Berita

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Foto: PPID DKI Jakarta)

Publika

APBD Jakarta Tertekan

Saatnya Pramono Anung Mengiris Lemak di Tubuh Birokrasi
SELASA, 07 OKTOBER 2025 | 14:51 WIB

PEMERINTAH pusat baru saja memangkas Dana Bagi Hasil (DBH) untuk DKI Jakarta sebesar Rp15 triliun. Sekilas, angka itu tampak seperti angka biasa di atas kertas. Tapi di dunia nyata, itu adalah oksigen fiskal yang dipaksa keluar dari paru-paru Jakarta.

APBD DKI 2026 yang tadinya gagah di angka Rp95 triliun, kini nyungsep menjadi Rp79 triliun. Dalam sekejap, ruang gerak Pemprov DKI mengecil, sementara tuntutan kota tetap menggunung: transportasi, sosial, pendidikan, dan ego birokrasi yang gemuk.

Jakarta tiba-tiba harus belajar hidup tanpa bantuan besar dari pusat. Benar kata pepatah zaman dulu, ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. 


Di sinilah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan diuji sebenar-benarnya -- bukan dalam retorika -- tapi dalam nyali memangkas “lemak” di tubuh pemerintahannya sendiri demi kepentingan rakyat Jakarta.

Ini bukan sekadar soal hitung-hitungan angka. Ini soal kemampuan mengelola keterbatasan tanpa kehilangan arah pembangunan dan rasa keadilan sosial.

Pemerintahan Gemuk, Fiskal Cekak

Selama ini, birokrasi dan pejabat politik DKI hidup dalam zona nyaman. Anggaran besar tak ada habisnya: perjalanan dinas berlapis, tunjangan melimpah, dan program simbolik lainnya yang lebih banyak membakar kertas ketimbang menyentuh dan berdampak luas bagi rakyat.

Kini, kenyamanan itu harus berakhir. Pemangkasan DBH ini adalah tamparan keras agar Pemprov DKI menurunkan kadar gula dalam darah anggarannya.

Pramono sudah mulai memangkas biaya perjalanan dinas dan konsumsi rapat -- langkah kecil yang baik, tapi itu baru permulaan dan tidak cukup mengurangi defisit Rp15 triliun.

Kalau mau selamat, Jakarta harus berani lebih dari sekadar diet ringan dan minum obat penyembuh luka. Ia butuh operasi besar: memangkas tunjangan yang tak rasional, menghapus kegiatan seremonial yang menguras kas, dan menunda proyek yang hanya menambah citra tapi tak berdampak sosial.

Sebab percuma bicara “Jakarta Maju” kalau 40 persen belanjanya habis untuk hal-hal yang tidak produktif.

Subsidi Transportasi: Saatnya Dikaji Ulang

Masalah lain yang jarang disentuh adalah subsidi transportasi publik. Jakarta boleh bangga punya Transjakarta, MRT, dan LRT. Tapi di balik itu, setiap perjalanan Rp3.500 yang dibayar warga, ada Rp15.000 uang rakyat lain yang disubsidi.

Setiap hari, dua juta penumpang naik Transjakarta. Itu berarti Rp30 miliar subsidi per hari -- Rp 10 triliun setahun, hanya untuk satu moda transportasi.

Tambahkan lagi dengan subsidi MRT (Rp592 miliar) dan LRT (Rp296 miliar), maka Jakarta sesungguhnya sedang membakar uang dalam skala besar -- demi mendorong peralihan mobilitas di jalan raya.

Apakah subsidi itu perlu? Tentu perlu -- tapi bukan untuk semua orang.

Mengapa pengendara mobil pribadi yang kebetulan naik bus sekali-sekali harus ikut menikmati subsidi yang seharusnya ditujukan bagi buruh, pelajar, atau warga miskin? 

Inilah saatnya Pramono berani mengambil keputusan tidak populer: merubah subsidi universal menjadi subsidi tertarget.

Bukan berarti subsidi harus dihapus. Transportasi publik adalah hak sosial dan instrumen mobilitas ekonomi warga. Tapi skema subsidi terbuka (universal) seperti sekarang tidak relevan di tengah tekanan fiskal yang begitu tinggi.

Pemerintah perlu mengarah pada subsidi tertarget, misalnya hanya untuk pengguna yang terdaftar sebagai penerima bantuan sosial atau berpenghasilan rendah. Dengan demikian, prinsip keadilan tetap terjaga tanpa mengorbankan keberlanjutan fiskal.

Subsidi tanpa arah tidak hanya membebani kas daerah, tapi juga menghalangi keadilan sosial.

PAD Bocor, PAD Diserobot

Jakarta pun tak kekurangan sumber daya. Yang kurang hanya kemauan menutup kebocoran. Temuan Pansus Parkir DPRD DKI mengungkap potensi kebocoran Rp1 triliun per tahun hanyalah satu contoh kecil. Setiap jengkal lahan milik Pemda -- dari pasar, terminal, hingga gedung parkir -- sering berubah jadi ladang uang bagi oknum dan jaringan pengelola ilegal.

Padahal, dengan manajemen modern dan sistem digital, potensi PAD dari sektor parkir, reklame, hingga sewa aset bisa menutup sebagian besar kekurangan akibat pemangkasan DBH.

Namun yang terjadi: kebocoran tetap dibiarkan, laporan audit berhenti di meja, dan publik hanya bisa menonton uangnya menguap bersama panas aspal Jakarta.

Kalau Pramono serius bicara efisiensi, inilah saatnya ia membersihkan sistem tata kelola parkir dan reklame liar yang bertebaran di Kawasan Ketat Pengendalian Reklame, bukan sekadar memangkas nasi kotak di ruang rapat.

Kemandirian Fiskal Tak Bisa Ditunda

Selama bertahun-tahun, DKI hidup dalam “zona nyaman”. Transfer pusat menjadi tongkat sihir yang menutupi pemborosan dan inefisiensi. Kini tongkat itu patah. Jakarta harus belajar berjalan dengan kakinya sendiri tanpa bantuan dari pusat.

Pemangkasan DBH bukanlah akhir dunia. Justru ini momentum untuk membuktikan bahwa Jakarta bisa mandiri -- bukan hanya dalam ekonomi, tapi juga dalam pengelolaan keuangan publik.

Langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan jelas:

- Pangkas belanja beserta tunjangan para birokrat dan pejabat, bukan program rakyat.

- Targetkan subsidi, bukan sembarang digelontorkan.

- Kejar PAD bocor, bukan menaikkan pajak.

- Perkuat transparansi, bukan sekadar efisiensi di atas kertas.

Menutup dengan Keberanian

Setiap krisis akan melahirkan pilihan: menjadi korban, atau menjadi pembaharuan. Pemangkasan Rp15 triliun ini bisa menjadikan Jakarta kelimpungan, atau justru membuatnya lebih sehat dan tangguh.

Kini bola panas ada di tangan Mas Pram.

Apakah beliau akan menjadi gubernur yang berani mengiris lemak di tubuh Pemprov demi menyelamatkan keuangan rakyat -- atau sekadar duduk di singgasana sambil menunggu bantuan pusat berikutnya?

Karena dalam politik fiskal, keberanian jauh lebih penting dan lebih mahal dari sekadar angka. Jakarta akan diuji -- bukan oleh krisis, tapi oleh pilihan.

Rio A. Putra 
Juru Bicara Koalisi Warga Jakarta untuk Keadilan

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya