Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Kemendikdasmen)

Publika

Digitalisasi Pembelajaran dan Mutu Pendidikan Nasional

OLEH: HILMAR FANNIAR ROHMAN*
RABU, 17 SEPTEMBER 2025 | 01:05 WIB

DIGITALISASI pendidikan telah menjadi agenda besar Indonesia dalam rangka menyiapkan generasi masa depan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 menandai komitmen serius pemerintah dalam mempercepat transformasi digital, salah satunya melalui distribusi interactive flat panel (IFP) ke lebih dari 288 ribu sekolah di seluruh Indonesia.

Program ini sempat memunculkan perdebatan istilah antara smart TV dan IFP, tetapi inti persoalannya bukanlah pada nama perangkat, melainkan bagaimana teknologi digital mampu memperkuat kualitas pembelajaran dari PAUD hingga SMA/SMK.

Langkah ini tidak dapat dipandang sekadar pengadaan alat, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, merata, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21.


Dalam konteks pembangunan nasional, digitalisasi pendidikan bukan pilihan, melainkan keharusan. Dunia kerja, kehidupan sosial, bahkan interaksi sehari-hari kini tidak lepas dari teknologi digital. Karena itu, sekolah di semua jenjang harus dipersiapkan agar peserta didiknya tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi juga kreator yang cerdas, kritis, dan produktif.

Peran IFP dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Perangkat digital seperti IFP menghadirkan peluang besar untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Di tingkat PAUD, ia berfungsi sebagai media stimulasi yang interaktif. Di SD dan SMP, ia mendukung pembelajaran kolaboratif melalui visualisasi konsep yang lebih konkret.

Sementara di SMA/SMK, perangkat ini dapat menjadi sarana pembelajaran berbasis proyek, eksperimen digital, hingga simulasi yang mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja maupun pendidikan tinggi.

Dengan fitur interaktif, IFP memungkinkan siswa tidak hanya menyerap pengetahuan secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar. Visualisasi animasi, simulasi, hingga kegiatan problem solving secara kolaboratif dapat memicu kreativitas sekaligus mengasah keterampilan berpikir kritis. Pada akhirnya, hal ini akan memperkuat learning outcome yang selama ini menjadi tantangan pendidikan nasional.

Lebih jauh, distribusi IFP ke seluruh sekolah juga berfungsi sebagai strategi pemerataan. Selama ini, kualitas pembelajaran di perkotaan dan perdesaan kerap timpang akibat keterbatasan akses terhadap sumber belajar modern.

Dengan kehadiran perangkat digital, kesenjangan tersebut dapat dipersempit. Anak-anak di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) berhak memperoleh pengalaman belajar yang sama modernnya dengan anak-anak di pusat kota.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Meski potensinya besar, digitalisasi pendidikan menghadapi sejumlah tantangan serius. Pertama, infrastruktur dasar. Masih banyak sekolah yang belum memiliki jaringan listrik stabil maupun koneksi internet yang memadai. Tanpa itu, perangkat digital berisiko hanya menjadi hiasan di ruang kelas.

Kedua, kompetensi guru. Penguasaan teknologi pendidikan tidak bisa diasumsikan otomatis. Guru harus dibekali pelatihan berkelanjutan agar dapat mengintegrasikan IFP dengan strategi pedagogis. Bukan hanya menguasai cara teknis mengoperasikan perangkat, tetapi juga bagaimana menggunakannya untuk membangun pembelajaran yang kreatif, kolaboratif, dan kontekstual.

Ketiga, tata kelola dan pengawasan. Program pengadaan berskala nasional selalu mengandung risiko salah sasaran atau disalahgunakan. Oleh karena itu, perlu pengawasan partisipatif dari masyarakat, akademisi, hingga organisasi profesi agar distribusi perangkat benar-benar efektif meningkatkan mutu pendidikan, bukan sekadar proyek pengadaan.

Digitalisasi dan Kompetensi Abad ke-21

Esensi dari digitalisasi pendidikan adalah menyiapkan generasi dengan kompetensi abad ke-21: berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan berkolaborasi. Inilah keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi kompleksitas dunia kerja maupun kehidupan sosial di masa depan.

Ketika siswa SD memecahkan soal matematika dengan bantuan simulasi visual, mereka sedang berlatih berpikir logis. Saat siswa SMP melakukan presentasi berbasis media interaktif, mereka sedang mengasah kemampuan komunikasi. Dan ketika siswa SMA/SMK menyelesaikan proyek digital secara berkelompok, mereka belajar kolaborasi dan manajemen waktu. Semua ini lebih mudah difasilitasi melalui perangkat pembelajaran digital.

Digitalisasi juga membuka peluang inklusivitas. Anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat difasilitasi melalui fitur adaptif seperti teks yang diperbesar, audio pendukung, atau aplikasi khusus. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya modern, tetapi juga ramah terhadap keberagaman peserta didik.

Harapan dan Jalan ke Depan

Untuk memastikan program digitalisasi berjalan efektif, ada tiga prioritas yang perlu mendapat perhatian serius. Pertama, memperkuat infrastruktur dasar agar setiap sekolah memiliki akses listrik dan internet memadai.

Kedua, meningkatkan kapasitas guru secara berkesinambungan melalui pelatihan dan pendampingan, bukan hanya sekali jalan. Ketiga, memastikan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan agar program ini transparan, akuntabel, dan benar-benar berdampak pada mutu pembelajaran.

Dengan demikian, digitalisasi tidak boleh dipahami sekadar sebagai modernisasi alat. Ia adalah investasi jangka panjang dalam membangun budaya belajar yang sesuai dengan tantangan zaman. Anak-anak Indonesia harus dibimbing untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi berbasis teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Digitalisasi pembelajaran melalui distribusi IFP merupakan langkah penting menuju pemerataan mutu pendidikan di seluruh jenjang sekolah. Meski masih banyak tantangan, menunda langkah ini sama saja dengan menghambat masa depan generasi bangsa.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat, digitalisasi tidak akan berhenti pada proyek pengadaan, melainkan menjadi transformasi nyata. Pendidikan digital adalah jembatan yang akan mengantarkan Indonesia menuju generasi unggul, cerdas, dan siap menghadapi dunia yang serba digital.

*Penulis adalah Dosen Universitas Ahmad Dahlan

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Kultus “Benda-benda Suci” di Eropa Abad Pertengahan

Minggu, 15 Maret 2026 | 06:16

Lulusan IPDN Disiapkan Wujudkan Standar Pelayanan Minimal di Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:59

Roy Suryo Cs Dilarang Ladeni Rismon Beradu Argumentasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:32

Abdul Malik bin Marwan, Revolusi Birokrasi yang Mengubah Sejarah Islam

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:23

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

Trump Berbaju Fir’aun

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:31

Enam Bulan Purbaya, Rupiah Melemah tiap Bulan

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:08

Pendekatan Teman Sebaya Efektif Cegah Bullying di Sekolah

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:02

Rismon Menelan seluruh Omongannya Tanpa Ada Terkecuali

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:21

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Selengkapnya