Berita

Seorang pemukim di kota tua Hebron, Tepi Barat yang diduduki Israel, 3 September 2025. (Foto: Reuters)

Dunia

UEA Ingatkan Israel Aneksasi Tepi Barat Rusak Normalisasi Hubungan

RABU, 03 SEPTEMBER 2025 | 19:02 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Uni Emirat Arab (UEA) menyampaikan peringatan keras kepada Israel terkait rencana aneksasi di Tepi Barat. 

Abu Dhabi menegaskan langkah tersebut berpotensi merusak semangat Perjanjian Abraham yang selama ini menjadi dasar normalisasi hubungan kedua negara.

“Sejak awal, kami memandang perjanjian ini sebagai cara untuk memungkinkan dukungan berkelanjutan kami bagi rakyat Palestina dan aspirasi sah mereka untuk sebuah negara merdeka," kata Asisten Menteri Urusan Politik sekaligus Utusan Menteri Luar Negeri UEA, Lana Nusseibeh, dikutip Reuters, Rabu 3 September 2025.


"Itulah posisi kami pada tahun 2020, dan tetap menjadi posisi kami hingga saat ini,” sambungnya.

Pernyataan itu disebut sebagai kritik paling tegas UEA terhadap kebijakan Israel sejak pecahnya perang Gaza pada 2023.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Israel dari kelompok sayap kanan, Bezalel Smotrich, mengumumkan dimulainya pembangunan permukiman baru di Tepi Barat yang akan memutus akses dengan Yerusalem Timur. Rencana tersebut, menurut kantornya, bertujuan “mengubur” gagasan negara Palestina.

Langkah itu langsung menuai kecaman dari pemerintah Palestina, negara sekutu, hingga kelompok internasional. Mereka menyebut proyek itu ilegal dan bakal menggagalkan setiap upaya perdamaian di kawasan.

“Kami menyerukan kepada pemerintah Israel untuk menangguhkan rencana-rencana ini. Ekstremis, apa pun bentuknya, tidak boleh dibiarkan mendikte arah perkembangan kawasan ini. Perdamaian membutuhkan keberanian, kegigihan, dan penolakan untuk membiarkan kekerasan menentukan pilihan kita,” tegas Nusseibeh.

Sebagaimana diketahui, Perjanjian Abraham ditandatangani pada masa kepresidenan Donald Trump, yang membuka jalan normalisasi hubungan diplomatik Israel dengan UEA, Bahrain, dan Maroko. 

Trump bahkan berharap Arab Saudi turut ikut dalam perjaninan tersebut, namun perang Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina membuat langkah itu  sulit terwujud.

Hingga kini, pihak kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan komentar atas pernyataan UEA.




Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya