Berita

(Foto: Dok. RMOL)

Politik

Indonesia Emas Cuma Mimpi Kalau Sistem Riset Amburadul

RABU, 01 OKTOBER 2025 | 19:39 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Ambisi Indonesia untuk menjadi negara maju pada 2045 atau yang dikenal dengan visi “Indonesia Emas” dinilai sulit terwujud jika sistem riset nasional masih karut-marut. 

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI), Y, Paonganan. Katanya, kemandirian sains dan teknologi yang seharusnya menjadi pondasi kemajuan bangsa justru masih lemah karena tidak adanya visi kuat dari pemerintah dalam membangun riset.

“Revolusi industri adalah kebangkitan dunia menjadi negara maju, dan itu tidak datang tiba-tiba tapi melalui serangkaian riset panjang,” kata Paonganan dalam keterangan tertulisnya, Rabu 1 Oktober 2025.


Pria yang akrab disapa Ongen menegaskan negara-negara besar di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan kini China, bisa menjadi kekuatan global karena sejak awal membangun sistem riset nasional yang solid.

“Sementara di Indonesia, riset dan pengembangan ilmu pengetahuan kerap hanya berhenti pada retorika,” tegasnya.

Data menunjukkan, anggaran riset nasional justru mengalami pemangkasan tajam setelah dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Pada 2017, anggaran riset masih sekitar Rp24,9 triliun atau 0,2 persen dari PDB, namun turun drastis menjadi Rp3,1 triliun pada 2022 dan hanya Rp2,2 triliun pada 2023 atau 0,01 persen PDB. 

Angka ini jauh di bawah negara tetangga, di mana Malaysia mengalokasikan 0,95 persen PDB, Thailand 0,40 persen, dan Singapura bahkan mencapai 1,89 persen.

Kondisi ini diperparah dengan perampingan lembaga-lembaga riset yang justru membuat ribuan peneliti kehilangan kepastian.

Kata Ongen, kasus integrasi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ke BRIN misalnya, menyebabkan lebih dari seratus peneliti diberhentikan. 

“Situasi tersebut menimbulkan kesan BRIN seperti badan riset “mati suri”, dengan ribuan peneliti dikumpulkan tanpa arah yang jelas,” tegas Ongen.

Meski demikian, sejumlah peneliti Indonesia masih menorehkan prestasi di kancah internasional. Beberapa nama bahkan masuk dalam daftar 2 persen ilmuwan terbaik dunia versi Stanford University dan Elsevier. 

Sebagian besar menurut Ongen riset berhenti di jurnal akademik tanpa dihilirisasi menjadi produk teknologi atau inovasi industri. 

“Pemerintah harus segera mengambil langkah revolusioner untuk memperbaiki sistem riset nasional. Jika tidak, visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi mimpi di siang bolong,” pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya