Berita

Kondisi Nepal setelah dilanda aksi demonstrasi besar. (Foto: New York Times)

Dunia

Gejolak Langsung Reda Pasca Nepal Resmi Dipimpin Sushila Karki

MINGGU, 14 SEPTEMBER 2025 | 02:00 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Suasana Ibu Kota Nepal, Kathmandu, kembali normal pada Sabtu 13 Septembe 2025, setelah dua pekan terakhir diguncang aksi demonstrasi besar-besaran yang menewaskan puluhan orang.

Ketenangan mulai terasa usai pemerintah melonggarkan jam malam dan melantik Sushila Karki sebagai perdana menteri transisi pada Jumat 12 September 2025. Kehadirannya diyakini menjadi jawaban atas tuntutan masyarakat yang menginginkan perubahan.

Laporan <>AFP menyebut jumlah militer di jalan-jalan mulai berkurang. Pelantikan Karki, yang dikenal independen, dianggap mampu meredakan gejolak sekaligus memberi harapan baru bagi rakyat Nepal.


“Nepal telah mendapatkan perdana menteri perempuan pertamanya,” kata Suraj Bhattarai (51), seorang warga Kathmandu.

“Kami yakin perdana menteri (Sushila Karki) akan menangani perjuangan Nepal melawan korupsi dan memajukan tata kelola pemerintahan yang baik,” tambahnya.

Penunjukan Karki bukan proses mudah. Negosiasi alot sempat terjadi antara Panglima Angkatan Darat Jenderal Ashok Raj Sigdel, Presiden Ram Chandra Paudel, serta perwakilan generasi Z yang memimpin aksi protes pemuda.

Namun, keputusan akhir tercapai dan mendapat sambutan positif di kalangan masyarakat luas.

“Keputusan pemerintah sementara ini sangat baik untuk saat ini. Tidak masalah apakah itu gen Z, atau siapa pun yang lebih tua di dunia politik yang menanganinya. Ini (korupsi) hanya perlu dihentikan,” ujar Durga Magar (23).

Nepal sebelumnya diguncang gelombang protes akibat maraknya praktik korupsi dan kesenjangan ekonomi yang terus memburuk. Seperlima penduduk usia 15–24 tahun tercatat menganggur.

Namun aksi damai itu berubah menjadi tragedi setelah aparat menanggapi dengan kekerasan. 

Kerusuhan pun meluas hingga menelan korban jiwa sedikitnya 51 orang, menjadikannya salah satu kekerasan politik paling mematikan dalam sejarah modern Nepal.



Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya