Berita

Suasana di sekitar Mapolres Metro Jakarta Timur, Sabtu dini hari, 30 Agustus 2025. (Foto: RMOL/Jamaludin Akmal)

Publika

Musim Semi Makar Berakhir

OLEH: ADIAN RADIATUS
SENIN, 08 SEPTEMBER 2025 | 00:41 WIB

MUSIM semi secara alamiah adalah musim di mana bunga-bunga mulai tumbuh dan bermekaran, disambut suka cita oleh rakyat di negeri yang memilikinya.

Namun berbeda di negeri kita, di mana musim semi makar berakhir dengan sangat amat singkat, hanya dua hari, dan tragis bagi para pelakunya di balik layar.

Hanya saja pemerintah masih menjaga kondusifitas keadaan dan suasana kebatinan rakyat yang sebagian masih terkejut dan terkesima bahwa ada upaya sangat jahat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.


Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan karenanya rakyat pun mahfum termasuk para mahasiswa yang tergabung dalam BEM-SI untuk menunda demo dan menyampaikan aspirasi langsung lewat perwakilan ke DPR yang dikenal dengan tuntutan 17-8 itu.

Prabowo menegaskan akan terus maju memimpin bangsa ini karena rakyat ada bersamanya, ada di belakangnya. Hal itu memang tercermin dari naiknya popularitas presiden pasca penanganan korban dan situasi yang terkendali. Rakyat banyak menaruh harapan pada kepemimpin presiden ke delapan ini.

Meskipun demikian penanganan terhadap tuntutan para mahasiswa dan rakyat yang cenderung lebih diarahkan kepada DPR perlu mengambil langkah-langkah yang komprehensif.

Khususnya bagaimana para menteri terkait sebagai pembantu utama presiden dapat menjadi inisiator dalam pembahasan RUU yang ditarget sekaligus komunikator yang baik kepada para pihak di masyarakat akademik maupun intelektual, serta aktivis-aktivis yang menantikan hasilnya.

Segala sesuatunya apalagi menyangkut perbaikan sistem dan aspek struktural pemerintahan memang memerlukan waktu.

Tetapi melihat bagaimana dalam kurun waktu 10 bulan saja sebuah komplotan petualang politik telah berkonspirasi dengan tujuan utama pergantian pemerintahan sangatlah jelas dan tidak lagi dapat disembunyikan bahwa bangsa dan negara Indonesia saat ini tengah menghadapi pergumulan antara kebaikan dan kejahatan.

Adalah mudah untuk melakukan riset dan analisis terhadap gangguan yang sangat serius untuk menelusuri secara terbalik, yaitu siapakah yang akan mengambil keuntungan bila konspirasi itu menang, siapa yang akan memimpin, siapa saja anggota kabinet yang akan tetap, bagaimana sistem pemerintahan akan diselenggarakan sungguh menjadi lebih jelas dan gamblang pada akhirnya. 

Komplotan ini sudah pasti ada dalam lajur formal dan non formal, di mana yang non formal biasanya menjadi arsitek perancang gerakan hingga cara pengambil alihan kekuasaannya.

Sedangkan lajur formal adalah selaku fasilitator dari setiap tahapan gerakan, mencakup pengendalian di lembaga legislatif, yudikatif dan eksekutif tentunya serta peranan pendukung dari kalangan elite yang memang sejak lama antipati pada presiden Prabowo hingga ke eksekusi perubahannya.

Tadinya mereka ingin membangun narasi "baru 10 bulan saja rakyat sudah tidak suka, sudah dibuat susah, rakyat sudah antipati" dan sejenisnya.

Tetapi yang kita saksikan justru sebaliknya, mereka kini mungkin bukan panik namun mencari cara licik untuk membantah dan berpura-pura bersahabat, padahal ada informasi ada kalangan elite kategori Forbes telah dibisiki akan adanya penggantian presiden bahkan sekitar dua minggu sebelumnya, bila benar maka sungguh riskan dan rentan sekali komplotan petualang politik ini.

Tidak ada jalan selain bersihkan, tertibkan dan sesuaikan selagi musim semi makar ini berakhir dan berada di musim gugurnya untuk tiarap hingga musim dingin sebelum musim panas makarnya akan berusaha menggeliat lagi. 

Jangan sampai terjadi karena saat itu Indonesia sudah banyak sekali kemajuan yang dirintis, diprakarsai dan dilaksanakan oleh Presiden pilihan rakyat, Prabowo Subianto, maka ketegasannya selalu dinanti-nantikan sebagai sebuah keniscayaan.


*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik




Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya