Berita

Ilustrasi (Foto: Artificial Intelligence)

Bisnis

Australia Dilanda Demam Emas

RABU, 08 OKTOBER 2025 | 10:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketidakpastian ekonomi global telah memicu “demam emas” baru di Australia, membuat logam kuning tersebut berpotensi melampaui gas sebagai ekspor sumber daya paling berharga kedua negara itu.

Dikutip dari 9News, harga emas berjangka berhasil menembus rekor baru di level 6.071 Dolar AS (sekitar Rp98 juta) per ons pada Rabu, 8 Oktober 2025. Lonjakan harga ini diperkirakan menambah sekitar A$13 miliar pada pendapatan ekspor Australia tahun keuangan ini, bahkan saat banyak komoditas lain tengah lesu.

Menurut laporan Resources and Energy Quarterly edisi September 2025, ekspor emas Australia akan melonjak dari A$47 miliar pada 2024-2025 menjadi A$60 miliar tahun ini, sebelum stabil pada tahun berikutnya. Kenaikan tersebut menjadi penopang utama ketika negara ini diprediksi kehilangan sekitar A$16 miliar pendapatan ekspor dari sektor lain.


Lonjakan minat terhadap emas terjadi karena banyak investor beralih ke aset aman setelah kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump memicu ketegangan perdagangan global dan memperburuk ketidakpastian ekonomi. Logam mulia lainnya, seperti perak, juga ikut menguat, dengan harga berjangka naik 60 persen ke 48 Dolar AS per ons.

Faktor lain yang mendukung kenaikan harga emas adalah pelemahan Dolar AS dan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Menurut analis UBS Giovanni Staunovo, sejak pertengahan Januari dolar AS telah turun sekitar 9 persen terhadap mata uang utama dunia, menyentuh level terendah dalam tiga tahun terakhir.

Para investor melihat emas sebagai “tempat berlindung yang aman” karena dinilai mampu menjaga nilai kekayaan dan menyeimbangkan portofolio. Selain itu, banyak yang lebih percaya diri memiliki aset berwujud yang nilainya berpotensi naik dari waktu ke waktu.

Namun, para ahli mengingatkan agar tidak menaruh seluruh dana di satu jenis investasi. Emas tetaplah aset yang bisa sangat fluktuatif. Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS menegaskan, “Ketika kecemasan ekonomi meningkat, pihak yang paling diuntungkan dari logam mulia biasanya adalah para penjualnya.”

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya