Berita

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Komisi Eropa, Maros Sefcovic (Foto: YouTube Kemenko Perekonomian)

Bisnis

Kemendag: IEU-CEPA Berdampak Positif untuk Sektor-sektor Kunci Kedua Negara

SABTU, 27 SEPTEMBER 2025 | 07:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kesepakatan dagang IEU-CEPA akan menghapus hampir semua hambatan perdagangan barang dan jasa, serta membuka jalan untuk investasi.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan, kesepakatan itu akan menghapus hingga 98 persen pos tarif di pasar Uni Eropa, sehingga manfaatnya akan dirasakan oleh sektor-sektor kunci bagi kedua pihak

Sektor-sektor kunci tersebut mulai dari produk sawit, tekstil, dan alas kaki bagi Indonesia hingga produk makanan, pertanian, otomotif, dan industri kimia bagi Uni Eropa.


“Mengeliminasi hingga 98 persen total tarif, menghapus hampir semua hambatan perdagangan barang dan jasa, serta membuka jalan untuk investasi,” kata Djatmiko dalam keterangannya yang dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 27 September 2025. 

Ia juga menegaskan, perjanjian ini memberikan pendalaman akses pasar dan kepastian bagi sektor-sektor utama Indonesia untuk memanfaatkan besarnya pasar Uni Eropa, terutama di sektor padat karya, seperti industri dan pertanian.

Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, mengumumkan bahwa Indonesia dan Uni Eropa telah menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (IEU-CEPA) pada 23 September 2025, dengan target berlaku efektif 1 Januari 2027. 
Uni Eropa sendiri merupakan mitra dagang terbesar kelima bagi Indonesia. Total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa pada Januari-Juli 2025 tercatat sebesar 18 miliar Dolar AS, meningkat 4,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada 2024, total perdagangan kedua pihak mencapai 30,40 miliar Dolar AS. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar 17,40 miliar Dolar AS dan impor Indonesia dari Uni Eropa sebesar 13 miliar Dolar AS. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar 4,4 miliar Dolar AS.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya