Berita

Pancasila. (Foto: Istimewa)

Publika

Pancasila Tidak Sakti

RABU, 01 OKTOBER 2025 | 17:08 WIB | OLEH: FIRMAN TENDRY MASENGI*

HARI ini tanggal 1 Oktober 2025, berpuluh tahun rakyat  Indonesia "dipaksa" untuk mengulang sebuah ritus yang disebut sebagai Hari Kesaktian Pancasila. 

Negara menancapkan ingatan kolektif melalui upacara penuh simbol, pidato-pidato yang berulang, serta mitos tentang “penumpasan pengkhianatan” seakan-akan Pancasila menjadi jimat keramat yang harus kebal dari segala ancaman. 

Namun, di balik parade simbolik itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah Pancasila sakti, ataukah hanya dijadikan topeng ideologis oleh kekuasaan untuk menutupi pengkhianatan negara terhadap rakyatnya sendiri?


Kesaktian Pancasila hari ini tidak lebih dari mitos politik yang terus dijaga oleh rezim demi melanggengkan dominasi. Sakti bagi penguasa, tapi lumpuh bagi rakyat. Pancasila dipuja di bibir, tapi dihina dalam praktik.

Pancasila sebagai Philosophische
Grondslag
yang Dipalsukan


Bung Karno merumuskan Pancasila sebagai philosophische grondslag, dasar filosofis kehidupan berbangsa. Ia lahir dari rahim sejarah panjang anti kolonialisme, dari penderitaan rakyat yang diperas keringatnya oleh kapitalisme kolonial. Pancasila dimaksudkan sebagai bintang penuntun (leitstar), bukan sekadar mantra kosong.

Namun, sejak Orde Baru, Pancasila mengalami reduksi brutal. Ia dijadikan alat indoktrinasi lewat Penataran P4, dan dipersempit menjadi sekadar instrumen legitimasi kekuasaan. Pancasila dipaksa menjadi senjata ideologis negara untuk membungkam rakyat. Ironi terbesar: nama Pancasila dipakai untuk menjustifikasi pelanggaran nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Kesaktian yang Membunuh Kemanusiaan

Sila kedua berbicara tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tapi apakah negara beradab ketika puluhan ribu orang ditahan tanpa pengadilan pasca 1965, disiksa, dibuang ke Pulau Buru, dicap tanpa hak pembelaan? Apakah negara adil ketika petani diusir dari tanahnya demi proyek mercusuar? Apakah negara manusiawi ketika aparat menembaki mahasiswa yang menuntut keadilan, dari 1966, 1974, 1998, hingga sekarang?

Pancasila yang “sakral” tidak mencegah darah rakyat tumpah. Bahkan, nama Pancasila justru dipakai untuk menjustifikasi darah yang ditumpahkan. Inilah paradoks tragis: Pancasila dijadikan tameng ideologi, sementara kemanusiaan yang terkandung di dalamnya dihancurkan oleh negara.

Keadilan Sosial yang Dikhianati

Sila kelima berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tetapi lihatlah kenyataan: jurang kaya-miskin semakin menganga. Segelintir oligarki menguasai tanah, tambang, air, dan udara. Rakyat kecil harus membayar mahal untuk hidup di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi.

Negara berdiri di pihak pemodal, bukan rakyat. Ketika petani Kendeng menolak pabrik semen, kaki mereka disemen pula oleh kekuasaan. Ketika nelayan menolak reklamasi, suara mereka ditenggelamkan. Inikah keadilan sosial? Atau sekadar fatamorgana yang dikhianati oleh aparatus negara yang tunduk pada kepentingan kapitalisme global?

Pancasila yang Dibajak, Rakyat yang Dijajah

Sejak Orde Baru hingga kini, Pancasila telah dibajak. Ia dijadikan ideologi resmi yang membius rakyat, tetapi dipelintir demi kepentingan elite. Pancasila “sakral” bagi penguasa karena dengannya mereka bisa menuding siapa saja sebagai musuh negara, sementara mereka sendiri menjadi pengkhianat sejati.

Kesaktian Pancasila hari ini lebih mirip kesaktian pedang Damocles: menggantung di atas kepala rakyat, siap ditebaskan kapan saja. Aparat negara dengan mudah menuduh rakyat anti-Pancasila hanya karena berteriak soal keadilan. Padahal, justru negara itulah yang paling jauh dari nilai-nilai Pancasila.

Dari Peringatan ke Perlawanan

Hari Kesaktian Pancasila seharusnya bukan sekadar hari peringatan yang penuh ritual kosong. Ia harus menjadi hari perlawanan rakyat terhadap penyalahgunaan Pancasila. Karena yang sakti bukanlah Pancasila sebagai mantra, melainkan rakyat yang menghidupi nilai-nilainya: gotong royong, keadilan, persamaan, kemanusiaan.

Rakyatlah yang sejatinya menjaga Pancasila, bukan negara. Negara telah terbukti berkali-kali mengkhianatinya. Dari tragedi 1965, Peristiwa Tanjung Priok, Talangsari, Trisakti, Semanggi, hingga perampasan tanah hari ini. Semua menjadi bukti betapa negara tidak lagi berakar pada Pancasila, melainkan pada kekerasan dan kepatuhan pada oligarki.

Pancasila atau Kepalsuan?

Hari ini, setiap kali kita mendengar slogan "Kesaktian Pancasila," kita harus bertanya: sakti untuk siapa? Apakah sakti untuk rakyat yang lapar, atau untuk oligarki yang menghisapnya? Apakah sakti untuk buruh yang digilas UU Omnibus Law, atau untuk korporasi yang mendapat karpet merah?

Pancasila bukan sekadar hafalan di mulut pejabat. Ia adalah janji sejarah yang dikhianati. Maka, pertanyaan provokatif ini harus terus didengungkan:

Apakah kita masih punya Pancasila, atau hanya punya penguasa yang fasih dalam kepalsuan? Dan ternyata Pancasila Tidak Sakti bagi rakyat Indonesia.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya