Berita

Situs Gunung Padang, Jawa Barat. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Gunung Padang: Dari Kontroversi ke Rekonsiliasi Sains

MINGGU, 07 SEPTEMBER 2025 | 22:36 WIB | OLEH: ANDI ARIEF

"Sains seharusnya menjadi jalan terang, bukan sumber perpecahan. Gunung Padang memberi kita pelajaran: bahwa perbedaan pandangan hanya bisa diselesaikan dengan penelitian, bukan penolakan."

PENELITIAN Gunung Padang adalah salah satu riset paling komprehensif yang pernah dilakukan di Indonesia. 

Selama tiga tahun (2011-2014), tim peneliti lintas disiplin melakukan survei terpadu dengan berbagai metode ilmiah dan teknologi mutakhir: pemetaan topografi berbasis drone dan satelit, serta IFSAR, penggalian parit geoarkeologi, pengeboran inti (coring) untuk melihat stratifikasi, analisis radiokarbon, analisis metalurgi hingga prospeksi geofisika canggih seperti tomografi resistivitas listrik (ERT), radar penembus tanah (GPR), dan tomografi seismik (ST). 


Semua teknologi yang pada tahun 2014 ada, digunakan untuk memperkuat riset itu mencari fakta-fakta. 

Hasilnya sangat signifikan. Tim menemukan lapisan-lapisan struktur menyerupai bangunan yang tertutup tanah, bahkan pada eskavasi 2014 bersama TNI telah teridentifikasi lantai dan pintu serta bukti-bukti artefak lain yang diyakini sebagai bagian konstruksi bawah permukaan Gunung Padang. 

Secara sains, bukti ini kuat. Namun untuk lebih meyakinkan publik, langkah pengupasan tanah dan pemugaran tetap diperlukan.

Di sinilah letak sumber perdebatan. Para arkeolog umumnya bekerja di permukaan situs, sedangkan penelitian Gunung Padang banyak mengungkap bukti di bawah permukaan. 

Perbedaan metodologi ini menimbulkan penolakan sebagian kalangan arkeologi. 

Padahal, penelitian Gunung Padang justru diakui dunia sebagai salah satu riset paling lengkap, melibatkan profesor dan doktor dari berbagai disiplin ilmu, serta menggunakan teknologi yang jarang diterapkan secara terpadu di situs arkeologi manapun.

Setelah hampir 10 tahun terhenti, kini riset Gunung Padang dilanjutkan kembali oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. 

Lebih jauh, para arkeolog yang selama ini kritis justru dilibatkan dalam penelitian lanjutan dan pemugaran. 

Langkah rekonsiliatif ini penting agar perbedaan pendapat tidak lagi menjadi kontroversi, tetapi diuji melalui penelitian bersama. Sebab dalam dunia akademik, penolakan pun harus dibuktikan lewat riset.

Sebagai informasi, dalam acara pembukaan Pameran Lukisan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Art Community pada Sabtu 6 September 2025, saya sempat berbincang dengan Menteri dan Wakil Menteri Kebudayaan tentang kelanjutan riset Gunung Padang. 

Saya mendukung sepenuhnya langkah rekonsiliatif ini. Semua pihak harus duduk bersama, bergandengan tangan, demi kebenaran ilmiah. Misi intelektual adalah  menemukan  jalan keluar di tengah perbedaan setajam apapun.

Riset Gunung Padang bukan sekadar tentang situs megalitik  terbesar di Asia Tenggara atau bahkan ditengarai sebagai piramida terbesar dan tertua di dunia, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia menunjukkan bahwa kita mampu melakukan penelitian berkelas dunia. 

Kita telah membuktikan bahwa sains bisa memimpin jalan, dan sekarang saatnya memastikan hasilnya tidak lagi terjebak dalam perdebatan, melainkan memberi manfaat besar bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan kita.

"Gunung Padang adalah warisan peradaban. Mari kita rawat dengan ilmu, kita jaga dengan kebersamaan."

Penulis adalah inisiator tim terpadu riset mandiri Gunung Padang 2011




Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

UPDATE

Banjir, Macet, dan Kemiskinan di Jakarta Mendesak Dituntaskan

Senin, 23 Februari 2026 | 06:07

Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Senin, 23 Februari 2026 | 05:39

Tiga Waria Positif HIV Usai Terjaring Razia di Banda Aceh

Senin, 23 Februari 2026 | 05:28

Penakluk Raksasa

Senin, 23 Februari 2026 | 05:13

Kisah Tragis Utsman bin Affan: 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah

Senin, 23 Februari 2026 | 04:26

Kebangkitan PPP Dimulai dari Jabar

Senin, 23 Februari 2026 | 04:10

Prabowo Tak Beruntung terkait Tarif Trump

Senin, 23 Februari 2026 | 04:05

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Tembok Ratapan Solo Jadi Potret Wajah Kekuasaan Jokowi yang Memudar

Senin, 23 Februari 2026 | 03:27

Persib Kokoh di Puncak Klasemen Usai Tekuk Persita 1-0

Senin, 23 Februari 2026 | 03:00

Selengkapnya