Berita

Ilustrasi (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Saliva dalam Bercinta

KAMIS, 02 OKTOBER 2025 | 07:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

MALAM Jumat lagi. Nanti malam. Para sejoli yang sudah hafal kalender romantika Nusantara tentu paham: Kamis sore menjelang maghrib itu sama saja dengan bunyi bel tanda masuk kelas cinta. 

Eh, bukan hanya doa malam Jum'at yang naik ke langit, tapi juga imajinasi tentang bagaimana nanti malam bisa menjadi ajang "ritual" yang katanya penuh berkah. Nah, di tengah semua itu, ada cairan yang sering diremehkan, dianggap remeh, bahkan kadang bikin jijik kalau muncrat ke arah yang salah: air liur, alias saliva.

Jangan salah, Prof. Ahmad Syaify, guru besar gigi dan periodontologi UGM, dalam bukunya The Miracle of Saliva, menegaskan bahwa cairan yang sering kita ludahkan ke selokan ini ternyata bisa jadi "aktor utama" dalam panggung asmara. 


Serius! Kalau selama ini kita mengira saliva hanya bekerja untuk melunakkan tempe mendoan atau menetralkan sambal terlampau pedas, ternyata ia juga punya peran sakral dalam urusan yang membuat pasangan bisa bergidik sekaligus tersenyum di ranjang.

Ambil contoh paling populer: ciuman. Ilmu tentang ciuman bahkan punya nama keren: philematology. Konon, ketika bibir bertemu bibir dan saliva tukar-menukar alamat rumah, bukan sekadar romantis yang terjadi, seperti adegan sinetron jam sembilan malam. 

Helen Fisher, antropolog top dari Rutgers University, bilang bahwa di dalam saliva terkandung hormon testosteron, yang bisa "dikirim" pria ke pasangannya lewat deep kiss. Bayangkan, laki-laki sedang melakukan "transfer data hormon" lebih canggih dari Bluetooth. Bedanya, yang ini tanpa password dan bisa bikin gairah meningkat, bukan baterai habis.

Penelitian Wendy Hill dari Lafayette College pun menambahkan bumbu ilmiah. Hasil risetnya menunjukkan bahwa ciuman bisa menurunkan hormon stres (kortisol) dan meningkatkan oksitosin - alias hormon keintiman. Jadi, jangan heran kalau pria habis ciuman mendadak lebih kalem, sementara perempuan malah sibuk menghitung, "Lho, kok oksitosin gue nggak naik-naik, ya?" Hidup memang misterius: bahkan hormon bisa pilih kasih.

Lebih jauh lagi, Gallup & Burch menuliskan di Evolutionary Psychology bahwa lewat ciuman dan saliva, manusia sedang melakukan tes laboratorium instan untuk mengecek "kecocokan genetik". Jadi kalau ada pasangan yang habis ciuman malah pingin muntah, bisa jadi itu bukan sekadar karena bau pete, tapi alarm biologis bahwa sistem kekebalan tubuh mereka tidak cocok. Saliva, dalam hal ini, jadi konsultan genetika gratis, tanpa perlu antre di laboratorium.

Tapi jangan buru-buru menobatkan air liur sebagai holy water cinta. Ada catatan gelapnya. Dalam sejarah Dinasti Qing di Tiongkok abad ke 18, saliva konon digunakan sebagai pelumas alami. Logikanya: gratis, selalu tersedia, dan tidak perlu izin BPOM. Tetapi, kedokteran modern angkat tangan. 

Brody & Weiss dalam Journal of Sexual Medicine (2010) bilang jelas-jelas: penggunaan saliva sebagai pelumas meningkatkan risiko infeksi, mulai dari vaginosis bakteri hingga herpes mulut (HSV-1). Jadi kalau ada yang bilang, "Pakai air liur aja, lebih alami," jawab saja, "Iya, alami… alami bikin masuk poli kandungan."

Singkatnya, saliva punya dua wajah: di satu sisi ia bisa jadi "tinta cinta" yang menuliskan ikatan hormon dan rasa sayang di tubuh pasangan. Di sisi lain, kalau disalahgunakan sebagai pelumas, ia bisa berubah jadi "surat tilang" dari dokter. 

Begitulah tubuh manusia: luar biasa canggih, tapi tetap butuh sains untuk menentukan kapan harus memanfaatkannya, dan kapan harus bilang, "Stop, cukup sampai bibir."

Walhasil: apa yang keluar dari mulut bisa jadi sumber cinta atau sumber masalah. Air liur ternyata punya sisi mukjizat, tapi juga potensi mudarat. 

Mungkin ini teguran halus bahwa dalam urusan asmara, bukan hanya keberanian yang dibutuhkan, tapi juga kebijaksanaan. Karena malam Jumat bukan sekadar ritual, melainkan ujian: apakah kita benar-benar mencintai dengan sehat, atau sekadar membiarkan nafsu menetes tanpa arah.

Penulis adalah wartawan senior, pemerhati kebangsaan dan Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al Quran

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya