Berita

Ilustrasi. (Foto: Puspen TNI)

Publika

Framing TNI dan Risiko Delegitimasi Institusi Negara

OLEH: NOOR AZHARI
MINGGU, 07 SEPTEMBER 2025 | 14:29 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

KERUSUHAN akhir Agustus 2025 masih menyisakan polemik. Tidak hanya soal eskalasi aksi massa yang berujung anarkis, tetapi juga tudingan yang dialamatkan kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pemberitaan Tempo melalui kanal YouTube berdurasi 40 menit 57 detik berjudul “Peran Tentara dan Pola Pelaku Kerusuhan Demonstrasi di Jakarta,..Bocor Alus Politik” menjadi sorotan publik.

Video itu menampilkan klaim bahwa TNI terlibat dalam kerusuhan. Narasi tersebut mengundang kritik karena bertolak belakang dengan fakta lapangan. Rekaman CCTV di Senayan hingga Slipi, serta dokumentasi jurnalis independen, justru memperlihatkan TNI membantu Polri mengevakuasi warga sipil, menjaga jalur vital menuju rumah sakit, dan mengamankan fasilitas umum dari perusakan.

Tuduhan Darurat Militer Tidak Realistis



Isu bahwa TNI mendorong darurat militer juga mengemuka. Secara hukum, pemberlakuan darurat militer diatur dalam UU No. 23 Tahun 1959, dengan prosedur panjang yang melibatkan Presiden, DPR, hingga pertimbangan hukum internasional. Menyebut TNI sengaja menciptakan instabilitas demi kepentingan ini jelas tidak realistis.

Lebih jauh, Presiden saat ini berlatar belakang TNI. Sulit membayangkan skenario di mana TNI justru melemahkan pemerintah yang dipimpin oleh mantan perwira tinggi mereka sendiri. Narasi semacam ini tampak provokatif ketimbang analisis yang faktual.

Di mana Independensi Media?

Situasi semakin panas ketika beredar video pendek 2 menit 30 detik di TikTok dan WhatsApp. Video tersebut menyebut PT Info Media Digital, anak perusahaan Tempo, menerima pendanaan dari Media Development Investment Fund (MDIF) pada Juli 2024.

MDIF memang dikenal sebagai lembaga internasional yang mendukung media di banyak negara. Namun, dalam sejumlah kasus, pola pendanaan semacam ini diperdebatkan karena berpotensi membuka ruang agenda eksternal. 

Pertanyaan pun muncul, apakah framing Tempo terhadap TNI lahir dari independensi redaksi, atau ada pengaruh eksternal yang mendorong narasi delegitimasi institusi pertahanan Indonesia?

Pelajaran dari Runtuhnya Rezim Saddam Hussein di Irak


Untuk memahami risiko delegitimasi melalui media, menarik membandingkannya dengan kasus penggulingan Saddam Hussein di Irak (2002-2003).

Pertama, operasi informasi. Amerika Serikat dan sekutu membangun narasi global tentang senjata pemusnah massal (Weapons of Mass Destruction). Meski belakangan terbukti tidak ada, isu itu sudah cukup untuk menggeser opini publik dunia.

Kedua, simbolisasi kekuasaan. Saddam membangun kultus individu lewat patung dan mural. Namun, saat rezim jatuh, simbol-simbol itulah yang pertama kali dihancurkan. Runtuhnya patung Saddam di Baghdad (9 April 2003) menjadi tanda visual tumbangnya kekuasaan.

Ketiga, fragmentasi internal. Kelompok Kurdi dan Syiah dimanfaatkan untuk melemahkan basis dukungan Saddam. Strategi divide et impera membuat rezim semakin terisolasi.
Keempat, intervensi moralitas. Invasi 2003 diberi nama Operation Iraqi Freedom. Narasi “pembebasan rakyat Irak” dipadukan dengan propaganda media, sehingga intervensi asing tampak sah di mata publik.

Teori Konspirasi dan Pola Hancurnya Negara Dunia Ketiga
Dalam kajian hubungan internasional, ada teori konspirasi yang menyebut bahwa negara dunia ketiga kerap dijadikan “laboratorium geopolitik” oleh kekuatan besar. 

Pola yang berulang dapat diamati bahwa delegitimasi institusi negara melalui media dan LSM internasional, membangun citra oposisi sebagai “pahlawan reformasi”, memanfaatkan konflik horizontal, hingga intervensi ekonomi-politik lewat lembaga donor yang mendukung media atau kelompok sipil. 

Semua ini diakhiri dengan penghancuran simbol-simbol negara, entah berupa patung, monumen, atau bahkan reputasi institusi keamanan.

Contoh paling jelas terlihat di Irak, Libya (jatuhnya Muammar Gaddafi dengan simbol video penangkapannya), dan Suriah yang terus dilanda perang informasi. Jika pola ini diterapkan ke Indonesia, maka framing terhadap TNI bisa dipandang bukan sekadar kritik media, tetapi bagian dari upaya sistematis melemahkan simbol pertahanan negara. 

Dalam konteks geopolitik, Indonesia yang kaya sumber daya dan strategis secara maritim tentu menjadi sasaran empuk bagi kepentingan asing.

Refleksi Negara Demokrasi


Kebebasan pers merupakan fondasi demokrasi, namun ia tidak boleh dipakai untuk melemahkan institusi negara. Pelajaran dari Irak, Libya, hingga Suriah menunjukkan bahwa negara dunia ketiga kerap dijatuhkan lewat pola delegitimasi, fragmentasi, hingga simbolisasi kehancuran.
Indonesia harus waspada. 

TNI bukan sekadar alat pertahanan, melainkan simbol kedaulatan. Publik dituntut lebih kritis agar tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan, apalagi jika narasi itu ternyata bagian dari pola konspirasi global yang ingin menggerus kedaulatan negara di tengah persaingan geopolitik dunia.

Penulis adalah Direktur Merah Putih Stratejik Institut (MPSI). 


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Koops TNI Papua Gelar Baksos di Panti Asuhan Santa Susana Mimika

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:09

Mahfud MD Usul Fraksi DPR Dibikin Dua Blok

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:00

Wakapolri Ingin Setiap Kebijakan Polri Bisa Dipertanggungjawabkan secara Ilmiah

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:33

Jimly Asshiddiqie Usul Masa Jabatan KPU seperti MK

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:20

Iran Menolak Tunduk kepada Trump

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:09

Inilah 11 Pimpinan Baru Baznas

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:40

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:25

Setara Institute Catat 221 Pelanggaran KBB Sepanjang 2025

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:15

Operasional TPST Bantargebang Ditargetkan Pulih dalam Sepekan

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:01

Pramono-Rano Berhasil Tuntaskan PR Pemimpin Terdahulu

Selasa, 10 Maret 2026 | 23:29

Selengkapnya