Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Kudeta Ekonomi Senyap Dimulai dari Nepal dan Indonesia

OLEH: BOBBY CIPUTRA*
SABTU, 13 SEPTEMBER 2025 | 02:43 WIB

APAKAH mungkin menteri keuangan menjadi pintu masuk perubahan arah dunia? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi hari-hari terakhir memberi kita jawabannya. Indonesia dan Nepal sama-sama mengganti menteri keuangannya setelah melalui peristiwa gerakan massa yang dramatis.
 
Rumah Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia dijarah massa. Bahkan Bishnu Prasad Paudel, Menteri Keuangan sekaligus Wakil Perdana Menteri Nepal, rumahnya dibakar, dirinya dipukul, ditelanjangi lalu diarak ke jalan. Peristiwa ini bukan sekadar kisah domestik. Ini menandai arah baru dalam percaturan geopolitik dunia.
  
Pertemuan Beijing dan Pesan yang Mengubah Segalanya
 

 
Pada 3 September 2025, Beijing menjadi tuan rumah bagi 24 kepala negara. Mereka mewakili sebagian besar populasi dunia dan mereka juga mewakili kekuatan ekonomi dunia. Indonesia dan Nepal turut hadir. Pertemuan itu bukan sekadar forum biasa.
 
Ada pesan kuat dari dua poros besar China dan Rusia, yaitu sebuah komitmen penuh. Pesan itu terdengar jelas, ditandai dengan membersihkan kementerian keuangan dari orang-orang yang terlalu dekat dengan IMF, Bank Dunia dan Amerika.
 
Dalam hitungan hari, dua negara peserta langsung bergerak. Indonesia mengganti menteri keuangannya. Nepal menyusul, meski dengan cara yang jauh lebih brutal.
 
Peristiwa ini bukan sekadar pergantian jabatan biasa, melainkan sebuah pertanda. Seolah-olah, ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang menyusun ulang peta kekuatan ekonomi dunia. Apakah ini kebetulan? Atau memang skenario yang sudah dirancang rapi?
 
Selama ini, banyak negara merasa terkekang. Mereka merasa aturan ekonomi dunia tidak adil. Lembaga seperti IMF dan Bank Dunia dinilai terlalu mendikte. Sementara itu, Amerika dan Eropa sedang bermasalah. Pengaruh mereka mulai dipertanyakan. Kemudian, alternatif kekuatan baru muncul. BRICS Plus yang dipimpin China dan Rusia menguat. Mereka menawarkan sistem keuangan baru. Sistem yang lepas dari dominasi Dolar AS.

Bersih-bersih Dapur Ekonomi
 
Poros dunia sedang bergeser yang diawali dari pembersihan dapur ekonomi. Dan mengapa harus dimulai dari mengganti Menteri Keuangan?
 
Indonesia dan Nepal menjadi dua negara pertama yang sudah terlihat menunjukkan komitmennya kepada Cina dan Rusia. Menteri keuangan bukan sekadar pejabat. Posisi menteri keuangan adalah kunci. Dialah yang mengendalikan uang negara. Dialah yang berhubungan dengan lembaga keuangan internasional. Dari kursi inilah arah belanja, hutang dan kebijakan fiskal diputuskan.
 
Selama puluhan tahun, banyak negara berkembang tunduk dan dipaksa diarahkan mengikuti resep ekonomi dari IMF dan Bank Dunia. Mereka menjanjikan stabilitas, tetapi sering kali dengan harga yang mahal. Kebijakan penghematan, disiplin fiskal, privatisasi, dan liberalisasi pasar dengan membuka pintu selebar-lebarnya bagi modal asing, seringkali membatasi ruang gerak pemerintah untuk membelanjakan uang bagi rakyatnya.
 
Tetapi kini situasinya berubah. Publik melihat Amerika dan Eropa sedang pusing oleh beban hutang yang menumpuk. Ekonomi mereka melemah dan melambat. Sementara itu, negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin ingin mengambil jalan ekonomi yang berbeda. Mereka menginginkan pengelolaan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat bukan sekadar menjaga stabilitas pasar global. Dan membelanjakan lebih banyak untuk rakyat, bukan sekadar melunasi utang.
 
BRICS Plus Membangun Panggung dan Masa Depan Baru
 
Pergeseran poros dunia ini tidak lepas dari peran aliansi baru yang sedang tumbuh, BRICS Plus. Akronim dari Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan. Plus, diperluas dengan negara-negara lain yang memiliki visi serupa. Mereka menawarkan alternatif model pembangunan dan pendanaan yang tidak terikat pada "syarat dan ketentuan" ala Barat. Tidak ada pemotongan anggaran sosial. Tidak ada privatisasi paksa.
 
BRICS Plus sedang membangun fondasi ekonomi dan keuangan yang paralel dengan sistem yang ada. Mereka memiliki bank pembangunan sendiri (New Development Bank) dan sedang menjajaki sistem pembayaran sendiri dengan penggunaan mata uang non-Dolar dalam transaksi perdagangan.
 
BRICS Plus tidak hanya menawarkan alternatif, tetapi juga secara aktif mendorong negara-negara lain untuk bergabung dalam barisan mereka. Desakan untuk "membersihkan" jajaran menteri keuangan dari "orang-orangnya IMF" bisa jadi adalah salah satu syarat komitmen tidak tertulis untuk bergabung. BRICS Plus adalah penantang nyata dalam tatanan ekonomi Barat.
 
Setelah Indonesia dan Nepal, Siapa lagi Menyusul?
 
Pertanyaan ini menggantung di udara. Negara-negara lain yang hadir di Beijing kini berada di bawah sorotan. Mungkin yang terdekat adalah negara-negara di Asia Tenggara, Amerika Latin atau Afrika yang juga merasa frustasi dengan sistem ekonomi global saat ini.
 
Brasil misalnya, sedang menghadapi keresahan publik yang serupa terkait ketimpangan, sementara ekonomi Afrika Selatan berjuang di bawah kebijakan penghematan yang didukung IMF. Peristiwa ini menjadi semacam efek domino, di mana satu negara yang berani melangkah akan diikuti oleh yang lain.
 
Pandangan Sosialisme: Ekonomi untuk Rakyat
 
Saat ini kita semua sedang menyaksikan lahirnya dunia multipolar. Sebuah dunia dengan banyak pusat kekuatan dan kutub yang saling tarik-menarik.
 
Lalu, bagaimana gagasan Sosialisme memandang ini semua? Di tengah ketidakpastian ini, gagasan Sosialisme menawarkan kompas moral yaitu sistem ekonomi yang harus melayani rakyat, bukan sebaliknya. Sistem ekonomi kita harus untuk sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Dan inilah saatnya bagi gagasan tersebut untuk kembali menemukan relevansinya di panggung dunia.
 
Kritik terhadap IMF dan Bank Dunia adalah hal yang lama diutarakan. Lembaga ini dianggap sebagai alat neoliberalisme. Kebijakannya memangkas subsidi. Mereka mendorong privatisasi. Ini semua memang menyengsarakan rakyat.
 
Ketika poros dunia bergeser, peluang untuk mewujudkan gagasan-gagasan yang lebih adil dan berpihak pada rakyat menjadi semakin terbuka.
 
Tantangannya kemudian adalah apakah para pemimpin di negara-negara tersebut mampu memanfaatkan momentum ini untuk membangun pondasi ekonomi yang benar-benar baru atau hanya sekadar berganti tuan. Dari tuan di Barat beralih ke tuan di Timur.
 
 
*Penulis adalah Ketua Umum Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI)

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya