Berita

Perwakilan DFW Indonesia dan SBMI di Kantor Komnas HAM, Jakarta pada Kamis, 25 September 2025. (Foto: Dokumentasi DFW Indonesia)

Hukum

DFW Indonesia dan SBMI Seret Kasus Eksploitasi ABK ke Komnas HAM

SENIN, 29 SEPTEMBER 2025 | 04:16 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia bersama Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) melaporkan dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada Kamis, 25 September 2025. 

Laporan ini terkait eksploitasi dan kekerasan terhadap delapan Anak Buah Kapal (ABK) di kapal perikanan KM Mitra Usaha Semesta (KM MUS) dan Kapal Run Zeng (RZ) 03 di wilayah perairan Aru.

“Kasus ini memperlihatkan wajah gelap industri perikanan kita, di mana ABK diperlakukan hanya sebagai komoditas bisnis. Negara gagal memastikan pelindungan, sementara aparat penegak hukum membiarkan proses hukum berjalan lamban,” tegas Koordinator Hukum, Analisa Kebijakan dan Management Knowledge SBMI dan kuasa hukum para korban, Dios Lumban Gaol dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 28 September 2025.


Dari 2020 sampai 2024, SBMI menerima 643 aduan dari awak kapal perikanan, dan mayoritas di antaranya terindikasi kerja paksa dan perdagangan orang. Fakta ini menunjukkan persoalan ini bukan kasus tunggal, melainkan kegagalan struktural negara dalam tata kelola perikanan. 

“Karena itu, kami meminta Komnas HAM hadir bukan sekadar sebagai lembaga formal, melainkan sebagai pengawas independen yang berani melakukan penyelidikan terhadap kasus ini,” tambahnya. 

Semnetara itu, Legal Officer DFW Indonesi Siti Wahyatun menyampaikan bahwa proses berjalannya kasus ini cenderung lamban. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakseriusan negara dalam memberantas TPPO khususnya dalam sektor perikanan, termasuk untuk melindungi pekerjanya dari eksploitasi. 

“Dalam satu tahun berjalannya proses kasus RZ, kami melihat bahwa durasi selama ini dengan progres  yang terbilang cukup minim menunjukkan adanya ketidakseriusan negara  untuk  membela, melindungi dan menghormati hak asasi manusia pekerja perikanan yang merupakan garda terdepan pangan laut kita,” ucap Siti. 

“Sebagai negara maritim, Pemerintah Indonesia tidak mampu menunjukkan keseriusannya dalam melindungi para pekerja di sektor kelautan dan perikanan di wilayah Indonesia. Kami akan terus mendorong dan mengawal kasus ini demi keadilan yang berpihak pada korban, yang seharusnya dijamin oleh negara,” sambungnya. 

Menurut dia, kasus ini bukan sekadar pelanggaran aturan ketenagakerjaan, melainkan bentuk nyata perbudakan modern yang merampas hak hidup dan martabat manusia. 

Dengan 181 aduan yang melibatkan 514 korban yang telah diterima DFW Indonesia melalui National Fishers Center (NFC) Indonesia dalam enam tahun terakhir dan 643 aduan ABK yang telah diterima SBMI dalam empat tahun terakhir, sudah jelas bahwa praktik eksploitasi di sektor perikanan adalah darurat kemanusiaan. 

“DFW Indonesia dan SBMI menegaskan, jika Komnas HAM gagal mengambil langkah tegas sebagai watchdog independen, maka negara akan terus membiarkan laut menjadi ruang tanpa hukum yang berarti juga melanggengkan perbudakan manusia,” pungkasnya.

Pada April 2024, sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) direkrut melalui media sosial dengan janji upah Rp2.000.000 per bulan, THR Rp2.000.000, serta premi hasil tangkapan. ABK dijemput dari Indramayu menuju Pati. Setelah ditampung di Pati, mereka diberangkatkan ke Pelabuhan Juwana untuk bekerja di KM MUS tanpa ada kontrak kerja.

Setelah berlayar, ABK dipindahkan ke kapal RZ 03 dan RZ 05 di wilayah perairan Aru. ABK bekerja dengan jam kerja panjang sejak pagi hingga malam, tanpa jaminan kesehatan maupun perlindungan kerja, serta hanya diberi makan sisa dari awak kapal lain. Permintaan ABK atas gaji dan THR ditolak, bahkan ABK diintimidasi dengan ancaman akan “diurus” oleh aparat militer laut jika menolak bekerja.

Kondisi semakin memburuk ketika ABK memutuskan mogok kerja dan meminta dipulangkan. Karena tidak kunjung mendapat kepastian, beberapa ABK mencoba melarikan diri dengan melompat ke laut. Tragisnya, salah satu ABK ditemukan oleh warga Koijabi, di pulau dekat Warabal, meninggal dalam keadaan tanpa kepala. Sementara, ABK lainnya, MS, berhasil selamat meski dalam kondisi kritis.

Kasus ini telah dilaporkan ke Bareskrim Polri sejak Juni 2024  dengan nomor Laporan Polisi: STTL/206/VI/2024/BARESKRIM dengan pihak-pihak yang dilaporkan yaitu MOP, R, GW, AW, dkk (dan kawan-kawan). Namun hingga kini proses hukum berjalan lambat dan penanganan kasusnya dilimpahkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Maluku tanpa kepastian dengan dalih bahwa telah terjadi tumpang tindih perkara. 

DFW Indonesia dan SBMI menilai situasi ini sebagai pelanggaran HAM serius karena mengabaikan hak untuk hidup, kebebasan pribadi, dan hak untuk tidak diperbudak sebagaimana dijamin konstitusi.


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya