Berita

AM Hendropriyono. (Foto: RMOLJatim)

Publika

Kemajuan China: Kepastian Hukum dan Stabilitas Politik

JUMAT, 17 OKTOBER 2025 | 18:22 WIB

KEMAJUAN ekonomi Tiongkok dalam empat dekade terakhir merupakan hasil dari kombinasi antara kepastian hukum, konsistensi kebijakan, dan stabilitas politik. Negara ini berhasil mengubah dirinya dari ekonomi tertutup yang miskin menjadi kekuatan industri terbesar dunia.

Semua itu bukan semata-mata karena modal asing, tetapi karena pemerintah Tiongkok memberikan predictability kepada para pelaku ekonomi, baik investor domestik maupun asing bahwa aturan main tidak akan berubah secara tiba-tiba.

Kepastian Hukum dan Konsistensi Kebijakan


Salah satu kunci utama keberhasilan Tiongkok adalah tidak pernah mencabut izin usaha atau kebijakan ekonomi yang sudah berjalan di era pemerintahan sebelumnya.

Setiap transisi kepemimpinan, dari Deng Xiaoping, Jiang Zemin, Hu Jintao, hingga Xi Jinping, tetap mempertahankan arah dasar pembangunan ekonomi: Reform and Opening Up (????).

Contoh konkretnya, Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones) seperti Shenzhen, Zhuhai, dan Xiamen yang dibuka sejak era Deng Xiaoping tahun 1980 tetap dipertahankan bahkan diperluas hingga kini.

Perusahaan multinasional seperti Apple, Tesla, dan Volkswagen menikmati stabilitas izin dan dukungan infrastruktur yang konsisten. Tidak ada pembatalan proyek besar akibat pergantian pejabat atau tekanan politik sesaat.

Kebijakan perdagangan luar negeri dan kemudahan investasi terus diperbarui tanpa merusak komitmen hukum yang telah dibuat, sehingga kepercayaan investor tetap tinggi.

Investasi Mendorong Lapangan Kerja

Kepastian hukum menciptakan kepercayaan investor. Hasilnya, aliran investasi langsung (FDI) ke Tiongkok terus meningkat sejak 1990-an.

Beberapa data konkret: Shenzhen, yang dulunya desa nelayan, kini menjadi pusat teknologi dunia dengan perusahaan seperti Huawei, Tencent, dan BYD.

Setiap investasi besar diikuti penciptaan jutaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur, logistik, dan layanan digital.

Pemerintah daerah diberi kewenangan untuk memfasilitasi perizinan cepat (one stop service), asalkan tidak melanggar regulasi nasional, hal ini mempercepat ekspansi industri kecil dan menengah.

Stabilitas Politik: Pelajaran dari Tiananmen

Peristiwa Tiananmen 1989 menjadi titik balik dalam politik Tiongkok. Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas nasional lebih utama daripada kebebasan politik tanpa arah.

Keputusan keras itu, meski dikritik oleh dunia Barat justru menjadi dasar bagi ketertiban sosial dan keberlanjutan pembangunan ekonomi.

Setelah kejadian tersebut, pemerintah memperkuat pengawasan terhadap potensi kekacauan sosial tanpa menutup ruang aspirasi rakyat di tingkat lokal. Fokus negara beralih sepenuhnya pada pembangunan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan modernisasi industri.

Hasilnya, lebih dari 800 juta rakyat Tiongkok keluar dari garis kemiskinan, sebuah prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia.

Kesimpulan

Kisah Tiongkok menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi memerlukan kepastian hukum dan stabilitas politik sebagai fondasi. Negara tidak boleh mempermainkan izin investasi atau mengganti kebijakan ekonomi karena pergantian pejabat.

Dalam logika Filsafat Intelijen Negara, kepastian hukum adalah bagian dari stabilitas strategis nasional, sebab ekonomi yang stabil hanya tumbuh di atas pondasi kepercayaan, bukan ketakutan atau ketidakpastian.

A M Hendropriyono
Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan RI (1995-1998)

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya