Berita

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Nita Noriko bersama petani kampung Cibeureum, Desa Sukanagalih, Cianjur, Jawa Barat. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Nusantara

UAI Berdayakan Petani Cianjur Lewat Usaha Peternakan dan Pupuk Organik

KAMIS, 23 OKTOBER 2025 | 23:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Produktivitas budidaya hortikultura petani kampung Cibeureum, Desa Sukanagalih, Cianjur, Jawa Barat berhasil ditingkatkan melalui peternakan dan pembuatan pupuk organik.

Hal itu menjadi fokus dalam kegiatan pengabdian masyarakat Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI).

“Konservasi tanah yang dilakukan adalah menggunakan asam humat dan menurunkan dosis pupuk hingga 50 persen. Konservasi air yang diupayakan adalah membangun  sistem irigasi berupa  penyediaan air di dalam embung yang terkoneksi dengan kolam,” ujar Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Nita Noriko dalam kterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 23 Oktober 2025.  


Lanjut dia, pembangunan sistem irigasi yang berasal dari 3 embung dan 4 kolam berhasil mengairi 10 ha lahan pertanian sehingga kelangkaan air ketika musim kemarau dapat ditangani. 

Menurut Nita, peningkatan produktivitas hortikultura belum diiringi dengan peningkatan ekonomi petani. Hal ini disebabkan harga penjualan yang tidak dapat  dikendalikan oleh petani. 

“Oleh sebab itu petani perlu melakukan peluang usaha lain di luar pertanian. Usaha alternatif seperti budidaya ikan, peternakan ayam dan bebek serta pembuatan pupuk mandiri untuk mengurangi biaya pembelian pupuk,” jelasnya.    

Masih kata Nita, permintaan pasar terhadap ayam kampung (Gallus domesticus)  dan ikan nila (Oreochromis niloticus) di sekitar desa karena berdekatan dengan rumah makan. Potensi peternakan lain yang dapat dikembangkan adalah bebek manila (Cairina moschata) dan budidaya maggot. Alternatif lain adalah usaha penyediaan pupuk organik yang mengkombinasikan sampah pertanian dengan kotoran kambing, asam humat dan kapur

“Metode  pemberdayaan masyarakat yang diterapkan adalah  meningkatkan  motivasi berwirausaha dan merintis usaha bidang peternakan serta penyediaan pupuk. Jumlah petani yang diberdayakan adalah 10 orang. Langkah pertama adalah pemberian motivasi untuk menjalankan usaha selain pertanian. Langkah kedua, petani  memilih minat jenis usaha peternakan ikan, ayam, budidaya maggot atau  pembuatan pupuk. Langkah ketiga, mengarahkan petani  untuk menjalankan  budidaya ikan yang sebelumnya diberikan edukasi terkait persiapan embung,  Sebanyak 2 orang petani diarahkan untuk pembuatan pakan ternak yaitu maggot,” jelasnya lagi.  

Langkah keempat, sambungnya, mengarahkan dua orang petani untuk menjalankan mini project peternakan ayam kampung dan bebek. Langkah kelima, mengarahkan dua orang petani untuk pembuatan pupuk organik spesial. Langkah keenam mengarahkan petani mempromosikan hasil budidayanya. 

“Langkah ketujuh adalah monitoring dan evaluasi terhadap aktifitas yang sudah dilakukan. Waktu kegiatan yang dibutuhkan selama 8 bulan yaitu dari bulan Maret hingga  Oktober 2025,” ungkap Nita.  

“Hasil pemberdayaan masyarakat berhasil memberdayakan dua orang petani bersama keluarganya menambah jumlah ayam yang pada awalnya 5 ekor menjadi  9 ekor, bebek dari 2 ekor menghasilkan 8 butir telur yang siap dijadikan anak bebek. Budidaya maggot berhasil dilaksanakan dengan memproduksi 2.5 kg maggot pada 2 bulan pertama yang dijadikan makanan ayam dan ikan nila,” beber dia. 

“Budidaya ikan berhasil dilakukan pada 3 kolam dan menghasilkan ikan dengan ukuran panjang 20 cm dan lebar 10 cm. Petani juga sudah dapat membuat pupuk organik yang prosesnya dapat dipersingkat dari 3 bulan menjadi 28 hari dan dimanfaatkan untuk pertanian,” pungkasnya.

Anggota tim terdiri dari Yunus Effendi, Liana Mailani, Syafitri Jumianto, Vania Intan Salsabila, Indri Rosemaya Whisnuwardani dan Cut Rizka.  


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya