Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: YouTube Sekretariat Presiden)

Publika

Pidato Prabowo Ngeri

MINGGU, 28 SEPTEMBER 2025 | 04:19 WIB

SAYA lahir pada masa pergantian kepemimpinan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. Sejak kecil, saya hanya mendengar cerita tentang kehebatan Soekarno ketika berbicara di luar negeri, termasuk di forum PBB. Saya tidak pernah menyaksikan langsung bagaimana Bung Karno dihormati dan disegani dunia internasional. 

Semua itu hanya saya ketahui dari sejarah, kisah yang diwariskan, serta melalui media sosial pada masa kini, tanpa pengalaman nyata melihatnya dengan mata kepala sendiri. Rasa rindu akan sosok pemimpin yang berani berbicara lantang di dunia internasional itu terus terpendam dalam hati.

Selama tujuh presiden berganti, kerinduan dan kebanggaan itu seolah tak pernah benar-benar terwujud. Namun, semuanya berubah ketika Presiden Prabowo Subianto berdiri di mimbar Sidang Umum PBB ke-80 pada Selasa 23 September 2025, di New York, Amerika Serikat. Pada momen itu, rasa bangga sebagai rakyat Indonesia seakan meledak begitu saja.


Pidato Presiden Prabowo di forum dunia tersebut membuat kita semua menegakkan kepala. Caranya berbicara, isi pidato yang penuh makna, serta wibawa yang memancar membuat Indonesia kembali diperhitungkan. Singkat kata, pidato itu bukan hanya luar biasa, bukan hanya dahsyat, melainkan benar-benar ngeri -- dalam arti positif.

Ada banyak bagian dari pidato Prabowo yang begitu kuat dan menyentuh. Beberapa kutipan yang patut disebut sebagai pernyataan ngeri tersebut antara lain:

“Kita berbeda dalam ras, agama, dan kebangsaan, namun kita berkumpul sebagai satu keluarga manusia.”

“Kita hadir di sini pertama-tama sebagai sesama manusia—masing-masing diciptakan setara, dikaruniai hak-hak yang tidak dapat diganggu gugat atas hidup, kebebasan, dan upaya mengejar kebahagiaan.”

“Deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat telah menginspirasi gerakan demokrasi di berbagai benua --termasuk Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, Revolusi Meksiko, Revolusi China, dan perjuangan serta perjalanan Indonesia menuju kebebasan.”

“Deklarasi itu juga melahirkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang diadopsi oleh PBB pada tahun 1948.”

Prabowo juga menegaskan kembali pentingnya PBB sebagai pilar perdamaian dunia, komitmen Indonesia terhadap multilateralisme, hingga kesediaan mengirim lebih dari 20.000 pasukan perdamaian ke Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, atau wilayah lain yang membutuhkan. 

Ia menegaskan komitmen Indonesia dalam isu perubahan iklim, ketahanan pangan, serta peran sebagai negara kepulauan terbesar yang terdampak langsung kenaikan permukaan laut.

Bagian yang paling menyentuh adalah ketika Prabowo berbicara tentang Palestina. Dengan tegas ia menyatakan: “Hari ini kita tidak boleh diam ketika rakyat Palestina ditolak keadilan dan legitimasi yang sama di aula ini. Satu-satunya solusi adalah solusi dua negara. Dua keturunan Ibrahim harus hidup dalam rekonsiliasi, perdamaian, dan harmoni.”

Pidato itu ditutup dengan pesan kuat tentang persatuan, harapan, dan perjalanan panjang kemanusiaan yang harus diteruskan. Saat itu, sebagai rakyat biasa, saya hanya bisa berkata satu kata untuk pidato Prabowo di PBB: Ngeri.

Sebagai penutup, saya ingin mengaitkan pidato dahsyat  Prabowo di PBB dengan Program Priorita Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Belakangan ini kita semua mengetahui bahwa MBG menghadapi banyak persoalan, terutama terkait kasus keracunan. Program yang sejatinya mulia ini kini mendapat sorotan publik. Bahkan muncul usulan agar MBG dihentikan atau diganti dengan program lain.

Di sisi lain, pada berbagai kesempatan, termasuk di luar negeri, Prabowo menegaskan bahwa MBG adalah program penting pemerintah untuk membantu masyarakat.

Harapannya, generasi muda negeri ini tidak kekurangan gizi dan bisa tumbuh sehat serta cerdas. Namun masalah terus bermunculan, khususnya soal keracunan yang berulang kali terjadi belakangan ini.

Agar sinergi antara ngerinya pidato Prabowo di PBB dengan citra positif pemerintah tetap terjaga, akar persoalan keracunan MBG harus segera ditemukan dan dituntaskan. 

Prabowo pun telah merespons tentang hal ini. Semoga masalah ini segera mendapat solusi sehingga tidak mengurangi penghargaan masyarakat, baik di dalam negeri maupun di dunia internasional, terhadap kepemimpinan Prabowo.

Sugiyanto 
Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat)

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya