Berita

Ilustrasi. (Foto: Humas KKP)

Bisnis

Paparan Cesium-137 dari Kontainer Bikin Udang Indonesia Di-blacklist Amerika

SABTU, 25 OKTOBER 2025 | 21:33 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Krisis kontaminasi Cesium-137 (Cs-137) menimpa ekspor udang dan cengkeh Indonesia. Kasus ini bermula dari deteksi material radioaktif pada kargo dari Indonesia yang dikirim ke Amerika Serikat (AS).

Kondisi itu bikin Amerika khawatir, dengan cepat meluas dari insiden kargo tunggal menjadi ancaman blanket ban regulatori yang berpotensi merusak reputasi keamanan pangan nasional.

Awalnya, Bea Cukai dan FDA AS mendeteksi satu konteiner berisi udang beku milik PT Bahari Makmur Sejati (BMS) terpapar Cs-137 dan memasukkanya ke Import Alert #99-51. 


Lalu, Food and Drug Administration (FDA) AS menemukan lagi paparan Cs-137 pada kontainer milik PT Natural Java Spice (NJS) yang mengekspor cengkeh. 

FDA kemudian mengaktifkan first-ever use dari import certification authority, mewajibkan semua udang dan rempah asal Jawa/Lampung memiliki sertifikat bebas Cs-137 mulai 31 Oktober 2025.

Tak lama kebijakan ini dikeluarkan, industri udang dalam negeri terpukul, order ekspor turun 30-35 persen dan harga udang paname di tambak jatuh hingga 35 persen.

Setelah didalami, paparan Cesium-137 ini ternyata dari kawasan industri Cikande, yakni berupa material scrap-metal yang diimpor oleh PT Peter Metal Technology (PMT).

Buktinya, PT PMT yang melakukan produksi peleburan scrap mencemari kawasan dan menyebarkan debu Cs-137 ditemukan 22 pabrik yang ada di kawasan industri terpapar. 

Paparan Cs-137 akhirnya menyebar dan mengkontaminasi logistik yang dikirim via kontainer yang dipakai untuk mengekspor udang dan cengkeh ke pasar dunia dan Amerika. 

Krisis kontaminasi Cs-137 pada ekspor udang dan cengkeh Indonesia berakar pada kegagalan sistemik yang kompleks. Salah satunya kelemahan pengawasan material radioaktif di hulu (infrastruktur RPM yang terbatas), dan kerentanan cross-contamination di rantai logistik nasional akibat standar keamanan pangan (HACCP) belum memasukkan bahaya radiologi.




Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya