Berita

Suasana demonstrasi anarkis di sekitar Gedung DPR, Jakarta pada Kamis, 28 Agustus 2025. (Foto: RMOL/Bonfilio Mahendra)

Publika

Faktor Pemicu Kerusuhan Sosial

OLEH: AZA EL MUNADIYAN S.Si, MM*
MINGGU, 07 SEPTEMBER 2025 | 06:20 WIB

SEBUAH bom yang telah lama aktif namun belum ditarik pemantiknya, akhirnya meledak setelah Affan Kurniawan terlindas mobil rantis Brimob Polri. Aksi rusuh kemudian mengguncang berbagai kota besar di Indonesia pada Agustus 2025. Aksi rusuh yang menyebar dengan cepat, menggerakan banyak orang seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah, ada masalah yang selama ini terpendam yang kemudian meledak ketika ada pemantiknya. 

Pemantik kerusuhan sosial ini sebenarnya bukan sekadar ekspresi kemarahan spontan, melainkan akumulasi tekanan ekonomi, ketidakadilan sosial, dan kebuntuan kebijakan publik selama satu dekade terakhir. Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan yang melebar, pengangguran yang tinggi, dan pendekatan keamanan yang represif menjadi tiga faktor kunci yang memperkuat risiko kerusuhan. 

Ketimpangan Pendapatan


Laporan Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) mencatat Gini Ratio nasional sebesar 0,375. Sekilas tampak membaik dibanding tahun sebelumnya, namun penurunan ini menyembunyikan fakta bahwa jurang sosial melebar di tingkat provinsi. Gini rasio DKI Jakarta mencapai 0,441, DI Yogyakarta provinsi penuh dengan romantisme ternyata gini rasio mencapai 0,426 dan Tanah Sunda yang katanya dibuat ketika Tuhan tersenyum memiliki tingkat ketimpangan 0,416. Fenomena ini mengonfirmasi hipotesis Kuznets (1955) yang menjelaskan bahwa awal mula periode pembangunan ekonomi sering memicu kenaikan ketimpangan sebelum kemudian stabil Ketika Pembangunan telah berlangsung lama. 

Namun, persoalan Indonesia ternyata berbeda, titik keseimbangan itu tak kunjung tiba setelah sekian lama. Ekonomi tumbuh, tetapi hasilnya menumpuk di pusat-pusat kota dan hanya dinikmati segelintir kelompok elite. Urbanisasi cepat tanpa pemerataan kesempatan kerja memperkuat kesenjangan sosial dan memicu rasa ketidakadilan di masyarakat.

Pengangguran dan Rapuhnya Pasar Tenaga Kerja


Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2025 mencapai 6,47 persen, setara 9,2 juta jiwa. Angka ini semakin mencemaskan, 59,4 persen pekerja berada di sektor informal dengan pendapatan rendah, tanpa jaminan sosial, dan rawan eksploitasi. 

Fenomena ini sesuai dengan Dual Labor Market Theory (Doeringer & Piore, 1971) yang memisahkan pasar tenaga kerja menjadi dua yaitu sektor formal yang stabil dan sektor informal yang rapuh. Lebih buruk lagi, pengangguran jangka panjang memunculkan efek hysteresis (Blanchard & Summers, 1986) kondisi di mana keterampilan tenaga kerja menurun, produktivitas melemah, dan masyarakat semakin sulit keluar dari jebakan kemiskinan. 

Ketimpangan dan pengangguran inilah menjadi bahan bakar ketegangan sosial yang semakin sulit dikendalikan.

Represi Aparat Pemantik Kerusuhan


Masalah lain yang jarang dibicarakan secara serius adalah krisis kepercayaan publik terhadap aparat keamanan. Laporan KontraS (2025) mencatat 66 kasus kekerasan aparat sepanjang tahun, termasuk penembakan dan penangkapan sewenang-wenang. Penelitian penulis dengan menganalisis variabel pengaruh ketimpangan pendapatan (Gini Ratio), tingkat pengangguran terbuka (TPT), dan kekerasan aparat terhadap eskalasi aksi anarkis dengan memanfaatkan data panel provinsi Indonesia periode 2015-2025 menggunakan metode analisis model regresi Fixed Effects OLS dan model Poisson untuk mengestimasi hubungan variabel independen terhadap jumlah kerusuhan, serta pendekatan Machine Learning Random Forest untuk memprediksi hotspot risiko pada 2025. 

Hasil estimasi menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan (beta = 7,3898; p < 0,10) dan tingkat pengangguran (beta = 0,2404; p<0,10) berpengaruh positif terhadap eskalasi kerusuhan. Variabel kekerasan aparat juga terbukti memperburuk tingkat eskalasi sesuai prediksi State Repression Theory. Analisis Random Forest mengidentifikasi 10 provinsi dengan tingkat risiko tertinggi, didominasi wilayah metropolitan dengan ketimpangan dan pengangguran tinggi. 

Jawa Timur provinsi dengan potensi kerusuhan tertinggi sebesar 10.49 memiliki nilai Gini Rasio 0,395, TPT 8, 53 dan kekerasan kepolisian 0,88. DKI Jakarta menyusul dengan potensi kerusuhan 6,38 memiliki Gini Rasio 0, 436, TPT 6,77 dan tindakan kekerasan aparat mencapai 1.44. Kedua provinsi memiliki pola serupa yaitu urbanisasi tinggi, ketimpangan tinggi, dan tekanan ekonomi masif. Ketiga faktor ini kemudian meningkat potensi kerusuhannya seiring dengan peningkatan kasus kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Delapan provinsi lain yang memiliki potensi kerusuhan tinggi yaitu Banten, Sulawesi Selatan, Papua Barat, Kalimantan Utara, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah dan, Sumatera Utara memiliki pola yang hamper sama dengan beberapa keunikan.

Hasil penelitian ini memperkuat hipotesis Kuznets (1955) tentang hubungan pertumbuhan dan ketimpangan, serta mendukung temuan Hassan et al. (2020) mengenai kontribusi ketimpangan ekonomi terhadap kerusuhan sosial di negara berkembang. 

Temuan ini memberikan implikasi kebijakan penting bagi pemerintah mengenai perlunya program pemerataan ekonomi berbasis wilayah, pengurangan pengangguran melalui sektor formal, serta reformasi tata kelola aparat untuk menekan tindakan represif. Menggabungkan pendekatan ekonometrika dan pembelajaran mesin, penelitian ini menghadirkan model prediksi risiko yang dapat digunakan pemerintah sebagai sistem peringatan dini guna mencegah eskalasi konflik sosial di masa mendatang.

*Penulis adalah Dosen STIM Budi Bakti 

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

Pergantian Panglima TNI, Kapolri, dan Jaksa Agung Jadi Ujian Kekuatan Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 18:10

UPDATE

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

RUU Perampasan Aset Diusulkan Ganti Nama, Berikut Nomenklaturnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:07

Purbaya Sudah Cairkan Rp20,5 Triliun ke 490 Pemda buat Gaji PPPK

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:52

Koperasi Jadi Kunci Hilirisasi Sawit dan Penguatan Daya Tawar Petani

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:50

Songs for Sumatera-Human Initiative Pulihkan Fasilitas MIN 4 Aceh Tamiang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:38

Subsidi Pertalite Bocor, Kelompok Kaya Masih Nikmati Kucuran Negara

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:32

Pengacara Gus Yaqut Bongkar Duduk Persoalan Pembagian Kuota Haji Tambahan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:16

Usai Bertemu Purbaya, Bahlil Bakal Perketat Orang Kaya yang Pakai Pertalite

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:58

12 Saksi Diperiksa, Sekretaris Kepala BGN Ikut Terseret Kasus MBG

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:46

Rudy Tanoe Irit Bicara soal Korupsi Penyaluran Bansos Usai Diperiksa KPK 4,5 Jam

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:42

Selengkapnya