Selatan melalui Gerakan Saemaul Undong di tahun 1970-an.

Presiden Park Chung-hee kala itu meluncurkan Saemaul Undong sebagai gerakan nasional berbasis desa. Pemerintah hanya memberikan bantuan awal seadanya – berupa semen, baja, dan sedikit dana – namun tanggung jawab utama pembangunan diambil oleh masyarakat sendiri. Desa-desa didorong untuk bekerja bersama, saling bantu, dan berinovasi membangun desa yang mandiri, bersih, produktif, dan modern.

Hasilnya luar biasa. Dalam satu dekade saja, ribuan desa miskin berubah menjadi desa yang mandiri secara ekonomi. Koperasi-koperasi tumbuh pesat, menjadi pusat kegiatan ekonomi rakyat yang efisien dan berdaya saing. Saemaul Undong tidak berhenti sebagai proyek pembangunan fisik, melainkan berkembang menjadi gerakan sosial nasional yang melahirkan budaya kerja keras, disiplin, dan solidaritas yang kemudian menjelma menjadi fondasi industrialisasi dan kebangkitan nasional Korea Selatan.

Dari gerakan desa itu pula lahir semangat kemandirian nasional Korea (jaju, jalip, dan jagang) yang kemudian mewujud dalam kemandirian politik, ekonomi, teknologi, hingga budaya. Gelombang Korean Wave (Hallyu) dan kekuatan global K-Pop yang kini dikenal dunia berakar dari nilai-nilai Saemaul: kerja kolektif, percaya diri, dan tidak bergantung pada pihak luar.

Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Indonesia seharusnya belajar dari itu. Bukan proyek yang dikendalikan penuh oleh BUMN atau dikerjakan oleh kontraktor pusat, melainkan gerakan sosial-ekonomi berbasis masyarakat desa. Pemerintah cukup menjadi fasilitator dan pendorong. Rakyatlah yang mesti menjadi subyek pembangunan, bukan obyek proyek.

Jika semangat Saemaul Undong diterapkan, pembangunan fisik koperasi akan menjadi pembangunan jiwa kolektif bangsa. Gedung koperasi bukan sekadar bangunan, melainkan simbol kebangkitan ekonomi rakyat desa.

Tanpa pelibatan masyarakat, dana Rp16 triliun itu hanya akan menjadi tumpukan bangunan kosong tanpa jiwa. Tapi jika rakyat dilibatkan penuh, koperasi desa bisa menjadi pusat ekonomi mandiri yang menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan kemandirian ekonomi bangsa.


Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), CEO Induk Koperasi Usaha Rakyat (INKUR)


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Dilema Kelas Menengah dan Bawah di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:31

Lewat Surat Terbuka, Forum Guru Besar Indonesia Desak Gibran Mundur dari Wapres!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:20

Prabowo Berbelasungkawa atas Wafatnya Jenderal TNI Purn Subagyo

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:17

Harga Emas Antam Ambruk, Termurah Dijual Rp1,33 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:13

Sempat Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Mode Korut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:03

Muslim Arbi Apresiasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Swasembada Beras Jadi Prestasi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:59

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Rupiah Bergerak ke Rp18.023 per Dolar AS

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49

Komisi II DPR Desak HGU Perusahaan Pembakar Hutan Dicabut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44

BEI Pastikan Saham HSC Tetap Diperdagangkan, Hanya Dicoret dari Hitungan IHSG

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:40

IHSG Dibuka Merah, Dua Menit Perdagangan Langsung Lompat 1,8 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:22

Selengkapnya