Berita

Ilustrasi. (Foto: Mimbarmaritim)

Nusantara

DPP Sakti Layangkan Somasi ke Kemenhub, Ini Sebabnya

SELASA, 21 OKTOBER 2025 | 06:20 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dewan Pengurus Pusat Serikat Awak Kapal Transportasi Indonesia (DPP Sakti) secara resmi telah melayangkan somasi kepada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia terkait terbitnya Surat Nomor HK.701/1/1/PHB/2025 tanggal 10 September 2025 perihal Kewenangan Penerbitan Perizinan Berusaha Keagenan Awak Kapal (Ship Manning Agency).

Dalam surat tersebut, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menegaskan bahwa hanya izin SIUKAK (Surat Izin Usaha Keagenan Awak Kapal) yang menjadi dasar hukum tunggal untuk perekrutan dan penempatan awak kapal Indonesia, termasuk yang bekerja di kapal asing.

“Padahal, ketentuan tersebut bertentangan langsung dengan Undang-Undang No. 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (UU PPMI), khususnya Pasal 4, yang secara tegas menyatakan bahwa awak kapal Indonesia yang bekerja di kapal berbendera asing merupakan bagian dari pekerja migran Indonesia (PMI),” kata Ketua Umum DPP SAKTI, Syofyan dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin malam, 20 Oktober 2025.


Lanjut dia, posisi hukum ini juga telah diperkuat oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 127/PUU-XX/2023, yang menegaskan bahwa pelindungan bagi awak kapal Indonesia di kapal asing berada di bawah rezim pelindungan pekerja migran, bukan semata di bawah sektor transportasi laut.

“Namun, Kementerian Perhubungan hingga kini belum mengakui ketentuan tersebut dengan alasan bahwa izin penempatan awak kapal selama ini merupakan kewenangan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut,” tegasnya.

Menurut Syofyan, situasi ini semakin kompleks setelah diberlakukannya Pasal 337 Undang-Undang Nomor 66 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, yang menjadi dasar hukum bagi penerbitan SIUKAK. 

Ironisnya, UU Pelayaran sama sekali tidak mengatur awak kapal Indonesia yang bekerja di kapal asing, dan terminologi “kepelautan” yang disebut di Pasal 337 ayat (2) tidak dijelaskan dalam ketentuan umum, sehingga menimbulkan multi-tafsir dan ketidakpastian hukum.

“Apa yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan ini merupakan bentuk pembangkangan terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi dan perlawanan terhadap Pasal 4 UU No. 18 Tahun 2017. Akibatnya, ribuan awak kapal Indonesia yang bekerja di kapal asing kehilangan kepastian hukum atas status dan perlindungan mereka sebagai pekerja migran,” jelasnya.

Melalui somasi tertanggal 16 Oktober 2025, DPP SAKTI mendesak Kementerian Perhubungan segera mencabut atau membatalkan Surat Nomor HK.701/1/1/PHB/2025 karena bertentangan dengan hierarki peraturan perundang-undangan dan putusan Mahkamah Konstitusi.

Selanjutnya, Kementerian Perhubungan melakukan koordinasi resmi dengan BP2MI/KP2MI dan Kementerian Ketenagakerjaan guna menyusun mekanisme rekomendasi teknis yang tidak tumpang tindih dalam perizinan keagenan awak kapal;

“Apabila dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya somasi ini tidak ada langkah konkret, maka kami akan mengajukan pengaduan resmi kepada Presiden Republik Indonesia, Ombudsman RI dan Komnas HAM RI atas dugaan maladministrasi,pelanggaran kewenangan dan pembiaran berlarut-larutnya perbaikan tata pelindungan awak kapal migran Indonesia karena kebijakan sepihak Kemenhub yang melampaui kewenangannya; dan Mempertimbangkan langkah hukum melalui gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terhadap tindakan Kementerian Perhubungan yang melampaui kewenangan,” ungkapnya.
 
DPP SAKTI menegaskan bahwa perjuangan ini bukan soal ego kelembagaan, tetapi soal nasib, hak, dan pelindungan hukum bagi awak kapal Indonesia yang bekerja jauh di laut lepas demi mengharumkan nama bangsa.

“Negara tidak boleh diam ketika hak-hak pelautnya terancam oleh kebijakan yang salah arah. Pelaut adalah pekerja migran yang harus dilindungi, bukan diabaikan,” pungkas Syofyan.
 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya