Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Publika

Ilaf Quraisy

JUMAT, 26 SEPTEMBER 2025 | 06:39 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tak bosan-bosannya di setiap forum mengkampanyekan Trilogi Pembangunan ala Prof. Sumitro Djojohadikusumo: pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan hasil pembangunan, dan stabilitas nasional.

Yang menarik, kalau kita buka mushaf tipis di rak paling atas, trilogi itu sepertinya bergema di dalam al-Qur'an, khususnya di Surah Quraisy. Surah ini hanya punya empat ayat, pendek, tapi isinya padat nutrisi ekonomi-politik. 

Setelah Allah bersumpah dengan ilaf Quraisy, Dia mengingatkan bangsa ini agar bersyukur karena diberi dua hal: kecukupan pangan (ath'amahum min ju‘) dan keamanan politik (amanahum min khauf). Dua fondasi inilah yang memungkinkan kafilah Quraisy berdagang aman dari Yaman ke Syam, lalu ke Mesir hingga Persia. 


Tanpa jaminan keamanan dan kecukupan pangan, semua teori ekonomi hanyalah ilusi di kertas. Maka, ketika Purbaya bicara soal menjaga likuiditas dan memastikan uang kembali ke sistem, itu sejatinya adalah ikhtiar untuk memastikan tha‘am wa amn -- cukup makan dan rasa aman.

Itulah yang dulu menjadi landasan peradaban Quraisy. Di empat ayat surah Quraisy, Allah menegaskan: karena ilaf Quraisy -- ini adalah sistem kontrak dagang lintas kekaisaran -- umat itu dijaga dari lapar dan rasa takut. Dua kata kunci: perut kenyang dan hati tenang.

Bukankah itu bahasa Qur’ani untuk pertumbuhan dan stabilitas? Dan bukankah pemerataan tak lain adalah memastikan roti Hasyim, kakek Nabi Muhammad Saw, yang direndam kuah kambing di sepanjang perjalanan perdagangan, bisa dicicipi bukan hanya oleh elite kabilah, tapi juga kaum miskin?

Prof. Sumitro dulu menekankan pertumbuhan sebagai mesin pertama pembangunan. Purbaya mengulanginya dalam acara dua hari di Medan 2025: pertumbuhan 5,4 persen dalam APBN 2026 itu realistis, asal mesin fiskal dan moneter dijalankan serentak. 

Kafilah dagang Quraisy, terutama yang dipimpin Hasyim -- yang nama aslinya 'Amru -- sudah paham itu sejak abad ke-6. Bedanya, mesin mereka bukan APBN, tapi kafilah onta. Mereka tidak mencetak obligasi, tapi menandatangani ilaf, perjanjian keamanan dagang dengan Kaisar Romawi dan Persia, serta suku-suku kecil.

Kalau kafilah dagang selamat, barang pasti tiba di pasar, untung berlipat, itulah pertumbuhan. Kalau hari ini kita gagal menjaga kontainer beras dari pungli, gagal menjaga hasil tambang dari sabotase, jangan-jangan level kita malah di bawah manajemen kafilah Quraisy. 

Satirnya: Quraisy tumbuh dengan modal roti kuah, kita kadang justru stagnan dengan modal nikel, sawit, dan tambang emas. Kita selama ini dikadali angka-angka oleh para eksportir tambang dan sawit, sehingga tiap tahun negara rugi setara anggaran pendidikan.

Mari saya kenalkan Hasyim bin 'Abd Manaf. Kakek Nabi Muhammad Saw ini dikenal sebagai food vlogger. Cara masak inilah, dengan aroma asapnya yang mengundang rasa, yang membuatnya dikenal dengan nama hasyim, artinya sang pemanggang daging. Tak cuma itu. Ia memasak roti dan menaburinya dengan kuah daging, kemudian memanggil semua orang di sekitar tempat kemah kafilah dagangnya untuk makan bersama. 

Itulah pemerataan manfaat. Kebiasaan ini pada akhirnya sampai ke telinga Kaisar yang kelak memanggilnya. Di hadapan Kaisar, "Hasyim" hanya minta satu hal: meneken perjanjian keamanan perdagangan, yang disebut al-Qur'an sebagai ilaf.

Dalam istilah Purbaya, stabilitas hanya tercapai bila ada program langsung ke masyarakat. Ia bahkan membandingkan SBY dan Jokowi: pertumbuhan 6 persen era SBY tak membuat rakyat puas, karena kurangnya program langsung. Era Jokowi dengan 5 persen pertumbuhan, tapi banyak BLT dan bansos, rakyat lebih tenang.

Di sini il?f Quraisy bicara: ekonomi yang sehat bukan sekadar angka GDP, tapi soal siapa yang diajak makan di meja. Kalau Sumitro bicara "pemerataan hasil pembangunan," al-Qur’an sudah menulis "aman dari lapar." Karena rakyat kenyang, stabilitas politik ikut terjaga.

Trilogi Sumitro menutup dengan stabilitas nasional. Ini bukan sekadar polisi jaga demo, tapi kestabilan politik-ekonomi yang membuat investor tidak kabur. Quraisy menerjemahkannya dengan kontrak keamanan: kafilah mereka dijamin di jalur Syam, Yaman, Irak, dan Habasyah. Itulah safe-conduct, kontrak sosial yang lebih ampuh dari pasukan bersenjata.

Purbaya menyebut hal serupa: selama 90 persen mesin ekonomi kita ditopang konsumsi dan investasi domestik, kita tak perlu gentar kalau Amerika resesi. Stabilitas nasional bukan lahir dari ketakutan, melainkan dari keyakinan rakyat bahwa hidup mereka tidak diguncang lapar dan resah.

Kalau dirangkum, Surah Quraisy memberi dua kunci: makanan dan keamanan. Sumitro memberi tiga kunci: pertumbuhan, pemerataan, stabilitas. Dua-duanya beririsan, seperti dua lingkaran Venn. Perut kenyang adalah pemerataan, hati tenang adalah stabilitas, kafilah berkembang adalah pertumbuhan.

Jadi, kalau hari ini Purbaya mengusung Sumitronomics sambil menepuk dada bahwa "kita lebih pintar dari IMF sedikitlah," bolehlah kita senyum miris. Quraisy sudah lebih pintar dari IMF sejak abad ke-6. Bedanya, Quraisy menjual dagangan dengan jaminan perut rakyat, sementara kita sering menjual jargon dengan jaminan utang negara. 

Purbaya mungkin tak pernah bilang terang-terangan, tapi pilihan Prabowo menempatkannya di Kementerian Keuangan bisa dibaca sebagai strategi: menjahit warisan Sumitronomics dengan semangat ilaf Quraisy. Kalau berhasil, Indonesia punya harapan jadi bangsa yang besar: tumbuh tinggi, adil dalam berbagi, stabil dalam menghadapi guncangan global.

Namun kalau gagal? Kita hanya akan jadi Quraisy versi parodi: banyak kontrak di atas kertas, tapi rakyat tetap lapar dan ketakutan. Al-Qur’an sudah kasih resep singkat, empat ayat saja. Tinggal apakah kita mau memasaknya jadi kebijakan nyata, atau sekadar membacanya jadi wirid menjelang tidur.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya