Berita

Peserta World Muslim Scout Jamboree (WMSJ). (Foto: Istimewa)

Publika

Perayaan Identitas

SENIN, 15 SEPTEMBER 2025 | 12:58 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

PAK Kiai Sofwan Manaf menatap jam miliknya. Angka menunjuk pukul 12.29 dini hari. Sudah masuk Ahad. Dengan gesit, jarinya bergerak di layar ponsel, mengirim pesan ke grup WA FPAG: “Seumur hidup baru (kali ini) ikut konser sampai dini malam.” Kiai Anang Rizka meladeni, “Sama Yai, baru kali ini lihat konser, makanya bela-belain sampai selesai… hahahaha.”

Lho, konser? Dan ini bukan kabar bohong ala broadcast keluarga yang biasanya diakhiri dengan kalimat, “Sebarkan agar tidak kena musibah.” Malam itu, di tribun utama Bumi Perkemahan Cibubur, dua pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah dan Tazakka tadi duduk berjejer dengan para kiai pengasuh pesantren lain.

Di lantai dua tribun expo, pemandangan tampak sama: para kiai, ustaz, dan tokoh pesantren larut dalam dentuman musik World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025, disingkat Jamdun. Kalau dulu kita kenalnya “Konser Amal Palestina,” kini “Konser Akbar Pramuka Muslim Dunia” menampilkan Iwan Fals hingga Band Wali.


Dibanding konser pada umumnya, pesta musik kali ini tiketnya gratis, meskipun macetnya tetap sama. Sejak pagi jalan menuju arena sudah macet. Sopir-sopir pesantren terpaksa memarkir mobil di bahu jalan luar arena. Saya sendiri memilih jalur rakyat jelata: naik LRT, turun di Harjamukti, lalu sambung ojek dua kilometer. Praktis, murah, dan “hijau’ secara karbon.

Inilah yang saya sebut macet filosofis yaitu manusia modern itu kalau berkumpul demi sesuatu yang dianggap penting, jalan pasti mampet. Bedanya, kalau macet konser Coldplay disebut keren, macet jambore pramuka muslim disebut “kurang koordinasi.” Padahal secara teori transportasi, keduanya sama: suplai jalan terbatas, demand kendaraan tak terbatas.

Siang hingga sore, para kiai tak hanya duduk manis. Mereka menghadiri Tajammuk FPAG. Prof. Dr. KH. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.Phil., dengan gaya akademisnya menjelaskan bahwa World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025 adalah jambore dunia (jamdun) pramuka muslim pertama di dunia. Jika yang perdana saja bisa sukses, maka jamdun-jamdun berikutnya lebih baik lagi.

Bayangkan, peserta WMSJ 2025 mencapai 15.333 orang dari 18 negara. Sebuah angka yang kalau diolah pakai metode statistik, sudah cukup meyakinkan bahwa umat Islam bisa bersatu, setidaknya di bawah tenda pramuka. Ada yang usul, bagaimana jika capaian unik ini didaftarkan ke museum rekor?

Apalagi, negara peserta membentang lengkap dari Asia Tenggara sampai Afrika Utara mulai dari Indonesia, Malaysia, Oman, Mauritius, Qatar, Brunei Darussalam, Saudi Arabia, Maldives, Uzbekistan, Azerbaijan, Kuwait, Aljazair, Inggris, Mesir, Tunisia, Mali, Turki, hingga Kamboja. Semangat jambore ini salah satunya untuk menyuarakan perdamaian antar-bangsa.

Tema besar WMSJ 2025 memang “We are Muslim, Civilized, United, and Peaceful.” Keren dan penuh makna. Meskipun agak panjang, tapi ini masih lebih singkat daripada judul skripsi mahasiswa yang sering berbunyi: “Analisis Komparatif Persepsi Santri Pondok A terhadap Santri Pondok B dalam Implementasi Manajemen Zikir Kolektif (Studi di Pondok C).”

Tema ini serius bahwasanya jambore bukan sekadar tidur di tenda dan masak mie instan, tapi wadah membentuk pemimpin muda. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menutup perhelatan WMSJ 2025, bahkan menjanjikan: kalau ada jambore lagi, Jakarta siap jadi tuan rumah kembali. Wah, semoga tidak jadi seperti janji kampanye: manis di awal, hilang di tengah, pahit di akhir.

KH Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, sampai terharu. Menurutnya, kegiatan seperti ini langka, mahal, dan tidak bisa dinilai dengan uang. Gontor memang punya modal itu: tradisi mendidik santri agar bisa mengurus apa saja, dari bikin kopi buat kyai sampai bikin jambore dunia.

Dr. Fahmi menambahkan, prinsip Gontor jelas, “Segala yang ada di pondok adalah pendidikan.” Artinya, kalau santri disuruh jaga parkir, ya itu pendidikan. Kalau disuruh ngurus panggung artis, ya itu juga pendidikan. Bahkan kalau disuruh ikut konser sampai dini hari? Ya… mungkin itu juga pendidikan.

Yang bikin suasana makin hidup WMSJ 2025 adalah kehadiran Iwan Fals. Dengan suara seraknya yang khas, ia membawakan lagu baru yang khusus diciptakan untuk seratus tahun Gontor. Lagu itu terdengar sederhana, tapi terasa seperti doa panjang yang dinyanyikan dalam nada, sebuah refleksi seabad perjalanan pesantren yang telah melahirkan ribuan pemimpin umat.

Setelahnya, pada hari terakhir Sabtu 13 September 2025, panggung disambung oleh band Wali. Bedanya, mereka bukan sekadar grup musik papan atas, melainkan para alumni pesantren, bahkan ada di antaranya yang kini menjadi pengasuh pondok. Maka jadilah konser malam itu bukan sekadar hiburan, melainkan perayaan identitas.

Kalau ada yang sinis, “Lho, kok pesantren malah pakai konser?” jawabannya gampang: musik di pesantren itu biasa saja. Coba renungkan, melagukan al-Qur’an tidakkah juga sebuah bentuk musik? Rebana, rebab, hingga marawis sudah ratusan tahun mewarnai acara maulidan. Anak-anak santri sudah biasa memainkan gitar.

Di Gontor sendiri, santri-santrinya mendirikan band dengan aneka genre, dari dangdut sampai pop, dan itu dianggap lumrah. Teater pesantren pun mengasah olah vokal, beriringan dengan kelompok sastra yang melatih diksi dan rasa.

Jadi jangan kaget kalau malam jambore Cibubur mendadak berubah jadi panggung lintas generasi. Itulah wajah pesantren: bisa serius dalam rapat, bisa khusyuk dalam doa, dan bisa santai dalam musik, semuanya tanpa kehilangan marwah.

Yang lebih mengesankan, ribuan tenaga lapangan bekerja tanpa honor. Mereka terbiasa bekerja ikhlas, seperti di pondok. Dari ngatur panggung, bazar, sampai undang artis, semua diurus. Bayangkan, pondok sudah terbiasa menyiapkan makan bagi ribuan santri setiap hari.

Kalau ada yang tanya, “Apakah ini tidak rawan eksploitasi tenaga santri?” Jawabannya: tidak, karena ini tradisi. Santri dididik untuk tidak menghitung-hitung, melainkan menjalani. Di luar pondok mungkin disebut “volunteerism.” Di pondok disebut “ikhlas lillahi ta‘ala.”

Filosofi itu sebenarnya berakar dari Panca jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor yakni keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Panca jiwa inilah yang membuat santri terbiasa kerja kolosal tanpa pamrih.

Mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi ditempa lewat praktik nyata, dari mengatur apel tahunan sampai mengelola jambore dunia.

Maka WMSJ 2025 di Cibubur sejatinya adalah perpanjangan tangan dari tradisi pondok: memupuk solidaritas, melatih kemandirian, memperkuat ukhuwah lintas bangsa, dan meneguhkan kebebasan berpikir yang kreatif, tanpa kehilangan keikhlasan dan kesederhanaan.

WMSJ 2025 bukan sekadar jambore, melainkan laboratorium sosial-politik. Di sinilah terlihat bagaimana pendidikan pesantren terbukti melahirkan alumni yang bisa mengelola event global.

Kehadiran wakil dari 18 negara membuktikan, solidaritas antar-negara Muslim masih ada, meski kadang baru muncul dalam bentuk tenda, bukan traktat internasional.

Sementara macet yang terjadi di jalan-jalan sekitar, dan tribun atas yang terhalang atap tribun utama, itu adalah pelajaran kecil bahwa desain teknis juga penting.

Di tengah dunia yang sering menuduh Islam sebagai sumber konflik, jambore ini menjadi kontra-narasi. Bahwa Islam juga bisa tampil ceria, damai, dan ikut konser sampai jam setengah satu pagi.

Kalau kiai-kiai saja sudah mulai nyaman duduk di tribun ikut konser jambore, mungkin ini pertanda baik. Dakwah ke depan harus semakin kreatif. Tidak melulu khutbah di mimbar, tapi juga bisa dalam bentuk panggung terbuka, tenda pramuka, bahkan dentuman musik.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya