Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Publika

Folat

SABTU, 27 SEPTEMBER 2025 | 23:03 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SELAMAT pagi, atau siang, saudara-saudara. Mari kita bicara tentang sesuatu yang kelihatannya sepele, tapi sebenarnya lebih serius dari harga cabe rawit menjelang Lebaran, folat.

Ya, itu vitamin B9. Jangan buru-buru ngantuk, karena topik ini bisa menentukan apakah cucu Anda nanti jadi jenius yang bisa bikin roket ke Mars, atau malah cuma jadi komentator receh di TikTok.

Pesannya jelas: yang kita butuhkan metil folat, bukan folic acid. Itu kata kawan saya, dokter cantik Widya Murni, yang entah kenapa lebih betah kulakan ilmu ke China ketimbang nongkrong di kafe Senopati.


Ia pergi lagi dan lagi ke sana, katanya, karena ilmu functional medicine itu dalamnya kayak jurang. Makin digali makin curam, sampai-sampai orang bisa jatuh ke sumur tanpa dasar kalau nggak hati-hati.

Nah, kita ini dari dulu dicekoki dogma kesehatan: ibu hamil harus minum folic acid (asam folat). Padahal folic acid itu kayak sandal jepit KW yang mana bentuknya mirip, fungsinya ada, tapi sering nyebelin yang mana gampang nyangkut, gampang bikin lecet.

Dalam bahasa awam, folat sesungguhnya nama lain dari vitamin B9. Ini salah satu vitamin penting yang larut dalam air dan berperan besar dalam pembentukan sel darah serta pertumbuhan jaringan tubuh.

Dalam makanan sehari-hari, vitamin ini hadir secara alami pada sayuran hijau, kacang-kacangan, buah, dan hati. Sementara itu, dalam dunia industri pangan, ia kerap disediakan dalam bentuk sintetis yang disebut asam folat.

Baik folat alami maupun asam folat, keduanya masih harus diolah tubuh menjadi bentuk aktif agar bisa dipakai. Bentuk aktif itulah yang disebut metil folat, atau dalam bahasa ilmiahnya 5-MTHF, yang sudah siap langsung digunakan sel-sel tubuh.

Tambahan kata “metil” merujuk pada gugus kecil dalam struktur kimia folat, yang membuat vitamin ini bekerja lebih cepat dan efektif, terutama bagi orang yang tubuhnya kesulitan mengubah asam folat biasa menjadi bentuk aktif.

Dengan pemahaman sederhana ini, jelas bahwa vitamin B9 dalam rupa metil folat memegang kunci penting bagi kualitas kesehatan generasi mendatang.

Tubuh kita, terutama yang punya “mutasi gen MTHFR” (ini bukan makian, walaupun kedengarannya kayak singkatan nama geng motor), sering kali tidak bisa mengubah folic acid itu menjadi bentuk aktifnya, yaitu 5-methyl tetrahydrofolate (5-MTHF).

Kalau sudah begitu, hasilnya? Homosistein naik, DNA ngadat, hormon kacau, imun lemah, dan jadilah kita pabrik masalah kesehatan.

Kajian akademis sudah lama teriak-teriak soal ini. Sebuah kajian meta-analisis di American Journal of Clinical Nutrition (2009) menemukan bahwa mutasi MTHFR C677T dapat menurunkan aktivitas enzim sampai 70 persen, membuat folic acid tidak efektif dikonversi.

Akibatnya, homosistein meningkat dan risiko penyakit kardiovaskular melonjak. Di India, penelitian Sukla dkk. (2018) menunjukkan ibu dengan mutasi MTHFR dan asupan folic acid rendah melahirkan bayi dengan risiko stunting lebih tinggi.

Nah, ketahuan kan biang keroknya? Coba bayangkan ada orang sibuk mengkampanyekan Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk atasi stunting. Bagus sih, tapi kalau isinya nasi kotak dengan lauk rendang yang kuahnya sudah tiga kali dipanasin, ya percuma.

Stunting bukan semata soal perut kenyang, tapi soal tubuh yang gagal metilasi. “Generasi emas”, katanya? Lha, kalau folatnya salah, yang lahir generasi tembaga pun syukur-syukur, mas.

Dokter Widya sampai mengingatkan bahwa separuh ibu hamil di dunia ini nggak sadar punya mutasi gen MTHFR. Efeknya? Risiko keguguran naik, bayi lahir cacat tabung saraf (neural tube defect), bahkan stunting yang mau diberantas dengan slogan-slogan indah itu.

Studi di Public Health Genomics bahkan menegaskan bahwa suplementasi folic acid tidak selalu melindungi jika ibu punya MTHFR mutation. Sementara Scaglione & Panzavolta (2014) menulis bahwa 5-MTHF lebih efektif, aman, dan langsung tersedia bagi tubuh.

Ironisnya, yang dibagi pemerintah justru suplemen dengan folic acid, bukan metil folat. Ya sama saja kayak ngasih bensin bercampur solar ke mobil Ferrari, terus heran kenapa mesinnya batuk-batuk.

Lucunya, kalau Anda pergi ke laboratorium buat cek darah, jarang ada yang bilang, “Pak, coba periksa homosistein.” Padahal homosistein itu kayak tetangga yang suka gosip dimana kelihatan sepele, tapi bisa merusak seluruh harmoni kampung.

Tingginya homosistein berhubungan dengan penyakit jantung, stroke, gangguan tiroid, sampai ginjal bocor yang akhirnya bikin bisnis cuci darah tumbuh subur. Entah kebetulan atau bukan, jumlah klinik hemodialisis kita tumbuh lebih cepat dari jumlah perpustakaan desa.

Sejumlah studi akademis menunjukkan peran penting metil folat, bentuk aktif dari asam folat, dalam mencegah gangguan tumbuh-kembang anak, termasuk stunting.

Penelitian oleh Molloy & Scott menegaskan bahwa status folat ibu, terutama ketersediaan metil folat yang langsung dapat digunakan tubuh, berpengaruh besar terhadap perkembangan otak janin, pembentukan sel darah merah, dan pertumbuhan linier anak.

Kekurangan metil folat selama kehamilan meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah serta gangguan pertumbuhan kronis, yang menjadi salah satu pintu masuk stunting.

Hal ini diperkuat studi lapangan di Asia Selatan yang menunjukkan bahwa intervensi mikronutrien, termasuk suplementasi folat yang memadai, secara signifikan menurunkan prevalensi stunting pada balita.

Dengan demikian, memastikan akses pekerja, khususnya pekerja perempuan, pada gizi dan suplementasi metil folat merupakan bagian integral dari perlindungan tenaga kerja dan investasi kesehatan generasi mendatang.

Folat sesungguhnya hadir dari luar tubuh kita, terutama lewat makanan alami dan, dalam perkembangan mutakhir, lewat fortifikasi serta suplementasi. Sayuran hijau, kacang-kacangan, hati, dan buah segar menjadi sumber utama yang sejak lama diwariskan oleh alam.

Namun kandungan folat dalam bahan pangan itu kerap menyusut oleh cara masak yang berlebihan. Ini mesti jadi perhatian juru masak MBG. Sementara akses keluarga pekerja berpenghasilan rendah terhadap makanan bergizi juga terbatas.

Negara-negara maju menyiasati kekurangan ini dengan program fortifikasi gandum menggunakan asam folat sintetis, kebijakan yang terbukti menekan risiko cacat lahir sekaligus memperbaiki pertumbuhan anak.

Di sisi lain, dunia medis mengenalkan metil folat, bentuk aktif dari asam folat yang langsung siap dipakai tubuh, yang amat penting bagi ibu hamil, khususnya mereka yang memiliki kendala genetik dalam mengubah asam folat menjadi bentuk aktif.

Dengan kata lain, sumber folat datang dari meja makan sehari-hari, dari program kebijakan pangan, dan dari akses pada suplementasi yang tepat.

Di titik inilah, perlindungan tenaga kerja menemukan relevansinya: bagaimana negara memastikan kaum pekerja, terutama perempuan, tidak kehilangan hak atas pangan dan gizi bermutu yang kelak menentukan tumbuh kembang generasi berikutnya.

Sekarang mari kita bayangkan kalau kebijakan nasional kita adalah mengganti semua suplemen folic acid dengan metil folat. Bisa jadi, dalam satu generasi, angka stunting turun, ibu-ibu lebih sehat, dan anak-anak lahir dengan otak cemerlang.

Lalu, apa yang terjadi dengan bisnis klinik cuci darah, rumah sakit, dan perusahaan farmasi? Bisa gulung tikar! Nah, di sinilah tragedi jadi komedi. Karena yang menanggung rugi bukan rakyat kecil, melainkan industri besar yang sudah terlalu lama nyaman di kursi empuk.

Jadi, kita belajar bahwa urusan kesehatan bangsa tidak bisa diatasi hanya dengan poster gizi seimbang di posyandu atau jargon “generasi emas” di spanduk kementerian. Akar masalahnya lebih subtil, lebih ilmiah, dan lebih filosofis: apakah kita mau memberi yang asli atau terus puas dengan KW?

Akhir kata, kawan, jangan anggap enteng vitamin. Dari molekul kecil bernama metil folat, masa depan sebuah bangsa bisa dibangun, atau dihancurkan.

Kalau masih ragu, tanyakan saja pada dokter Widya bahwa mengapa dia rela jauh-jauh menimba ilmu curam ini? Mungkin jawabannya sederhana: karena tragedi kesehatan bangsa ini terlalu lucu untuk dibiarkan begitu saja.

Wartawan Senior

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

UPDATE

Nicko Widjaja: Investasi ke TaniHub Bukan Kehendak Pribadi

Kamis, 04 Juni 2026 | 22:07

Bos BEI Minta Investor Tidak Panik saat IHSG Anjlok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:57

Di Tengah Gejolak Global, Investor AS Tetap Lirik Peluang di Bali

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:56

Pimpinan Baru BGN Fokus Optimalkan MBG ke Daerah 3T

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:36

Istana Beri Sinyal Said Iqbal Bakal Masuk Kabinet

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:29

Kejagung: Dapur MBG Afiliasi Dadan Cs Tetap Jalan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:22

Legislator PDIP Dorong Kejelasan Skala Prioritas Kurikulum Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Sinergi Polda Sumsel, PTPN IV Optimalkan Sistem Pengamanan Aset Perkebunan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Kepala dan Dua Wakil BGN Baru Dilantik Senin Besok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:17

Sesuai Survei, Kinerja Pertamina Berhasil Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:13

Selengkapnya